Loading...

Model – Model Pertanian Terpadu

Model – Model Pertanian Terpadu
Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi alternatif bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan & konservasi lingkungan serta pengembangan desa secara terpadu. Berikut ini beberapa model pertanian terpadu yang dapat dijadikan acuan dalam merancang penerapan Sistem Pertanian Terpadu yang sesuai dengan potensi wilayah :1. Model pertanian terpadu pada lahan sawahModel pertanian terpadu pada lahan sawah dapat dilakukan dengan melakukan kombinasi tanaman dengan ternak dan ikan. Salah satu contohnya adalah Budidaya terpadu antara padi, ikan, dan itik lebih dikenal dengan istilah populer "PAKANITIK" atau "PARLABEK". Pemeliharaan itik dilakukan pada sawah minapadi (ikan-padi) dengan cara itik dilepas di sawah minapadi atau dapat pula dikandangkan di sekitar sawah.Keuntungan langsung yang dapat diperoleh dengan model ini adalah : Produksi padi sistim parlabek relatif tidak menurun hasilnya dibandingkan dengan sistem usahatani padi saja, ikan dan telur itik merupakan nilai tambah bagi pendapatan petani, selain itu kesejahteraan dan pendapatan petani meningkat. Sedangkan Keuntungan tidak langsung yang aka diperoleh antara lain : penyerapan tenaga kerja meningkat sepanjang musim padi dan setelah musim padi, sehingga dapat mengurangi pengangguran; protein hewani tersedia sepanjang musim bagi masyarakat pedesaan; terjadi daur ulang yang saling menguntungkan, yaitu itik dan ikan dapat menekan populasi gulma dan hama (pengendalian hayati); kotoran ikan dan itik menjadi pupuk padi; itik dan ikan berfungsi sebagai pabrik untuk meningkatkan nilai tambah dari gabah yang hilang pada saat panen. 2. Model pertanian terpadu pada lahan miringSelama ini pemanfaatan lahan miring dalam bentuk kebun dan sawah berundak diketahui memiliki resiko erosi dan tanah longsor yang tinggi. Sehingga banyak petani enggan memanfaatkan lahan miring untuk tanaman pangan, mereka hanya memanfaatkannya untuk tanaman keras.Di sisi lain, kebutuhan bahan pangan semakin tinggi, mengingat jumlah populasi penduduk yang terus meningkat saban harinya. Oleh karena itu ekstensifikasi lahan pertanian pangan menjadi salah satu pilihan yang tak bisa dihindari. Sehingga pemanfaatan lahan miring untuk kegiatan pertanian menjadi salah satu pilihan yang realistis ditengah keterbatasan lahan yang ada. Pada lahan marjinal dengan faktor kendala miring, model pertanian terpadu yang dapat diterapkan dapat memadukan berbagai komponen, seperti tanaman penutup dan ternak. Penghijauan lahan dengan menamam tanaman buah maupun tanaman industri, seperti pisang, jambu, kopi, cengkeh, vanili yang dapat dikombinasikan dengan lamtoro. Pengembangan peternakan sapi dengan sumber pakan yang berasal dari rumput yang ditanam; pengolahan biogas dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sehingga menjadi kawasan mandiri energi dan pengembangan pupuk organik yang berbahan baku dari hasi outlet biogas. 3. Model pertanian terpadu pada lahan konservasiPada lahan ini kita dapat mengkombinasikan tanaman yang berfungsi sebagai penutup lahan dan bernilai ekonomi tanpa menebang poho atau tanaman hutan dengan hasil bukan kayu seperti minyak kayu putih, tanaman untuk makanan ternak, pemeliharaan teknak ruminansia, pengolahan biiogas, pemanfaatan kotoran ternak untuk pipuk tanaman serta pemenfaatan tanaman tinggi untuk konservasi air (misalnua enau). 