Loading...

MENJARING INFORMASI MELALUI SARASEHAN PESAMUAN SUBAK ABIAN

MENJARING INFORMASI MELALUI SARASEHAN PESAMUAN SUBAK ABIAN
Untuk mensukseskan pembangunan di sektor pertanian terdapat tiga sasaran utama yang perlu dicapai yaitu meningkatkan ketahanan pangan nasional yang meliputi meningkatnya kapasitas produksi komoditas pertanian dan berkurangnya ketergantungan terhadap pangan import, meningkatnya nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan petani yang meliputi meningkatnya produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian dan menurunya kemiskinan. Untuk mengimplementasikan sasaran pembangunan tersebut sangat diperlukan untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat petani maupun diluar pertanian. Bentuk ajakan yang sekaligus dapat meningkatkan kemampuan masyarakat tersebut diantaranya melalui mimbar sarasehan. Mimbar sarasehan merupakan forum konsultasi antara kelompok andalan dengan pemerintah yang diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan untuk membicarakan, memusyawarahkan dan mencari kespakatan mengenai hal-hal yang menyangkut masalah-masalah pelaksanaan program pemerintah dan kegiatan petani dalam rangka pembangunan pertanian, dengan tujuan untuk memahami keadaan dan masalah yang dihadapi pembangunan pertanian di lapangan, mencari kesepakatan bersama tentang pemecahan masalah beserta penyusunan rencana kegiatan yang mencakup usaha tani dan kehidupan petani serta keluarganya. Disamping itu untuk meningkatkan peran dan peran serta petani sebagai subyek pembangunan, serta mewujudkan hubungan timbal balik yang serasi antara kontak tani dan pemerintah dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan pertanian untuk memperbaiki perencanaan dimasa yang akan datang. Mimbar sarasehan yang difasilitasi oleh Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Tabanan, pada tahun 2013 ini dilaksanakan beberapa kali, mulai dari sarasehan Sabantara, Sarasehan Pesamuan Subak Abian dan Sarasehan KTNA Kabupaten Tabanan. Sebagaimana diketahui organisasi petani yang terkenal di Bali disebut "Subak", yaitu organisasi petani yang berada pada lahan sawah atau lahan basah. Sedangkan organisasi petani yang berada pada lahan kering disebut dengan "Subak Abian", namun kedua-duanya mempunyai filosopi yang sama yaitu "Tri Hita Karana", yaitu tiga hubungan yang harmonis dalam kehidupan dan pengelolaan sumber daya alam yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Masing-masing subak maupun subak abian ini mempunyai suatu perkumpulan atau semacam asosiasi yang disebut " Sabantara" untuk subak sawah dan "Pesamuan Subak Abian" untuk subak pada lahan kering. Organisasi ini mempunyai peranan penting dalam menyuarakan kepentingan organisasinya dan merupakan mitra kerja para penyuluh di lapangan dalam setiap menjalankan program-program apapun yang berkaitan dengan pertanian, begitu juga sebagai mitra pemerintah dalam memberikan koreksi, masukan-masukan maupun kritik dan saran terhadap penyelenggaraan pembangunan di Kabupaten Tabanan. Dalam pengarahan Ketua Pesamuan Subak Abian, tujuan penyelenggaraan Sarasehan Pesamuan Subak Abian ini adalah untuk menjaring informasi yang berkaitan dengan masalah-masalah dilapangan khususnya dalam bidang perkebunan. Disamping itu melalui mimbar sarasehan ini diharapkan bisa memberikan masukan-masukan dalam upaya untuk meningkatkan pelaksanaan kegiatan usaha tani khususnya dalam bidang perkebunan. Ada tiga hal pokok dari hasil diskusi selama mimbar sarasehan berlangsung yang menjadi permasalahan utama dalam menunjang pembangunan pertanian dalam upaya mendukung sasaran pembangunan nasional khususnya di Kabupaten Tabanan, yaitu makin berkurangnya volume debit air, yang secara umum akan berpengaruh pada pengembangan usahatani padi, yang mengakibatkan berubahnya pola tanam dari padi menjadi palawija, yang tentu akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi beras. Hal yang kedua adalah adanya alih fungsi lahan yang secara langsung akan berpengaruh pada upaya peningkatan produksi padi sebagai akibat semakin menyempitnya lahan sawah, terputusnya saluran irigasi dan beralihnya tenaga kerja ke sektor non pertanian. Sedangkan masalah yang ketiga adalah kurangnya minat generasi muda untuk berkecimpung dalam bidang pertanian, karena secara ekonomis dirasakan usaha tani kurang begitu ekonomis, jika dibandingkan bekerja pada sektor lainnya. Kondisi seperti ini tentu menjadi kekhwatiran bagi masyarakat Tabanan, sehingga berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan adanya perubahan tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut narasumber yang berasal dari berbagai SKPD yang terkait, seperti Dinas Pendapatan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Hutbun, Badan Pelaksana Penyuluhan dan Bapeda, mengarahkan bahwa hal-hal tersebut bisa diminimalisir dengan adanya kebersamaan dalam kepedulian untuk menjaga alam Kabupaten Tabanan ini. Disampaikan juga bahwa organisasi subak abian yang secara formal telah memiliki aturan-aturan yang mengikat para anggotanya, agar dipertahankan dan dilaksanakan serta senantiasa disempurnakan dengan menambahkan aturan-aturan yang dapat menekan terjadinya alih fungsi lahan ( Made Widiada, BP4K Kabupaten Tabanan Bali).