Loading...

Padi Unggul Baru Tahan WBC

Padi Unggul Baru Tahan WBC
Hama wereng batang cokelat (WBC) telah mengancam produksi padi di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia yang selalu mengancam pada setiap musimnya. Tanpa pengendalian, hama yang berbahaya ini dapat menggagalkan panen padi dan menimbulkan kerugian bagi petani. Pengendalian dengan insektisida terbukti merusak lingkungan dan memicu ledakan serangan. Penyebab berkembangnya hama wereng cokelat antara lain perubahan biotipe dan penanaman varietas rentan dan poloa tanam yang tidak pernah memutus siklus hidup hama. Varietas unggul yang semula dinyatakan tahan hama wereng cokelat, beberapa musim kemudian berubah tingkat ketahanannya, sehingga perlu diganti dengan varietas unggul baru yang bereaksi tahan.Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas unggul baru padi tahan WBC, antara lain Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 34 Salin Agritan, dan Inpari 35 Salin Agritan.Inpari 18 mampu berproduksi hingga 9,5 t/ha dengan rata-rata 6,7 t/ha, umur genjah 102 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 18%. Selain tahan hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan agak tahan biotipe 3, Inpari 18 juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III dan agak tahan patotipe IV. Padi unggul ini cocok dikembangkan pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian tempat 0-600 m dari permukaan laut (dpl).Inpari 19 memiliki potensi hasil 9,5 t/ha dengan rata-rata 6,7 t/ha, umur genjah 104 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 18%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan agak tahan biotipe 3, padi unggul ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III dan agak tahan patotipe IV. Inpari 19 sesuai ditanam pada lahan sawah irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian lokasi pengembangan 0-600 m dpl.Inpari 31 berpotensi hasil 8,5 t/ha dengan rata-rata 6,0 t/ha, umur 112 hari, tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 21,1%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan 3, padi unggul baru ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III, tahan penyakit blas ras 033, dan tahan penyakit tungro ras Lanrang. Inpari 31 cocok dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 600 m dpl. Inpari 33 mampu berproduksi 9,8 t/ha dengan rata-rata 6,6 t/ha, umur 107 hari, tekstur nasi sedang dengan kadar amilosa 23,4%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, 2, dan 3, padi unggul baru ini juga tahan penyakit hawar daun bakteri protipe III, dan tahan penyakit blas ras 073. Inpari 33 sesuai dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 600 m dpl dan tidak dianjurkan ditanam pada lahan sawah endemik penyakit tungro.Inpari 34 Salin Agritan berumur genjah 102 hari dengan potensi hasil 8,1 t/ha, rata-rata 6,0 t/ha, tekstur nasi agak pera dengan kadar amilosa 22,8%. Tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1, varietas unggul baru ini juga tahan penyakit blas ras 033 dan 173, toleran salinitas, dan dapat dikembangkan pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian lokasi 500 m dpl.Inpari 35 Salin Agritan berpotensi hasil 8,3 t/ha, umur 106 hari, tekstur nasi agak pera dengan kadar amilosa 24%. Agak tahan terhadap wereng cokelat biotipe 1, padi unggul baru ini juga tahan penyakit blas ras 073, dan tidak dianjurkan ditanam pada lahan sawah endemik tungro.Pengendalian WBCWBC menyerang pada stadia (fase) nimfa dan imago, dan stadia berlangsung selama kurang lebih 30 hari sebelum masuk pada stadia imago. Imago betina WBC mampu bertelur hingga 600 butir telur.Ada beberapa strategi pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya :1. Cara Kultur Teknisa. Yaitu dengan menggunakan benih yang secara genetis tahan WBC;b. Pengaturan pola tanam agar tidak menanam padi secara terus menerus, untuk memutus siklus hidup hama;c. Melakukan monitoring secara rutin terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) dan melakukan tindakan antisipasi sedini mungkin;d. Pengendalian dengan insektisida sedini mungkin apa bila bentuk serangan sudah mencapai ambang batas ekonomi yaitu :• jika populasi WBC mencapai 5 ekor/rumpun pada tanaman berumur kurang dari 40 hari setelah tanam (hst);• populasi WBC mencapai 20 ekor/rumpun pada tanaman berumur lebih dari 40 hari hst.2. Cara sosial Politika. Pengawalan secara ketat oleh pemerintah bersama dinas terkait agar penyebarannya bisa diatasi sedini mungkin;b. Penanaman dilakukan secara serempak tanpa membatasi wilayah administrasi, hal ini dilakukan karena WBC dapat bermigrasi hingga 200 km dari titik serangan menuju ke areal tanaman padi yang masih muda (fase vegetatif).Ruslia AtmajaSumber : Badan Litbang Pertanian