Loading...

PAKAN TERNAK BERBAHAN BAKU LOKAL

PAKAN TERNAK BERBAHAN BAKU LOKAL
Pakan merupakan salah satu komponen penting dalam usaha peternakan. Bahkan, porsi terbesar dari biaya produksi peternakan berasal dari komponen pakan ini. Untuk itu, pakan harus dikelola dengan cermat dan dijaga ketersediaannya dari waktu ke waktu baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Pakan dapat diperoleh dari berbagai sumber. Salah satu diantaranya adalah dari sumber dalam negeri atau berbahan baku lokal. Penggunaan pakan berbahan baku lokal banyak keuntungannya. Disamping mudah didapat dan dapat diolah sendiri, pakan lokal juga tidak kalah kualitasnya dibanding dengan pakan impor. Selain itu, Indonesia memiliki sumber bahan baku pakan lokal yang cukup untuk menggantikan pakan impor. Diantara sumber bahan baku pakan lokal tersebut adalah dari berbagai ampas atau limbah dan lain-lain. Sebagai contoh, ampas yang berasal dari hasil ikutan pengolahan makanan, sangat potensial dijadikan sebagai pakan alternatif ternak. Beberapa diantaranya, ampas yang berasal dari nabati : minyak sawit, kecap, onggok, tahu, tempe, molasses dan orgami. Selain bahan lokal yang berasal dari nabati juga dapat memanfaatkan bahan lokal dari hewani yaitu siput air tawar dan keong emas yang sering dijumpai pada areal persawahan dan kolam ikan. Penggunaannya sebagai bahan pakan dapat dicampurkan dengan bahan tambahan pakan lainnya atau dapat juga diberikan secara langsung. Ampas Minyak Sawit. Minyak inti sawit merupakan minyak murni hasil ekstraksi biji sawit. Sedangkan sisa dari pembersihan/pemurnian tersebut diperoleh ampas minyak sawit yang berbentuk padat. Sejauh ini sudah banyak yang memanfaatkan hasil ikutan ini sebagai pakan ternak (sapi). Penggunaan minyak sawit (CPO) pada pakan dapat langsung dicampur pada pakan siap, sedangkan ampas minyak sawit dapat dicampurkan dengan bahan-bahan tambahan pakan lainnya. Sedangkan ampas minyak sawit sebagai bahan baku pakan ikan terlebih dahulu harus diproses menjadi tepung dengan nilai gizi yang terkandung di dalamnya protein 16,09%; lemak 5,39% dan abu 8,59%. Ampas Kecap. Ampas kecap merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan kecap yang berbahan dasar kedelai yang memiliki kandungan protein cukup tinggi. Untuk menjadi bahan baku pakan, ampas kecap harus diolah menjadi tepung dengan lebih dahulu dikeringkan dalam oven/dijemur. Nilai gizi yang terkandung adalah protein 10,32%;lemak 6,93%;air 52,98% dan abu 6,72%. Onggok. Onggok yang berasal dari ubi kayu merupakan hasil ikutan padat dari pengolahan tepung tapioka. Sebagai ampas pati singkong (ubi kayu) yang mengandung banyak karbohidrat, onggok dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, nilai gizi yang terkandung pada onggok adalah protein 3,6%; lemak 2,3%;air 20,31% dan abu 4,4%. Ampas Tahu. Ampas tahu merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan tahu. Untuk menjadi bahan baku pakan, ampas tahu dapat langsung diberikan pada ikan/ ternak dengan tambahan sedikit ikan asin, atau dapat juga diolah lebih dulu menjadi tepung dengan mengeringkannya dalam oven/dijemur lalu digiling. Nilai gizi yang terkandung adalah protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%. Ampas Tempe. Hasil ikutan pengolahan tempe yang berasal dari bahan baku kacang kedelai, baik berupa kupasan kulit ari kacang kedelai juga limbah cair berupa air rebusan dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ikan/ternak. Molases. Molases merupakan sisa hasil produksi pada industri pengolahan gula yang berbentuk cair. Molases sudah banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak, karena kandungan gizinya cukup baik. Orgami. Orgami merupakan hasil buangan pengolahan penyedap rasa. Setelah melalui proses penyaringan raw sugar (tetes tebu) dan molases sebagai bahan baku, dihasilkan gypsum. Selanjutnya melalui tahap koagulasi (penggumpalan) dihasilkan orgami sebagai hasil ikutan cair dan dielet humus sebagai hasil ikutan padatnya. Nilai gizi orgami adalah protein 5,28%; lemak 3,41%; air 68,29% dan abu 4,77%. Siput air Tawar. Dari hasil penelitian bahwa pemberian dedak padi ditambah siput air tawar (Lymneae Auricularis) dengan perbandingan 1 : 2 dapat meningkatkan kualitas telur itik seperti nilai nutrisi telur, bobot telur dan warna kuning telur yang lebih baik. Keong Mas. Pemberian keong mas yang direbus pada ayam buras yang di berikan selama 13 minggu dapat menaikkan pertambahan bobot badan lebih baik dan penghematan biaya pakan. Dengan banyaknya alternatif pakan yang berbahan baku lokal yang bisa diolah sendiri oleh peternak maka peran penyuluh pertanian sangat diperlukan untuk mendorong peternak untuk menggunakan bahan baku dari dalam negeri sehingga ketergantungan kepada pakan impor semakin berkurang. (Inang Sariati) Sumber : Hasil penelitian dan tulisan dari Balai Penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian dan berbagai tulisan di website.badan litbang