Kemiri Sunan (Aleurites trisperma blanco) merupakan tumbuhan asli dari Philipina, namun saat ini banyak tumbuh secara alami di Jawa Barat (Duke, 1983). Kemiri Sunan banyak dijumpai di Bandung, Sumedang, Majalengka, Garut dan Cirebon. Ditanam pertama di Indonesia tahun 1927 Kondisi iklim yang optimal untuk pertumbuhannya adalah pada suhu 18,7–26,2oC, pH 5,4–7,1. Dapat hidup pada ketinggian rendah sampai menengah, di Jawa Barat ditemukan hidup pada ketinggian lebih dari 1000 meter (Hyne, 1987). Berbeda dengan tumbuhan penghasil minyak lainnya, Kemiri Sunan berpeluang besar untuk dikembangkan karena beberapa keunggulan yang dipunyainya. Habitus tanaman berupa pohon berukuran sedang, mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan dan mampu tumbuh di lahan kering iklim basah, dari dataran rendah hingga 800 m di atas permukaan laut, tingkat curah hujan 1000-2500 mm/tahun, perakarannya yang kuat dan dalam mampu bertahan pada lahan berlereng sehingga dapat menahan erosi. Pohon ini memiliki tinggi 10-15 meter dan berjenis kayu keras, tidak cocok untuk bahan pangan karena mengandung racun . Hampir bisa dikatakan tanaman ini belum dibudidayakan secara intensif.Krisis energi yang melanda dunia telah membangunkan kesadaran banyak negara untuk memikirkan jalan keluar dalam mengatasi berkurangnya sumber energi yang semakin lama semakin berkurang akibat eksploitasi dan konsumsi yang semakin meningkat. Harga BBM mengalami fluktuasi yang cukup tajam sejak awal tahun 1970an. Untuk mengatasi hal tersebut banyak negara mencari alternatif lain dalam pencairan sumber energi yang sangat vital dan dibutuhkan tersebut.Sehubungan dengan masalah diatas, maka harus ada pilihan yang mampu mengatasi kedua masalah tersebut, yaitu mengatasai lahan kritissekaligusmenghijaukankembalisertadapatmenghasilkanenergi yang baru. Pemilihan jenis tanaman tersebut harus merupakan titik temu antara kedua kepentingan tersebut, mempunyai nilai ekonomis sehingga layak diproduksi sekaligus aktifitasnya mempunyai peran dalam pengembangan lingkungan dan menggerakkan ekonomi kerakyatan yang bisa mengentaskan kemiskinan masyarakat. Saat ini pengembangan penanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan jarak kepyar (Ricinus communis L.) sudah banyak dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia, namun pemanfaatannya masih belum dapat mengatasi permasalahan krisis bahan bakar minyak. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati memiliki beberapa jenis tumbuhan penghasil sumber energi pengganti BBM yang salah satunya adalah tanaman Kemiri Sunan.Kemiri sunan sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN). Potensi terbesar dari tanaman Kemiri Sunan ada pada buah yang terdiri dari biji dan cangkang (kulit). Pada biji terdapat inti biji dan kulit biji. Inti biji inilah yang nantinya dapat diproses menjadi minyak kemiri sunan dan digunakan sebagai sumber energi alternatif pengganti solar (biodiesel) melalui proses lebih lanjut. Inti dari buah mampu menghasilkan minyak sebesar 56 % (Vassen & Umali, 2001). Untuk mendapatkan minyak, inti biji harus diperah terlebih dahulu. Hasil dari perahan ini berupa minyak berwujud cairan bening berwarna kuning dan bungkil. Komposisi minyak terdiri dari asam palmitic 10 %, asam stearic 9 %, asam oleic 12 %, asam linoleic 19 % dan asam ?-elaeostearic 51 %. Asam ?