Loading...

Mengenal Petani Millenial Di Kelurahan Selisun Kecamatan Nunukan Selatan

Mengenal Petani Millenial Di Kelurahan Selisun Kecamatan Nunukan Selatan
Menjadi petani bagi sebagian orang bukanlah pilihan yang menjanjikan, namun hal ini tidak berlaku bagi petani yang satu ini, Ardiansyah salah satu petani yang tergolong petani muda dengan umur 35 tahun yang lebih kita kenal dengan julukan Petani Millenial. Ardiansyah adalah salah satu pemuda yang sangat menikmati profesinya sebagai petani, sebagai anak yang terlahir dari keluarga petani tidak serta merta membuka pikiran untuk menjadi petani, memilih meninggalkan kampung halaman merantau sebagai pilihannnya yang ternyata tidak begitu menjanjikan, berpendidikan hanya sampai Sekolah menegah pertama dan bekerja sebagai buruh tani di perkebunan kelapa sawit ternyata tidak begitu menjanjikan. Bergabung di Kelompok Tani Hikma Membangun di Kelurahan Selisun Kecamatan Nunukan Selatan. Motivasi utama adalah dengan konsisten di sector petani lebih meyakinkan selain itu menjadi petani kita dapat menggali potensi yang ada pada diri sendiri, lebih percaya diri untuk memanajemen waktu, waktu bisa diatur sendiri. Pilihan menjadi petani Millenial mulai di geluti pada tahun 2015, tanaman yang di usahakan saat ini adalah tanaman Tomat dan Cabe. Luas lahan yang di kelola adalah 0,5 Ha, dimana lahan ini di bagi menjadi dua untuk membudidayakan tanaman Tomat dan cabe, jumlah tanaman Tomat yang biasa ditanam yaitu sekitar 1500 pohon dengan produktifitas sekitar 2 ton selama musim panen dan 2000 pohon tanaman cabe dengan produktifitas sekitar 600 - 750 kg selama musim tanam. Menurut Ardiansyah tanaman Hortikultura sangat menjanjikan karena ini adalah kebutuhan konsumsi sehari hari sehinggah peluang pasarnya sangat menjanjikan. Selain itu harga juga lebih stabil jika di bandingkan dengan produk yg lain. Harga rata rata buah tomat di pasar sekitar 8 ribu – 15 ribu / kg, kisaran harga harga terendah adalah Rp. 8000/kg jika dibandingkan dengan produk lain maka menurut Ardiansyah ini masih menguntungkan, sedangkan Cabe yang notabene merupakan produk yang sangat phenomenal dimana harga cabe merupakan isu yang mampu mempengaruhi produk pertanian yang lain. Salah satu hal yang sangat di syukuri oleh Ardiansyah sejak terjun menjadi petani, beliau bisa membangun Rumah sendiri dari hasil pertanian, dan inilah yang sangat diharapkan dari hasil bertanih yaitu dapat meningkatkan kesejahteraannya bersama keluarga. Selain itu bergabung ke kelompok Tani Ardiansyah juga banyak mengakses Ilmu dari komunitas petani Cabe dan Tomat di seluruh Indonesia, memanfaatkan media social dan informasi teknologi sangat menguntungkan dalam mengembangkan ilmu, minat dan bakat. Selain itu keberadaan Penyuluh juga sangat membantu Petani, terutama dalam uapaya peningkatan produksi tanaman dan pemasan serta jaringan Mitra Usaha. Penulis : Arsirahmawati R. / PPL Kab. Nunukan