Jeruk merupakan salah satu jenis buah yang sangat populer sebagai sumber vitamin C, yang memiliki cita rasa, aroma dan kesegaran yang merupakan buah kegemaran keluarga. Jeruk dapat dikonsumsi dalam bentuk buah segar maupun olahan yang dibuat jus dan konsentrat. Umumnya di Indonesia, jeruk dikenal oleh masyarakat dalam kelompok Jeruk keprok, Jeruk Siem, Jeruk Manis, Jeruk Besar, dan Jeruk lainnya. Pada umumnya konsumsi buah jeruk per kapita per tahun yang masih rendah yaitu 1,2 kg/tahun (berdasarkaan data Susenas) maka kebutuhan jeruk masih perlu ditingkatkan. Peningkatan konsumsi jeruk oleh masyarakat ini, juga tergantung dari pasokan atau ketersediaan jeruk di masyarakat. Selama ini, investasi dalam pengembangan jeruk masih relatif kecil, hal ini terlihat belum banyaknya investor yang menanamkan modalnya di bidang agribisnis jeruk. Demikian juga kebun-kebun jeruk rakyat yang masih relatif sedikit dibandingkan dengan potensi wilayah yang ada di Indonesia yang sesuai dengan agroklimat jeruk.Tanaman jeruk merupakan tanaman yang dapat ditanam sebagai tanaman di pekarangan dan di tegalan/kebun, baik di lahan kering, lahan sawah, maupun lahan pasang surut. Proses produksi benih jeruk di Indonesia telah dikembangkan dan sudah diberlakukan secara nasional, namun kenyataan di lapang menunjukkan bahwa masih sering dijumpai benih jeruk yang dihasilkan kualitasnya sangat jelek karena memproduksinya asal-asalan tidak mengikuti kaidah perbenihan nasional. Sehingga sistim produksi benih jeruk bebas penyakit yang sudah dibangun selama ini belum banyak diadopsi sepenuhnya oleh penangkar jeruk. Salah satu contoh sentra perbenihan jeruk di Bangkinang, Kampar Riau, Banyuwangi dan Purworejo telah mampu memproduksi benih jeruk dengan baik akan tetapi tidak semuanya berlabel biru, hal ini menunjukkan bahwa masih banyak penangkar benih jeruk liar karena tidak mengikuti kaidah proses produksi jeruk bebas penyakit. Kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat benih jeruk yang tidak berlabel dan telah beredar di Indonesia berpotensi menularkan penyakit. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produksi benih jeruk tidak berlabel adalah adanya keterbatasan ketersediaan mata tempel pada induk Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) ditingkat penangkar. Keberhasilan pengembangan tanaman hortikultura (Tanaman Jeruk) harus didukung oleh tersedianya benih yang bermutu dan dapat mencukupi untuk pengembangan di suatu wilayah. Benih jeruk bebas penyakit adalah benih yang bebas dari patogen sistemik tertentu, sama seperti induknya. Balitjestro melalui kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) telah mendistribusikan pohon induk klas BPMT yang tersebar ke 29 propinsi di Indonesia sejak tahun 2015. Benih jeruk bebas penyakit harus memenuhi tiga kriteria yaitu (1) True to tip; sama dengan induknya; (2) Bebas penyakit sistemik (CVPD, CTV, CVEV, CPsV, dan CEVd); dan (3) Memenuhi proses regulasi perbenihan yang telah ditetapkan oleh kementan. Selanjutnya untuk mengenal benih jeruk bebas penyakit yang digunakan untuk pengembangan usaha kebun jeruk harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:• Memilih kultivar benih jeruk yang sesuai dengan agroklimat;• Benih yang kita peroleh dari mata tempelnya diambil dari benih sumber kelas benih pokok Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) yang dipelihara dalam rumah kasa bebas serangga (Insect prof). • Proses Produksi benih harus megnikuti peraturan / regulasi benih yang ditetapkan oleh Direktorat Perbenihan yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih (BPSB) yang ada di setiap Provinsi.• Benih didapat dari penangkar yang telah terdaftar dan diijinkan melaksanakan produksi benih jeruk bebas penyakit oleh BPSB Provinsi.• Bibit yang klonal diketahui asal-asal usulnya dari pohon induk yang baik;• Bibit yang seragam dalam hal ukuran, vigor, kesehatan, dan genetisnya;• Bibit yang bebas dari tujuh penyakit sistemik, yaitu CVPD, Tristeza, Psorosis, Exocortis, Vein Enation, Tatter Leaf ,dan Xyloporosis;• Bibit yang akan diusahakan tingginya sudah mencapai 80-100 cm dengan sistem perakaran yang menyebar, sehat pertumbuhannya, vigor, batangnya kokoh dengan permukaan kulit yang halus mulus, berwarna kecoklatan, dan tidak bertotol-totol keputihan atau keabu-abuan;• Bibit yang berlabel/bersertifikat dari BPSB untuk menjamin kebenaran kualitas;• Batang bawah yang dianjurkan yaitu YC dan RL atau bisa digunakan Troyer, Carrizo, Volkameriana dan Citru melo yang tahan terhadap penyakit triteza (CTV)..Ditulis ulang oleh : Dalmadi BBP2TP BogorSumber : Balitbangtang dan Berbagai sumber media elektronik (Internet)Gambar : Cv.Mitra Bibit