Pola usaha terintegrasi antara usaha perkebunan kakao dan usaha ternak cukup memberikan dampak positif bagi petani di pedesaan khususnya petani perkebunan kakao rakyat. Pola tersebut memberikan peluang dalam pengembangan pola integrated farming system seperti crop livestock system, dimana kedua sektor usaha tersebut akan tercipta pola usaha yang sinergis yakni tercipta pola efisiensi usaha. Hal demikian sekaligus berdampak mampu memberikan nilai tambah pendapatan rumah tangga petani pedesaan.Integrasi kakao dan ternak merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menambah pendapatan petani. Integrasi tanaman kakao dengan ternak diharapkan akan mengurangi biaya produksi usahatani tanaman kakao maupun biaya usaha ternak karena tersedianya bahan pakan bagi ternak dan tersedianya sumber pupuk bagi tanaman kakao. Disamping menghasilkan produk utama berupa biji, kakao juga memiliki produk samping antara lain limbah yang memiliki nilai ekonomi sebagai pakan penguat (konsentrat) ternak yaitu kulit buah kakao. Disamping itu tanaman penaung kakao dan gulma yang tumbuh dibawahnya berpotensi pula sebagai penghasil hijauan pakan ternak (HPT). Hambatan utama petani ternak khususnya dalam peningkatan populasi ternak yaitu terbatasnya pakan. Perluasan areal untuk penanaman rumput sebagai pakan ruminansia sangat sulit, karena alih fungsi lahan yang sangat tinggi. Mengingat sempitnya lahan penggembalaan, maka usaha pemanfaatan sisa hasil (limbah) pertanian untuk pakan perlu dipadukan dengan bahan lain yang sampai saat ini belum biasa digunakan sebagai pakan. Limbah tanaman pangan dan perkebunan memiliki peran yang cukup penting dan berpotensi dalam penyediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau hijauan rumput terganggu pertumbuhannya, sehingga pakan hijauan yang tersedia kurang baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Ternak yang diusahakan di areal pertanaman akan menghasilkan kotoran (faeces dan urine) yang dapat diolah menjadi pupuk organik baik pupuk padat maupun cair dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman kakao.Dengan mengkombinasikan penggunaan pupuk padat (kompos) dan pupuk cair ( bio-urine) akan diperoleh keuntungan sebagai berikut : • Penggunaan kompos akan menghemat biaya pemupukan hingga 60%;• Biaya pengangkutan kompos akan berkurang; • Produktivitas tanaman tidak menurun, bahkan akan meningkat dibanding hanya dengan penggunaan kompos saja, apalagi kompos konvensional;• Terdapat sisa produk bio-uriene sehingga dapat dijual atau untuk tanaman lain. Pemanfaatan Limbah Kakao untuk PakanHijauan pakan ternak yang berasal dari pangkasan pohon penaung dapat langsung diberikan kepada ternak tanpa melalui pengolahan sebelumnya. Namun demikian pakan ternak yang berasal dari limbah kakao yang berupa buah kakao dan placenta harus dilakukan pengolahan. Pengolahan limbah sebelum diberikan pada ternak diperlukan karena dalam limbah terkandung senyawa-senyawa yang bisa mengganggu pencernaan hewan jika diberikan dalam dosis tinggi yaitu asam phitat dan teobromin. Dengan diolah, maka limbah kakao menjadi aman untuk ternak karena senyawa yang menghambat pertumbuhan ternak dapat dihilangkan, nilai gizi meningkat, dan dapat lebih lama disimpan. Cara pengolahan limbah buah kakao adalah dengan cara pencacahan, fermentasi, pengeringan dan penggilingan/penepungan.Pada ternak ruminansia (sapi, kambing, domba dan kerbau), limbah kakao bisa diberikan sebagai pakan tambahan (penguat) secara tunggal atau akan lebih baik bila dicampuri dengan bahan lain seperti dedak padi, bungkil kelapa, ubi kayu atau ubi talas. Sedangkan untuk ternak monogastrik ( ayam, itik) tepung limbah kakao harus dicampur bahan konsentrat lain untuk mencapai standar gizi yang diperlukan. Untuk ternak ruminansia jika diberikan sebagai konsentrat tunggal, dosisnya sekitar 0,8-1,0 % dari bobot hidup ternak. Untuk tahap awal pemberian pakan dilakukan secara bertahap, sebaiknya diberikan pada siang hari, dimana pada pagi hari dan sore hari biasanya HPT sehingga saat siang hari ternak merasa lapar . Pemanfaatan Limbah Ternak Untuk PupukPupuk organik padat atau kompos diproduksi dari limbah ternak padat yakni dari kotoran (faeces) sedangkan pupuk organik cair diproduksi dari limbah cair (urine) serta limbah padat yang dicairkan. Pupuk organik cair dapat dibuat dari urine (kencing) ternak, atau campuran kencing dan faeces ternak yang dicairkan. Perlunya penggunaan pupuk cair (bio-urine) dan bioculture antara lain: • Jika hanya menggunakan pupuk padat (kompos) maka kapasitas produksi kotoran ternak tidak akan mencukupi kebutuhan tanaman; • Untuk mengoptimalkan pola integrasi tanaman perkebunan dengan ternak dalam pemenuhan kebutuhan pupuk, disamping pemanfaatan limbah ternak padat, juga perlu pemanfaatan limbah cair (urine) serta dari limbah tanaman itu sendiri; • Penggunaan limbah cair dalam bentuk bio urine, akan mengurangi penggunaan kompos, sehingga disamping dapat memenuhi kebutuhan pupuk dari bahan local juga dapat menekan biaya tenaga kerja terutama untuk ongkos pegangkutan kompos; • Kombinasi penggunaan kompos dan pupuk cair dapat meningkatkan produktivitas dibandingkan penggunaan kompos saja, apalagi kompos konvensional. Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP) widjajantokukuh@yahoo.comTanggal : 3 Agustus 2017Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), JakartaFoto : Ditjenbun, Jakarta