Pada tanaman jahe di indonesia ditemukan beberapa jenis nematoda parasit, seperti R. Similis, M. incognita, Rotylenchulus reniformis, scutellonema, spp., helicotylenchus dyhestera, Oitylenchus sp., dan M. incogita merupakan nematoda yang dominan karena populasi dan frekuensi keberadaannya pada tanaman jahe lebih tinggi dibandingakan dengan nematoda lainnya. Di Fiji, serangan R. Similis dapat menurunkan produksi jahe hingga 40%, sedangkan di Queensland, serangan M. incognita mengurangi produksi jahe sebesar 77% (Vilsonil et al 1978; koshy dan bridge 1990 diindonesia serangan nematoda pada jahe banyak di jumpai jawa barat, bengkulu, dan sumatra utara ( mustika 1992). Pengendalian nematoda pada tanaman jahe saat ini masih dilakukan dengan mengunakan nematisida kimia. Beberapa musuh alami seprti bakteri P. Penetrans jamur Arthrobotrys. Dactylella dan dactylaria juga efektif untuk mengurangi populasi nematoda pada akar dan rimpang jahe, terutama meloidogyne spp. (Nazarudin dan mustika 1996).Salah satu masalah penting dalam upaya meningkatkan produksi tembakau di indonesia adalah serangan kompleksi patogen bakteri pseudomanas solanacearum dan jamur phytophthora nicotianae yang bersosiasi dengan nematoda Meloidogyne spp. (dalmadiyo et al. 1998a) tanaman tembakau yang terserang penyakit kompleks tersebut, pada umur 30-45 hari mati. Kematian mencapai lebih dari 50%. Dalam upaya mengendalikan nematoda pada tanaman tembakau, dalmadiyo et al. (1998b) menemukan enam nomor aksesi yang tahan S. 2258/2/1/1, S. 1976/M. S. 1032 S. 1019,S. 1986/M dan S. 1012. Keenam eksesi tersebut sama tahannya dangen NC 2514, tetapi lebih tahan dibandingkan dengan NC 95 yang berasal dari amerika. Galur S 2258/2/1/1 merupakan garul terbaik karena selain tahan terhadap nematoda puru akar juga terhada P. Nicotianae (dalmadiyo et al. )1998b).Perlu diingat dan diperhatikan dalam usaha tani tanaman jahe dan tanaman tembakau bahwa untuk menghindari nematoda parasit salah satu yang dilakukan adalah kebersihan gulma sekitar tanaman jahe dan tanaman tembakau serta kebersihan lingkungan sekitar. Untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dari gulma perlu dilakukan secara periodik pelaksanaan kegiatan pembersihan gulma sekitar tanaman dan lingkungan. Tentu kebersihan gulma tersebut dapat dilakukan seminggu sekali atau dua minggu sekali tergantung dari kecepatan tumbuhnya gulma, pada umumnya tanaman gulma sebaiknya disiang atau dibersihkan dari tanaman jahe dan tembakau paling tidak dua minggu sekali pada masa pertumbuhan muda, tetapi pada masa usia tanaman produktif munkin hanya 3 – 4 minggu sekali dibersihkan.Selain itu untuk tanaman yang terserang penyakit terlihat dari tanaman jahe dan tembakau yang menguning atau layu sebaiknya segera dicabut dan di jauhkan dari tanaman yang sehat hal ini untuk menghindari terjangkitnya nematoda parasit pada tanamannya lainnya. Tetapi jangan dilupakan sebenarnya tanaman akan yang dikembangkan yaitu berupa bibit jahe dan tembakau haruslah berasal dari varietas yang unggul sehingga lebih tahan terhadap serangan nematoda parasit. Penggunaan kapur pertanian pada pengolahan tanah sangat membantu dari berjangkitnya nematoda parasit pada tanaman jahe dan tembakau. Pada umumnya tanaman jahe dan tanaman tembakau banyak terserang oleh nematoda parasit di daerah Bengkulu, Sumatera Utara dan Jawa Barat, oleh karena itu para petani yang berada di daerah tersebut di atas sebelum menanam tanaman jahe dan tembakau hendaklah memperhatikan persiapan pengolahan tanah, persiapan penyedian varietas tanaman yang unggul dan menjaga kebersihan tanaman dan lingkungan dari gulma, selain itu harus secara konsisten setiap hari memperhatikan tanaman yang terkena nematoda parasit sehingga jika ada tanaman yang terkena segera di cabut dan dijauhkan dari tanaman yang sehat.Apabila tanaman terkena nematoda parasit akan mengakibatkan penurunan produksi yang cukup besar yaitu antara 40% - 60%. Sumber : - Abdurachaman Adimihardja dkk, Pengembangan Inovasi Pertanian, 2010, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertania, Bogor