Loading...

Mutu Beras Meningkatkan Nilai Tambah dalam Usaha Penggilingan Padi

Mutu Beras  Meningkatkan Nilai Tambah dalam Usaha Penggilingan Padi
Penggilingan padi yang berkembang saat ini dirancang dan dioperasikan dengan pendekatan sistem terpadu, teknologi penggilingan yang digunakan pada umumnya masih sederhana dengan konfigurasi mesin terdiri dari husker dan polisher saja dan sudah berumur tua, serta belum mempunyai jaringan pemasaran yang luas. Faktor ini turut mendorong pengglingan padi bekerja di bawah kapasitas terpasangnya. Pembangunan usaha tani padi yang telah mendapat prioritas pemerintah, masih terbatas pada pemenuhan pangan, belum secara optimal melakukan upaya pemanfaatan dan peningkatan nilai tambah dan pendapatan. Disisi lain kehilangan hasil panen padi masih terjadi, walaupun telah mengalami penurunan. Kementrian pertanian mentargetkan penurunan kehilangan hasil padi sebesar 1 – 1,5 % pertahun dan melakukan peninjauan metode pengukurannya setiap lima tahun sekali (Ditjen PHP, 2010). Besarnya tingkat kehilangan hasil pada saat panen dan pasca panen gabah/beras pada tahun 1996 sekitar 20,51 persen sementara pada tahun 2008 menurun menjadi 10,82 persen. Uraian di atas memberi gambaran bahwa perlu dilalukan upaya perbaikan kinerja penggilingan padi yang dapat meningkatkan panggunaan kapasitas terpasang, mengurangi biaya penggilingan, meningkatkan nilai tambah penggilingan yang memberi dampak positif pada usaha jasa penggilingan padi dan petani padi, serta memantapkan kelembagaan produksi bersama dengan pemasarannya. Khusus untuk untuk peningkatan nilai tambah dalam usaha penggilingan padi/industri beras, strategi yang dapat ditempuh adalah perbaikan mutu produk berupa beras, pemanfaatan hasil samping dan limbah.Standard Mutu Produk Produk utama yang dihasilkan dalam usaha penggilingan padi adalah beras. Standard mutu yang telah menjadi acuan saat ini adalah beras giling harus bebas dari hama dan bibit penyakit yang membahayakan, bahan kimia, dedak, dan bau yang tidak normal. Di dalam standard nasional (SNI 6128-2008), mutu beras dibagi atas lima tingkat. Dari ke lima tingkat mutu tersebut, kadar air maksimum yang diperbolehkan adalah 14 persen, derajat sosoh serendah-rendahnya 95 persen, maksimum butir patah 35 persen, menir 5 persen, benda asing (impurities) 0,2 persen dan butir gabah 2 persenSaa ini, usaha jasa penggilingan padi didominasi oleh penggilingan padi skala kecil yang pada umumnya tidak memilki peralatan yang lengkap. Sebagian besar penggilingan padi kecil hanya melakukan penyosohan satu pass sehingga sukar untuk dapat memenuhi persyaratan derajat sosoh dan beras patah. Peralatan pengglingan padi yang digunakan juga telah tua, 32 persen diantaranya berumur lebih dari 15 tahun, sehingga rendemen beras giling yang diperoleh juga rendah dibandingkan dengan kinerja maksimum yang dapat dicapai. Untuk meningkatkan mutu dan rendemen beras giling diperlukan inovasi teknolgi pengolahan beras yaitu perbaikan konfigurasi peralatan atau medernisasi pengglingan padi yang ada. Teknologi Pengolahan Beras TerpaduPengembangan teknologi pengolahan padi terpadu dimulai dengan memberdayakan teknologi yang sudah ada, yaitu teknologi pengolahan gabah kering giling menjadi beras sosoh melalui proses giling dua pass dan perlakuan pemolesan yang dikombinasikan dengan teknik pengkabutan (mist sprayer). Line penggilingan terdiri dari 1) dua unit mesin husker (mesin pemecah kulit); 2) dua mesin polisher (penyosoh) masing-masing tipe friksi dan abrasive model N-120; 3) satu unit pemoles (refiner).Proses penggilingan dua pass ditujukan untuk mendapatkan mutu beras giling yang memenuhi SNI, sedangkan teknologi pengkabut ditujukan untuk mendapatkan nilai tambah beras giling menjadi beras poles, seperti jenis beras kristal, yang tidak perlu pencucian saat akan tanak. Melalui teknologi pengolahan beras dan teknik pengkabutan akan dihasilkan minimal dua jenis beras, yaitu beras slip dan beras Kristal.Beras SlipPembuatan beras slip dilakukan dengan proses pemecah kulit gabah kering giling kadar air 14 persen (GKG). Pemecah kulit dilakukan dalam dua kali proses untuk mendapatkan beras pecah kulit yang utuh. Gabah yang tidak terkupas dipisahkan dengan alat pemisah (paddy separator) agar diperoleh beras pecah kulit murni. Selanjutnya beras pecah kulit ini di sosoh dengan menggunakan penyosoh abrasive dan friksi, menghasilkan beras slip.Beras slip hasil dari mesin penyosoh abrasive merupakan campuran antara beras kepala, beras pecah, dan menir. Mutu beras ini dapat ditingkatkan dengan cara memilahkan beras pecah dan menir dari beras kepala dengan menggunakan indented sieve drum grader atau TrieurBeras Kristal Beras Kristal adalah olahan lanjut dari beras yang dipoles dengan teknologi pengkabutan sehingga diperoleh nilai tambah lebih dari beras slip, yang mempunyai penampakan bersih dan cemerlang, dikenal juga dengan istilah beras mutiara. Beras hasil pengglingan konvensional pada umumnya mempunyai penampakan kusam dan berdebu karena pada permukaan endosperm masih terdapat sisa-sisa aleuron. Dengan menggunakan mesin pemoles khusus yang dilengkapi dengan mist sprayer, supaya sisa aleuron tersebut dapat dihilangkan. Pembuatan beras kristal dapat meningkatkan nilai tambah beras giling sekitar Rp 200 – Rp 400 per kg (Thahir, dkk, 2006) Sumber : Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian-Kementerian Pertanian Tahun 2015,Teknologi Pasca Panen Padi, dan sumber lainnyaGambar ; https://beraspandanwangicianjur.wordpress.com/Penulis : Marwati (Penyuluh, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP-KEMENTAN)