Pisang merupakan salah satu komoditas yang memiliki berbagai keunggulan dibandingkan komoditas lainnya, antara lain pisang dapat diusahakan pada berbagai agroekosistem yang tersebar diseluruh Indonesia, pasar membutuhkan pasokan pisang cukup besar dan produksinya tersedia sepanjang tahun. Pisang juga memiliki bermacam varitas dengan berbagai ragam penggunaan sebagai buah segar maupun olahan, usahatani pisang mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dalam waktu yang relatif singkat. Kandungan gizi yang terdapat dalam setiap 100 gram buah pisang terdiri dari kalori 99 kalori, protein 1,2 gr, lemak 0,2 gr, karbohidrat 38,2 gr, serat 0,7 gr, kalsium 8 mg, posfor 28 mg, besi 0,5 mg, vitamin A 44 IU, vitamin B 0,08 mg, vitamin C 3 mg dan air 72 gr. Buah pisang banyak dijumpai di pasar modern, supermarket maupun pasar tradisional. Namun sering dijumpai buah pisang secara visual tidak menarik, seperti kulit yang kehitaman, terdapat bintik-bintik kecoklatan dan tergores. Hal ini disebabkan buah pisang termasuk bahan pangan yang mudah rusak akibat masih berlangsungnya proses respirasi walaupun buah tersebut sudah dipanen. Masih ditemukan juga dalam penanganan pascapanen pisang belum optimal karena terbatasnya fasilitas pencucian dan pemeraman. Tidak ada perlakuan khusus dalam penanganan pascapanen setelah petani memanen pisang. Perlakuan pascapanen hanya dilakukan oleh pedagang pengumpul ketika mengangkut hasil dari kebun ke pasar, meskipun masih sederhana. Kondisi demikian mengakibatkan nilai jual pisang jatuh dan berimbas pada rendahnya pendapatan petani. Untuk itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan dan menjaga mutu pisang sejak on farm sampai off farm. Salah satunya dengan penanganan pascapanen yang baik, seperti yamg diamanatkan dalam Permentan no. 44 tahun 2009 tentang Pedoman Penanganan Pascapanen Hasil Pertanian Asal Tanaman Yang Baik (Good Handling Practices – GHP). Tujuan penerapan GHP adalah agar buah dapat dipertahankan mutu, daya simpan dan menekan kehilangan hasil sehingga dapat meningkatkan daya saing pisang, terutama untuk pisang bertujuan ekspor. Petani/pisang sebetulnya sudah menerapkan penanganan pascapanen pisang, walaupun masih dilakukan secara sederhana. Penerapan GHP yang baik diharapkan akan membantu mengurangi kehilangan hasil, yang pada gilirannya dapat membantu keberhasilan agribisnis buah-buahan. Berikut ini adalah beberapa perlakuan mempertahankan kualitas buah pisang yang perlu mendapat perhatian. Panen yang akan dilakukan harus direncanakan dengan baik agar didapatkan buah hasil panen dengan mutu yang optimal, tingkat kehilangan hasil yang rendah dan biaya yang rendah, sesuai dengan standar pasar yang sudah direncanakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan panen, adalah : Kriteria berdasarkan standar Kebutuhan akan jenis dan standar mutu pisang tergantung pada permintaan pasar. Untuk mendapatkan pisang yang baik dibutuhkan pisang yang bermutu sejak on farm dan sampai off farm. Untuk itu dalam rantai penanganan pascapanen pisang, setiap tahapannya yang meliputi pengumpulan, penyisiran, sortasi, pembersihan, pengkelasan, pengemasan, pemeraman dan penyimpanan mempunyai standar, pedoman, kriteria, petunjuk teknis yang perlu diterapakan petani dalam penanganan pascapanen pisang. Hal ini berguna untuk mendapatkan buah yang bermutu, daya simpanannya dapat diperpanjang dan menekan kerusakan buah. Sarana yang dibutuhkan Untuk kegiatan panen biasa digunakan peralatan parang, bambu, alas (wadah pengumpulan), alat penyisir, keranjang dan sarana angkut ke tempat pengumpulan, seperti pikul/kendaraan bermotor untuk penanganan pascapanen dan komponen kelengkapannya. Untuk lokasi pertanaman pisang yang jaraknya jauh, sebaiknya sarana perlengkapan panen dipersiapkan dengan matang agar ketika sampai di lokasi, panen dapat dilakukan dengan lancar. Tenaga kerja Petani/pelaku usaha perlu mempertimbangkan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menangani panen, pengumpulan hingga penanganan pascapanen dalam suatu luasan areal tertentu. Tenaga kerja dibutuhkan, yaitu tenaga terampil yang mengerti teknik pemotongan pisang dari pohon. Untuk tenaga kerja menangani kegiatan sortasi dan pengkelasan, dibutuhkan tenaga kerja yang berpengalaman karena pada tahap ini tenaga kerja dituntut cermat dan terampil dalam menilai buah yang baik dan sesuai standar yang dibutuhkan pasar. Biaya Dalam mata rantai panen dan penanganan pascapanen pisang hingga pisang tersebut laku terjual di pasar, terlebih dahulu perlu dilakukan analisis ekonomi secara sederhana. Petani perlu mempertimbangkan semua biaya yang timbul selama panen dan penanganan pascapanen, misalnya biaya tenaga kerja, pengumpulan, pencucian pengangkutan hingga pengemasan, maupun sarana pendukung yang diperlukan. Kemudian menaksir pendapatan yang kemungkinan diterima dari hasil penjualan pisang tersebut, sehingga petani dapat mendapatkan angka kasar keuntungan/kerugian. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk menghindari kerugian yang mungkin dapat di alami petani dari bisnis usahataninya. Sumardi Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura, 2018