Kentang (Solanum tuberosum L.) dikonsumsi umbinya sebagai sayuran dan mempunyai sifat mudah rusak (perishable), maka harus dijaga mutunya agar aman dikonsumsi. Jika tidak, dalam waktu cepat akan mengalami kerusakan secara fisik, mekanis, mikrobiologis dan fisiologis. Menjaga mutu kentang harus dimulai dari kegiatan panen yang baik dan benar. Mutu kentang hanya dapat dipertahankan, tidak dapat diperbaiki. Berikut cara mempertahankan mutu kentang pada saat panen. Petani harus mengetahui ciri-ciri secara fisik tanaman kentang yang sudah dapat dipanen , antara lain: 1) Daun dan batang yang sebelumnya berwarna hijau segar berubah menjadi kekuningan dan mengering, tetapi bukan terserang hama dan penyakit. Kondisi ini kentang belum bisa dipanen, karena kulit umbi masih tipis dan gampang lecet. 2) Setelah terlihat tanda-tanda tersebut, tanaman kentang dibiarkan sampai bagian atas tanaman menjadi kering semuanya atau sekitar 7-15 hari sejak tanaman mulai mengering sampai seluruh bagian atas mengering. Di wilayah tertentu, setelah semua bagian atas tanaman mengering, langsung tanaman dicabut, namun umbinya tetap dibiarkan saja berada dalam tanah. Bekas tanaman ini ditutupi tanah lagi agar tidak terkena sinar matahari. Kalau umbi sampai terkena sinar matahari, sementara proses penuaan umbi masih berlangsung akan mengakibatkan umbi berwarna hijau. Dalam keadaan seperti ini umbi tidak laku dijual, alasannya warna hijau menandakan adanya racun solanin, sehingga dapat merugikan petani.3) Setelah lima hari pencabutan bagian atas tanaman yang mengering tersebut, umbi kentang dapat diambil atau dipanen dengan ciri kulit umbi kentang lekat sekali dengan daging dan tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari. Selanjutnya, cara panen kentang yang baik dan benar sebagai berkut: Waktu panen kentang dianjurkan pada pagi atau sore hari dan cuaca cerah serta tidak hujan, jika hujan dapat menyebabkan kentang mudah busuk. Cara memanen kentang yang baik, dengan mencangkul di sekitar umbi kentang, lalu umbi diangkat dengan hati-hati menggunakan garpu tanah atau cangkul, agar umbi tidak terlukai. Setelah semuanya terambil, umbi-umbi itu dibiarkan saja merata di lahan untuk diangin-anginkan dan terkena matahari langsung sehingga kulit umbi menjadi kering, sehingga kondisi umbi tidak lembab. Umbi yang sehat diangkut ke tempat teduh, sedangkan umbi yang sakit dimusnahkan. Panen kentang dikatakan berhasil baik, jika hasil panen umbi yang baik (sehat tidak terkena hama dan penyakit, permukaannya rata, kulit mulus tidak lecet) mencapai 90 - 95 %. Namun, kadang tidak tercapai hanya 70%, bahkan yang ditanam di dataran rendah dan ditanam saat curah hujan tinggi mengalami penyusutan hasil panen sampai 50%, karena kelembaban tanahnya tinggi. Tanaman kentang dapat dipanen pada umur antara 90 – 180 hari, tetapi waktu yang tepat untuk panen tergantung varietas yang ditanam, jenis kentang berbeda-beda umur panennya. Petani harus mengamati secara berkala/rutin untuk mengetahui tanaman kentang sudah dapat dipanen atau belum. Uraian di atas, mudah-mudahan bermanfaat bagi Penyuluh Pertanian sebagai bahan materi penyuluhan kepada petani kentang dan selanjutnya petani mampu menerapkannya. Produk kentang bermutu baik cepat laku dijual dan dapat bersaing di pasaran, dan akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani. (Susilo Astuti H. – Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Standar Operasional Prosedur Budidaya Kentang/ Varietas Granola (Solanum tuberosum L). Kabupaten Badung Provinsi Jawa Barat, Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Obat. 2015.2. Ika Rochdjatun S. Tanaman Kentang dan Pengendalian Hama Penyakitnya. Malang: Universitas Brawijaya, Cetakan Pertama. 2011.3. Dari berbagai sumber.