4. Model pertanian terpadu pada lahan rawan erosiPada pengembangan kawasan hutan yang mempunyai potensi erosi dapat dilakukan dengan pengembangan wanatani yakni pemanfaatan lahan hutan untuk lumbung pangan berupa tanaman umbi-umbian. Petani dapat mengambil rumput atau hijauan dari tumbuhan lain untuk pakan ternak. Untuk menghadapi musim kemarau, dilakukan pemprosesan rumput dengan fermentasi sehingga pakan dapat tersedia sepanjang waktu. Kotoran ternak dapat diproses menjadi biogas dan pupuk organik. Lahan dengan kendala erosi perlu dihindari budidaya tanaman dengan hasil panen berupa umbi-umbian. Untuk lahan yang rawan kekeringan dan atau banjir dapat dilakukan dengan konsep upland dan lowland. Prinsip penanganan kekeringan dan atau banjir pada prinsipnya dengan pengaturan air hujan sehingga tidak cepat turun ke lahan bawahan sebagai runoff. Usaha konservasi tanah dan air di kawasan atasan merupakan kunci dalam mengatasi kedua permasalahan, yaitu kekeringan dan atau banjir. Di samping itu, dengan pembuatan bangunan pada lahan mempunyai tingkat kemiringan tinggi dapat berfungsi dalam proses peresapan air di lahan atasan (upland). Hal ini dilakukan dengan meningkatkan resapan air di kawasan tangkapan air, sehingga air hujan tidak langsung turun ke lahan bawahan. Penanganan lahan marjinal dengan sistem surjan artinya tanaman yang dusahakan dalam satu petak ada beberapa atau lebih dari dua macam. Untuk daerah atasan yang lahannya cenderung kering dan kurang air salah satunya dengan menanam tanaman hortikultura dan palawija yang dikombinasikan dengan padi, sedangkan untuk irigasi pengairannya mengandalkan dari sumur kapiler. Daerah bawah yang mengalami kekeringan masih mendapatkan air irigasi secara bergiliran meskipun distribusinya tidak bisa selalu merata. Penanganan lahan banjir dengan perbaikan sistem drainase dan tutupan lahan yang dapat mengubah air limpasan menjadi air yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian. 5. Model pertanian terpadu pada lahan perkebunanPada lahan ini kita dapat memanfaakan pelepah, daun, limbah industri sawit untuk pakan ternak. Intergrasi tanaman kakao dan kopi dengan ternak sapi juga memiliki potensi yang baik untuk diterapkan. Inovasi teknologi pemanfaatan kulit buah kakao dan kopi sebagai sumber pangan sapi potong dan kotoran sapi pun dapat digunakan untuk pupuk. 6. Model pertanian terpadu pada lahan peekaranganLahan pekarangan dapat dikembangkan sebagai areal program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), baik di tingkat rumah tangga, komunitas, dusun/lingkungan, desa/kelurahan, kecamatan, maupun kota/kabupaten. Selain itu, lahan pekarangan yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai apotik hidup dengan menanami tanaman obat keluarga (TOGA) dan gizi hidup dengan menanam berbagai buah-buahan dan sayuran, juga dapat dikembangkan ke dalam bentuk pertanian terpadu. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk pemeliharaan berbagai komoditi secara bersama-sama atau kombinasi, tidak hanya akan memberikan hasil nyata berupa pangan, pakan, serat, kayu, bahan bakar, pupuk hijau dan/atau pupuk kandang. Di lahan selanya kemudian dipelihara ternak kambing, ikan (kolam tanah untuk ikan lele, nila, patin, dan gurami), unggas (itik dan ayam), serta sebagian lahan ditanami tanaman pertanian (sayuran terung, cabai, rimbang, ubi kayu, dan lain-lain) dengan sistem surjan dan pot. (Nurlaily). Sumber :http://www.litbang.pertanian.go.id Pedoman Penerapan Sistem Pertanian Terpadu, Kementerian Pertanian, Badan Penyuuhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Pusat Penyuluhan Pertanian, 2018