Masalah yang dihadapi oleh petani jeruk keprok di desa padangan kec ngantru adalah rendahnya mutu buah. Kondisi ini disebabkan oleh fluktuasi ekstrim kadar air, suhu, kelembaban tanah, dan serapan hara. Banyak buah yang pecah, kulit buah kurang mulus akibat serangan penyakit burik kusam, rasa buah beragam, warna buah tidak menarik dan sebagainya. Fenomena rendahnya mutu buah selain disebabkan oleh cuaca dan penyakit tanaman juga karena usaha untuk menjaga kesuburan tanah belum dilakukan secara maksimal dan belum seseuai kebutuhan tanaman. Aspek yang mempengaruhi kualitas buah jeruk adalah (1). aspek biologi: genetik, varietas, batang bawah; (2). fisiologi: respirasi, etilena, transp, komposisi; (3). aspek prapanen, iklim, budidaya, panen; (3). lingkungan: suhu, kelembaban, atmosfir; dan (4). penanganan lapangan,packing house operation. Pemberian pupuk kandang dalam meningkatkan Al-dd dan menurunkan pH tanah. Hal ini disebabkan karena bahan organik dari pupuk kandang dapat menetralisir sumber kemasaman tanah. Pupuk kandang juga akan menyumbangkan sejumlah hara ke dalam tanah seperti N, P, K (Djafaruddin, 1970). Kualitas buah jeruk berkorelasi dengan status hara Ca dalam hal kandungan vitamin C dan nisbah kadar Total Padatan Terlarut (TPT)/asam. Korelasi antara kualitas buah dengan status hara/sifat kimia tanah menunjukkan perlunya perbaikan kesuburan tanah, misalnya dengan pemberian pupuk organik dan pemupukan berimbang untuk memperbaiki kualitas buah disamping produktivitasnya. percobaan lapang dilakukan untuk menguji paket teknologi perbaikan mutu buah jeruk keprok khususnya yang terkait dengan pecah buah, diameter buah, kadar air. dimulai pada saat minimal 50% bunga di kebun jeruk sudah mekar yang berlangsung pada akhir bulan mei 2019. Fruit set berlangsung sekitar empat Minggu Setelah Bunga Mekar (MSBM), selanjutnya tumbuh dan mengalami pertumbuhan cepat menuju ke kondisi masak fisiologis. buah mulai pecah pada minggu ke-18 SBM. Kekurangan air pada parit kebun yang tidak digenangi terutama pada musim kemarau, juga dapat menghambat penyerapan hara oleh tanaman. Budidaya jeruk di lahan kering sering mengalami cekaman kekeringan pada musim kemarau sehingga harus dibarengi dengan teknik pengairan yang sesuai, agar tanaman tumbuh ideal dengan produksi maksimum dan kualitas buahnya baik. Tanaman jeruk pada iklim tropis, setelah periode kemarau turun hujan atau dilakukan pengairan akan merangsang pembungaan. Kondisi ini memicu pecah buah pada lahan yang paritnya tidak digenangi. yang menyatakan bahwa fluktuasi suhu tanah, kelembaban air dan serapan hara diyakini memicu terjadinya pecah buah. Selain itu berdasarkan pengalaman petani pemberian pupuk organik dan mulsa mampu mengurangi terjadinya pecah buah. Hal ini dibuktikan dengan jumlah pecah buah pada perlakuan pupuk anorganik + pupuk organic + mulsa lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan pupuk anorganik. Pupuk organik selain memperbaiki struktur dan meningkatkan kadar humus dalam tanah, pupuk organik juga dapat menjaga kelembaban tanah. Dengan adanya pupuk organik, tanah akan memiliki tata udara yang lebih baik dan daya ikat terhadap air yang lebih besar. Tata udara yang baik dengan kandungan air yang cukup menyebabkan suhu tanah lebih stabil dan kelembaban tanah lebih terjaga. Mulsa juga diperlukan untuk mengurangi penguapan air tanah pada musim kemarau agar kadar air tanah tidak cepat berkurang yang dapat memicu berkurangnya kelembaban tanah dan peningkatan suhu tanah. Oleh karena itu, mulsa dapat mengurangi fluktuasi kadar air, kelembaban dan suhu tanah ketika terjadi hujan setelah mengalami kemarau panjang. Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan Pengelolaan air dan pemupukan berpengaruh terhadap perbaikan mutu buah jeruk keprok khususnya untuk menekan persentase buah pecah dan peningkatan kadar gula serta kadar asam dalam buah. PENULIS : WIRAWAN RUBI PERMANA,SP Daftar pustaka Djafaruddin. 1970. Pupuk dan pemupukan. Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang. 70 hlm.