-elaeostearic menjelaskan adanya kandungan racun pada minyak. Minyak Kemiri Sunan hasil perahan tersebut kemudian diproses lebih lanjut menjadi biodieselDari pertanaman Kemiri Sunan setiap 1 ha bisa diperoleh 10 ton minyak kasar/tahun. Hasil ini jauh lebih tinggi dari kelapa sawit yakni sekitar 6 ton/ha/tahun minyak kasar. Tentu hasil ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan jarak pagar. Hal ini dimungkinkan karena rendemen dari biji kemiri sunan bisa mencapai 50 persen. Dari minyak kasar bisa diperoleh 88 persen bio-diesel dan 12 persen Gliserol. Sehingga dapat disimpulkan kemiri sunan relatif cukup efisien sebagai bahan baku bahan bakar nabati. Penggunaan biodisel Kemiri Sunan daya tarik air pada mesin statis selama 3 jam, sedangkan jarak pagar hanya satu setengah jam dan solar 1 jam. Efisiensi panas pembakaran minyak cukup tinggi yakni 48-52 persen hampir mendekati efisiensi kompor elpiji 56 persen. Disamping itu minyak kasar kemiri sunan bisa digunakan untuk memproduksi sabun, briket, pupuk organik, biopestisida, cat, resin, pelumas, kampas, dll. Produksi buah kemiri sunan bisa mencapai 50 – 289 kg/pohon/tahun. Tanaman mulai berbuah sejak umur 5 tahunTanaman Kemiri Sunan sebagai sumber bahan baku bio-diesel kemiri sunan juga cocok digunakan sebagai tanaman konservasi. Hal ini didukung dengan daunnya yang lebat, lebih dari 80.000 helai/ phn. Sehingga mampu mengikat CO2 dalam jumlah besar untuk kemudian menghasilkan O2. Tanaman Kemiri Sunan juga memiliki perakaran yang kuat dan dalam. Dalam 4 tahun panjang akar bisa mencapai 4 meter. Cocok ditanam di tanah kritis. Masa produktivitas Kemiri Sunan juga panjang, sampai 75 tahun. Bahkan, peneliti Badan Litbang Pertanian memperkirakan bisa sampai 100 tahun. Tanaman ini berbuah tidak mengenal musim. Ini sungguh investasi yang menjanjikan, karena kita cukup menanam satu kali dan hasilnya bisa dipanen sepanjang masa. Adanya kandungan zat racun yang terdapat pada hampir seluruh bagian tumbuhan ini sangat menguntungkan karena jarang terserang hama maupun diganggu oleh ternak. Dukungan Litbang Pertanian dalam Pengembangan Kemiri Sunan dengan menyediakan bibit sekitar 15.000 bibit kemiri sunan varitas unggul yang telah siap ditanam untuk luasan 100 ha. Diharapkan dapat ditanam di lahan bekas tambang sesuai dengan program kementerian ESDM Di Indonesia terdapat lahan-lahan kritis yang luasnya mencapai 59,2 juta hektar, sangat berpeluang untuk pengembangan Kemiri Sunan. Pengembangan Kemiri Sunan untuk reboisasi areal bekas hutan, tambang, maupun pada tanah marjinal lainnya disamping dapat memperbaiki struktur tanah, juga dapat membuka lapangan kerja dan sentra-sentra agorindustri baru, meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah sehingga pada akhirnya dapat mengentaskan kemisikinan. Walaupun Kemiri Sunan merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai sifat-sifat yang sangat khas dan istimewa, namun hingga saat ini upaya budidayanya belum mendapat perhatian yang sungguh- sungguh baik dari pemerintah, pengusaha maupun oleh masyarakat / pihak-pihak yang terkait. Kendala lain tanaman Kemiri sunan puncak berbuahnya pada umur sebelas tahun dengan produktivitas biji 50- 300 kg/ph/thn (sesuai umur). Sehingga memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil namun demikian dapat ditanaman tanaman sela diantara tanaman Kemiri Sunan . Sepertinya petani akan bersemangat menanam apabila pemasarannya sudah jelas. Keunggulan lainnya dari tanaman kemiri sunan adalah tingkat produktifitas dan rendemen minyak kasar yang tinggi, tidak bersaing dengan kebutuhan untuk pangan, biji dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu produk samping (byproduct) yang berupa kulit buah (husk), cangkang (Shell) dan bungkil (Cake) dapat diproses menjadi pupuk organik dan biogas (ISICRI, 2010). Namun potensi tersebut belum banyak diketahui dan dimanfaatkan sehingga perlu waktu untuk mensosialisasikan dan perlunya kesinkronisasian dari para pengambil kebijakan pembangunan pertanian. Ditulis kembali oleh: Nanik Anggoro P, SP, MSi ( Penyuluh BBP2TP)Sumber: Apa itu kemiri sunan oleh Ratima Sianipar, SP , BPTP Jawa Barat// https://jabar.litbang.pertanian.go.id ,