Tudang sipulung sebagai wadah yang memediasi antara kepentingan masyarakat dengan pemerintah, secara bersama bermusyawarah untuk mufakat dalam mencari solusi atas persoalan yang tengah dihadapi masyarakat. Tudang Sipulung atau duduk bersama membahas berbagai persoalan. Salah satu yang sering dilaksanakan secara periodik adalah membahas rencana menyangkut perancangan awal sebelum turun ke sawah yang rutin dilakukan petani padi. Pelaksanaannya dilakukan berjenjang mulai dari tingkat Desa, Kecamatan hingga Kabupaten. Tudang Sipulung Salah satu budaya pertanian yang masih dilaksanakan dan dipelihara di Propinsi Sulawesi Selatan. “Tudang sipulung/appalili, cidokkokang”, merupakan kegiatan yang biasa dilaksanakan oleh masyakrat Sulawesi Selatan untuk perancangan awal sebelum turun ke sawah. Di Sulawesi Selatan sendiri kegiatan ini banyak dilaksanakan di Kabupaten Gowa, Takalar, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Enrekang. Tudang sipulung diikuti Seluruh petani atau perwakilan petani (kontak tani), Dulung dan Pallontara, yaitu orang-orang yang membaca dan mendalami masalah kuno masa lalu. orang Bugis Papananrang, yaitu orang-orang yang ahli perbintangan tradisional. Musyawarah dilakukan dengan maksud agar timbul kesepakatan bersama dalam mengolah, memelihara, dan memetik hasil pertanian. (masyarakat yang dituakan dan banyak tau masalah pertanian) pemerintah, penyuluh dan stakeholder lainnya duduk bersama guna menetapkan jadwal tanam yang tepat, jenis varietas yang akan digunakan, waktu tanam dan dosis pemupukan yang tepat. Tudang Sipulung juga dilakukan untuk merumuskan paket rekomendasi teknologi komoditas padi setiap musim tanam. Proses musyawarah untuk mencapai mufakat berlangsung secara demokratis dimana pimpinan Tudang Sipulung berkewajiban meminta pendapat kepada peserta tudang sipulung. Peserta yang dimintai pendapat berkewajiban mengemukakan pendapatnya walaupun pendapat yang diberikannya sama dengan peserta lain atau telah dikemukakan terlebih dahulu oleh peserta sebelumnya. Apabila seorang peserta tidak setuju atas suatu hal, maka ia harus mengungkapkan secara langsung dalam musyawarah tersebut, apa yang menjadi alasannya sehingga tidak setuju. Komunikasi yang terlihat pada tudang sipulung ini adalah interaksi baik secara verbal ataupun non verbal antara pemerintah dan masyarakat dengan suasana keakraban dan penuh kekeluargaan. Melalui Tudang Sipulung Komunikasi kelompok dapat berbagi informasi, pengalaman, pengetahuan dengan anggota kelompok dan bidang-bidang lainnya seperti peternakan, perkebunan, pengairan, dan sebagainya. Keputusan yang diambil dalam tudang sipulung harus berdasarkan prinsip mengalir bersama, yang artinya bahwa keputusan yang akan dicapai dalam musyawarah merupakan keputusan atas kehendak bersama dan untuk kepentingan bersama, yang diibaratkan bagaikan air yang mengalir bersama-sama. Antara kehendak penguasa (pemerintah ) dan kehendak rakyat harus berjalan beriringan dalam menemukan titik temu berdasarkan kepentingan bersama. Tudang sipulung pada ritus tradisional menyebabkan kearifan lokal semakin fleksibel mengakomodasi perubahan cara pandang dan kebutuhan komunitas. Selain itu, tudang sipulung juga bermanfaat meningkatkan partisipasi petani pada program pembangunan di tingkat lokal, Tradisi Tudang Sipulung bisa menjadi saluran/media komunikasi bagi setiap warga atau masyarakat desa yang ingin membicarakan kondisi wilayah atau usaha yang dijalankan di daerah tersebut. Dari tradisi ini pula, muncul informasi yang perlu disikapi sesuai dengan kondisi mereka yang berada diwilayah tersebut, terutama jaringan sosial lama yang masih diberlakukan dan bisa dimanfaatkan agar dipadukan dengan manajemen modern yang dikuatkan oleh birokrasi. Penulis : Amiruddin, SP., M.Agr Verf : -