Seperti kita ketahui bahwa upaya peningkatan produksi pangan nasional selama ini masih bertumpu pada lahan sawah irigasi terutama di Pulau Jawa. Sementara lahan rawa pasang surut, rawa lebak, dan lahan suboptimal lainnya belum sepenuhnya dimanfaatkan. Oleh karena itu potensi lahan rawa perlu dioptimalkan untuk pengembangan pertanian.Di Indonesia potensi lahan rawa mencapai seluas 33,4 juta ha yang terdiri dari 20,1 juta ha lahan rawa pasang surut, rawa lebak 13,3 juta ha. Dari jumlah tersebut, seluas 9,3 juta ha diperkirakan sesuai untuk dikembaangkan sebagai kawasan budidaya pertanian. Namun, di balik potensi besar yang dimiliki lahan rawa, jumlah lahan yang sudah digarap masih sedikit, sampai ini baru sekitar 2,6 juta ha atau 15 persen lahan rawa yang digarap untuk tanaman pangan, holtikultura, dan perkebunan.Istilah lahan rawa di Indonesia dibagi menjadi dua pengertian, yaitu lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Rawa pasang surut adalah daerah rawa yang mendapat pengruh langsung ayunan pasang surut air laut atau sungai di sekitarnya. Sedangkan rawa lebak adalah daerah rawa yang mengalami genangan selama lebih dari 3 bulan, dengan tingkat genangan terendah antara 25-50 cm. Menurut jangkauan airnya lahan rawa pasang surut dapat dibedakan ke dalam 4 tipe luapan, yaitu 1) tipe A, lahan yang selalu terluapi air pasang, baik pasang besar maupun pasang kecil, 2) tipe B, lahan yang hanya terluapi air pasang besar, 3) tipe C, lahan yang tidak pernah terluapi walaupun pasang besar. Air pasang memengaruhi secara tidak langsung, kedalaman air tanah dari permukaan tanah kurang dari 50 cm, dan 4) tipe D, lahan yang tidak pernah terluapi air pasang dan air tanahnya lebih dalam dari 50 cm.Tantangan pengembangan lahan rawa memang tergolong besar mengingat kondisi lahan rawa tingkat kesuburan rendah, infrastruktur belum berfungsi optimal, indeks pertanaman dan panen masih rata-rata 1 kali setahun, serangan hama dan penyakit tanaman masih tinggi, dan tingkat pendidikan petani di kawasan rawa rata-rata rendah dan minim kreatifitas.Namun dengan rekayasa teknis dan sosial ekonomi yang tepat, pemanfaatan lahan rawa ke depan diyakini mampu mendorong peningkatan produksi pangan nasional karena peluang membuka lahan rawa sebagai lahan sawah baru masih terbuka luas.Permasalahan Kendala Pertanian di Lahan RawaDibalik potensi besar lahan rawa yang dimiliki Indonesia masih sedikit yang dimanfaatkan untuk budidaya pertanian. Salah satu penyebabnya adalah sulitnya pengelolaan. Lahan rawa memiliki kandungan air yang lebih banyak dan asam, dan terdapat lapisaan pirit. Jika lapisan ini tersingkap dan teroksidasi akan menghasilkan asam sulfat dengan pH 3 - 3,5 yang bisa menyebabkan tanaman mati (BBSDLP).Secara umum permasalahan yang terdapat pada lahan rawa untuk usahatani adalah bahan induk tanah yang miskin hara, bersuasana anaerob, bergambut tebal, berpirit, dan apabila dialih-fungsikan akan mengeluarkan senyawa yang dapat meracuni tanaman.Sampai saat ini lahan rawa belum spenuhnya dimanfaatkan untuk usahatani karena adanya berbagai masalah, diantanya adalah jaringan tata air yang belum optimal, tipologi lahan, khususnya terkait dengan kondisi tata air (tinggi dan lamanya genangan), serta hubungannya dengan pengelolaan air di lahan pertanaman. Tipologi lahan atau ketinggian genangan dan hidrotopografi lahan merupakan salah satu karakteristik yang memegang peranan penting dalam pengembangan pertanian di lahan rawa lebak.Pengelolaan Air Menjadi Kunci Optimalisasi Lahan RawaDibalik berbagai kendala dalam pengelolaan lahan rawa ada satu keunggulan utamanya adalah tersedia air sepanjang tahun. Jadi pada saat wilayah lain terjadi kemarau dan kekeringan, lahan rawa justru dapat berproduksi optimal dan panen raya. Pengelolaan air yang baik