Loading...

OPTIMALISASI LAHAN MELALUI TUMPANGSARI JAGUNG DAN KEDELAI DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO

OPTIMALISASI LAHAN MELALUI TUMPANGSARI JAGUNG DAN KEDELAI DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO
Tumpangsari dilakukan sebagai terobosan pada wilayah yang secara nisbi mengalami pelandaian perluasan areal tanam. Pada umumnya suatu hamparan lahan digunakan untuk sistem monokultur, baik pada musim penghujan maupun musim kemarau tetapi dengan rekayasa sistem tanam berupa pola tumpang sari pada wilayah tertentu dapat mengoptimalkan penggunaan lahan dan air sehingga produktivitas lahan meningkat. Pola tumpangsari saat ini penting digunakan mengingat peningkatan hasil budidaya pertanian dengan cara memperluas lahan budidaya sekarang ini sulit dilakukan karena populasi penduduk yang terus meningkat dan lahan potensial yang terus berkurang akibat alih fungsi lahan.Tumpangsari dapat diterapkan pada semua jenis tanaman, namun lebih ditekankan pada tanaman pangan karena kebutuhan pangan yang terus meningkat. Sistem tumpangsari jagung-kedelai menggunakan cara tanam jajar legowo dapat diterapkan pada lahan sawah maupun lahan kering dengan tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan sumber air yang cukup. Mengingat maksud penanaman sistem logowo ini bukan semata untuk meningkatkan hasil, maka penerapannya diutamakan dan dikaitkan dengan upaya peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Dengan peningkatan IP maka hasil panen dapat meningkat dan pengelolaan lahan menjadi lebih produktif. Kombinasi tumpangsari jagung-kedelai dapat diterapkan menggunakan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 dimana dua baris tanaman dirapatkan jarak tanam antar barisnya, sehingga antara setiap dua baris tanaman terdapat ruang untuk pertanaman kedelai. Tingkat produktivitas jagung yang diperoleh pada pertanaman jajar legowo tidak berbeda bahkan cenderung lebih tinggi karena adanya pengaruh tanaman pinggir/border dibanding pertanaman baris tunggal atau tanam biasa. Ruang kosong pada baris legowo dapat ditanami 2 baris tanaman kedelai tanpa menurunkan produktivitas jagung sehingga terjadi peningkatan indeks penggunaan lahan dan pendapatan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelai yang ditanam di antara tanaman jagung akan diperoleh 50% dari hasil kedelai yang ditanam sistem monokultur. Penanaman tanaman kedelai sebagai tumpangsari pada tanaman jagung juga dapat memperbaiki kesuburan lahan karena adanya fiksasi N dibanding sistem monokultur jagung. Adapun cara budidaya tumpangsari jagung -kedelai adalah sebagai berikut: A. Cara Penanaman Jagung Penanaman jagung menggunakan pola tumpangsari jagung-kedelai dapat menggunakan varietas hibrida bertipe tegak seperti Bima-2, Bima-4, Pioner-21, Bisi-16 dan lain-lain. Jumlah benih yang dibutuhkan 15 – 17 kg/ha. Benih jagung yang ditanam sebaiknya mempunyai daya berkecambah >90% dan vigor benih yang baik dengan cara perhatikan masa kedaluwarsa benih. Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna, yaitu dengan cara penggemburan atau pencangkulan. Benih jagung ditanam 1 biji per lubang dengan sistem tanam legowo/double row, kemudian ditutup dengan pupuk organik sebanyak satu genggam menggunakan sistem jajar legowo adalah (100-50) cm x 20 cm atau (110-40) cm x 20 cm. Dosis pemupukan yang digunakan adalah sebagai berikut: - Lahan sawah menggunakan takaran 350 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian diberikan 2 kali, pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya/ha. Pemupukan kedua dilakukan pada 35-45 hst dengan takaran 250 kg urea/ha. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah. - Lahan kering menggunakan takaran 325 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian pupuk dapat dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pemupukan pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar. Pemupukan kedua pada umur 35-45 hst dengan takaran 20 kg urea + 100 kg phonska/pupuk majemuk lannya. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman di tutup dengan tanah. Penyiangan dan pembumbunan dapat dilakukan dengan cangkul, yaitu menimbun area perakaran tanaman jagung dengan tanah. Pembumbunan dilakukan segera setelah pemupukan dan penyiangan. Sedangkan panen dapat dilakukan apabila kelobot telah kering dan lapisan hitam pada pangkal biji telah terlihat. Sisa batang tanaman atau biomas dapat dijadikan kompos atau dapat digunakan sebagai mulsa diantara baris tanaman untuk pertanaman berikutnya. B. Cara menanam kedelai Penanaman kedelai menggunakan pola tumpangsari jagung-kedelai dapat menggunakan varietas kedelai yang toleran naungan, diantaranya Dena-1 atau Dena-2. Jumlah benih yang dibutuhkan sebanyak 15- 20 kg/ha. Benih kedelai dicampur dengan inokulan Rhizobium sp (nodulin, rhizogin dll) sebanyak 5 kg benih/10 gram, dengan cara benih dibasahi kemudian ditiriskan, inokulan ditaburkan dan diaduk merata hingga merekat. Benih yang telah diberikan inokulan sebaiknya dihindarkan dari paparan cahaya matahari langsung dan segera ditanam. Benih kedelai ditanam di antara barisan legowo pada tanaman jagung dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, sehingga terdapat dua barisan tanaman kedelai antara setiap barisan legowo jagung. Penanaman kedelai dapat bersamaan dengan penanaman jagung atau 1-7 hari setelah penanaman jagung. Dosis pupuk yang digunakan adalah 50 kg urea + 50 kg phonska/ha 7- 10 hst bersamaan dengan pemupukan pertama jagung apabila tanamnya bersamaan. Pemanenan kedelai di dilakukan sebelum polong pecah, yaitu saat polong berwarna coklat dan dilakukan lebih awal dari jagung. Biomas tanaman atau sisa-sisa batang tanaman kedelai dapat dijadikan kompos. Setelah kedelai habis dipanen, dibawah tanaman jagung bisa disusul dengan menanam kacang panjang atau buncis dengan memanfaatkan batang jagung sebagai lanjarannya. Dengan tumpangsari jagung dan kedelai diharapkan terjadi optimalisasi penggunaan lahan dan air disertai peningkatan pendapatan petani dan pencapaian swasembada pangan nasional. Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan) Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2019. Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Serealia 2019, Jakarta. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2018. Petunjuk Pelaksanaan Tumpang Sari 2018, Jakarta.