Loading...

Orientasi Pengembangan Jagung Berbasis Kawasan di Lombok Timur, NTB

Orientasi Pengembangan Jagung Berbasis Kawasan di Lombok Timur, NTB
Dalam rangka mendukung Program Peningkatan Produksi Jagung di Sulawesi Selatan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPH-BUN) Provinsi Sulawesi Selatan melakukan kunjungan ke Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 7 sampai 9 April 2021. NTB merupakan salah satu provinsi sentra pengembangan jagung di Indonesia yang penting di masa mendatang. Saat ini NTB masih menempati urutan ke enam provinsi penghasil jagung terbesar di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Walaupun kontribusi produksi jagung NTB masih pada angka 3,5%, tetapi terjadi kecenderungan produksi terus meningkat 3-5% tiap tahunnya. Kondisi iklim, jenis tanah dan topografi sangat mendukung untuk pengembangan jagung, terbukti dari peningkatan produksi jagung di NTB yang signifikan lima tahun terakhir. Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB di sela sambutannya menyampaikan bahwa,”saat ini produksi jagung di NTB sudah melampaui capaian Gorontalo. Lebih lanjut beliau mengatakan, untuk meningkatkan produksi, sebaiknya jagung ditanam di lahan sawah. Program peningkatan produksi jagung ini didukung oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat melalui program 1 juta ton jagung. Selain itu, NTB juga mendapat bantuan Program Food Estate di daerah Labangka, Kab. Sumbawa untuk pengembangan Jagung dan Sapi. Rombongan DTPH-BUN Prov. Sulsel terdiri dari aparat, penyuluh provinsi, penyuluh BPP dan petani jagung meninjau langsung area pengembangan jagung di Desa Sekaroh, Kab. Lombok Timur. Desa Sekaroh sebelumnya merupakan daerah tertinggal dan saat ini mulai bangkit ekonomi warganya karena berusahatani jagung. Masyarakat di wilayah ini sudah bisa berusahatani tanpa modal. Segala kebutuhan mulai dari benih, pupuk dan pestisida disiapkan oleh Gapoktan, produksi jagung juga dibeli oleh Gapoktan yang bekerjasama dengan pabrik dengan harga cukup tinggi yakni Rp 4.200-Rp 4.300 per kg. Gapoktan memasarkan sendiri hasil jagungnya agar harga tidak dipermainkan tengkulak,”jelas Ketua Gapoktan Desa Sekaroh. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa saat ini luas lahan jagung di Desa Sekaroh kurang lebih 4 ribu hektar dengan produksi lebih dari 30.000 ton tiap kali panen. Varietas yang digunakan merupakan varietas hibrida yang jenis varietasnya diganti tiap musim tanam agar hasil tidak turun karena serangan OPT. NTB sebagai salah satu provinsi yang berkontribusi terhadap produksi jagung di Indonesia yang saat ini sedang digenjot produksinya melalui Kementerian Pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pakan dalam negeri serta mengurangi impor. Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, produktivitas jagung harus ditingkatkan sehingga Tahun 2021 produksinya meningkat dan tiap daerah mampu menghasilkan jagung secara mandiri. Dwi Arnir Wanayenti, SP Penyuluh Pertanian DTPHBUN Prov. Sulsel