dan benar dapat menjadi solusi. Dengan kelola air yang baik ph air rawa yang asam tersebut bisa perlahan naik mendekati ph netral air. Di saat yang sama kalau airnya benar, pirit akan tetap terendam sedikit, artinya pirit menjadi reduktif atau tidak akan teroksidasi dan tidak akan menghasilkan asam sulfat.Pengelolaan air untuk lahan rawa memang diperlukan modal awal yang lebih besar yaitu untuk mengelola saluran sekunder, tersier, dan kuarter, bahkan saluran cacing dan pintu-pintu air. Tekonologi yang biasa dipakai di lahan rawa, harus dimodifikasi atau bahkan membuat teknologi baru yang spesifik yang baik dan sudah berkembang saat ini, yaitu cara pengelolaan air yang baik, penerapan pintu air dengan baik, serta cara penataan lahan, baik lahan sawah maupun lahan surjan.Prinsip dasar pengelolaan air di lahan rawa pasang surut adalah mempertahankan kecukupan air bagi tanaman. Selain itu juga menjaga dan melestarikan tanah agar tidak terganggu secara berlebihan (minimum disturbance), termasuk tersingkapnya pirit yang menjadi sumber kemasaman tanah dan air pada ekosistem rawa ini. Untuk pengembangan kegiatan pertanian di lahan rawa pasang surut, terdapat beberapa inovasi teknologi pengelolaan air yang bisa dimanfaatkan antara lain, Sistem Tata Air Satu Arah (STASA), Sistem Tabat Konservasi (STAKO), Sistem Surjan dan Tukungan, dan Sistem Drainase Dangkal. Teknologi ini sangat bermanfaat dalam pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut. Selain itu lahan rawa, khusus lahan pasang surut dapat didayagunakan dengan rekayasa sistem pengairan, yaitu dengan sistem kanalisasi (sistem tanggul), pembuatan polder dipadu dengan tata kelola air secara modern dengan mesin dalam jaringan irigasi tersier dan atau jaringan irigasi tingkat usaha tani (JITUT) dan perpompaan sehingga bisa mendongkrak indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua dan tiga kali (IP 200-300). Pompa digunakan untuk membuang air saat lahan kelebihan air dan memasukan air pada kanal yang berfungsi sebagai long storage saat musim kemarau dengan system pengelolaan kawasan yang efisien efektif (kluster) antara 100-200 Ha.Penggunaan Varietas Unggul Padi Toleran Lahan RawaUntuk mengoptimalkan lahan rawa perlu teknologi pengelolaan lahan yang tepat dan terpadu serta penggunaan varietas padi yang adaptif di lingkungan rawa.Balai Besar Penelitian Padi (Bbpadi) telah merakit dan merilis varietas inbrida padi rawa (Inpara) yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9. Sedangkan untuk padi sawah irigasi/tadah hujan yang juga ditanam varietas Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan. Varietas padi rawa unggul tersebut punya potensi untuk dikembangkan bahkan bisa ditiru di ekosistem lahan daerah lain. Varietas ini toleran dengan kondisi rawa yang asam, toleran terhadap perendaman, dan keracunan besi.Sistem Pertanian ModernMerubah paradigma cara bertani dari cara-cara tradisional menuju pertanian berbasis teknologi maju/moderen dan berkelanjutan adalah keharusan agar bertani lebih efektif dan efesien dan akan membantu meningkatkan produktivitas pangan.Untuk membangun kedaulatan pangan berbasis agribisnis kerakyatan dibutuhkan sumberdaya manusia yang andal, diperlukan pula alat dan mesin pertanian dalam rangka mempercepat pekerjaan, efektif, dan efesien. Dengan teknologi maju/modern pertanian tidak hanya dilakukan oleh orang tua saja, diharapkan para generasi muda akan terungkit minatnya untuk bertani dan mau terjun langsung untuk menggarap lahannya.Dengan begitu kita berharap di masa yang akan datang akan lebih banyak anak muda yang bercita-cita menjadi seorang petani. Menumbuhkan kembali minat pertanian yang sebenarnya sangat cocok di alam Indonesia.Ruslia AtamajaSumber : Badan Litbang Pertanianhttps://www.litbang.pertanian.go.id