Loading...

PANEN DAN PASCA PANEN SAWO

PANEN DAN PASCA PANEN SAWO
Buah sawo (Manilkara zapota) merupakan salah satu buah yang cukup digemari oleh masyarakat lokal khususnya Bali. Tanaman sawo dapat berfungsi sebagai tanaman peneduh di depan rumah yang rajin berbuah. Tanaman ini sangat mudah di budidayakan, juga sangat baik untuk tanaman tabulampot. Bunga sawo muncul dari ketiak-ketiak daun, sedangkan buahnya terbentuk menggantung pada tangkai buah. Daging buah cukup tebal, mengandung banyak air, dan bergetah. Rasanya manis dan beraroma khas. Buah sawo memiliki berbagai macam gizi dan vitamin yang berguna bagi manusia. Mengkonsumsi buah sawo secara rutin baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah serta mengobati berbagai penyakit. Desa Mambang merupakan sentra penghasil buah sawo di Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan – Bali. Sebagian besar masyarakatnya menanam pohon sawo baik di pekarangan ataupun di halaman belakang rumahnya. Letak geografis Desa Mambang yang merupakan dataran rendah sangat mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan pohon sawo ini. Menurut Bapak Ari, salah seorang petani (pengumpul buah sawo) yang melirik manisnya bisnis sawo ini mengatakan populasi pohon sawo di Desa Mambang mencapai 1.700 pohon, namun baru 450 pohon yang beliau beli (kontrak). Dengan produktivitas rata-rata 100 – 200 kg/pohon/musim, meskipun ada beberapa pohon yang produktivitasnya tinggi bisa menghasilkan sampai 800 kg/pohon/musimnya. Bapak Ari melirik bisnis sawo ini karena melihat banyaknya buah sawo yang dibiarkan sampai masak di pohon dan tidak dipanen oleh pemiliknya. Hal ini mengingat pohon sawo yang ada di Desa Mambang sudah berumur cukup tua kira-kira 30 tahunan sehingga pohonnya tinggi-tinggi. Inilah yg menyebabkan petani sulit memanen dan lebih memilih mengontrakkan pohon sawonya ke bapak Ari. Bapak Ari membeli buah sawo di pohonnya dengan harga rata - rata Rp. 500.000/pohon/musimnya. Buah – buah sawo ini dijual ke pedagang buah dengan harga Rp. 10.000/kg yg ukuran super. Sementara yang ukuran campuran dijual ke pengepul buah diluar daerah seharga Rp. 7.000/kg. Masalah panen dan pasca panen yang cukup rumit menurut petani, tidak menjadi masalah bagi Bapak Ari, karena beliau berani memanjat pohon yang tinggi. Saat panen bapak Ari tidak bekerja sendiri beliau mempekerjakan beberapa tenaga yang juga berani memanjat pohon sehingga memudahkan pemetikan buah sawo tersebut. Memanen buah sawo perlu memperhatikan beberapa hal supaya memperoleh buah yang manis. Adapun cara panen dan pasca panen buah sawo adalah sebagai berikut : Pilih buah sawo yang sudah tua, dengan ciri-ciri: buah berukuran relatif lebih besar dibandingkan dengan buah-buah disekitarnya, apabila digosok kulit luarnya yang seperti lapisan pasir akan terlihat kulit yg berwarna cokelat kekuningan. Buah sawo yang masih muda bila digosok akan berwarna hijau. Buah sawo yang sudah tua kalau diperam sampai matang rasanya manis, sedangkan yang muda diperam akan berasa kurang manis dan sepat. Petik buah sawo secara perlahan, pemetikan bisa secara langsung apabila mudah dijangkau atau bisa menggunakan galah yang diisi jaring diatasnya untuk menjangkau buah yang jauh dari pohonnya. Buah sawo yang sudah tua akan mudah dipetik dan getahnya sedikit. Usahakan buah yang sudah dipetik tidak sampai terjatuh, karena buah yang jatuh biasanya terbelah dan bila diperam akan busuk. Bersihkan buah sawo dari lapisan luarnya. Setelah dilakukan pemanenan buah sawo, sawo dikumpulkan dalam satu wadah untuk dibersihkan. Ada beberapa macam trik untuk membersihkan buah sawo salah satunya dengan mencuci atau merendam buah sawo dalam air. Kemudian buah sawo di gosok menggunakan kain bersih / sabut untuk menghilangkan kulit kasarnya. Selain itu, penggosokan juga bisa dilakukan dengan menggunakan karung jaring bekas pembungkus bawang. Buah sawo yang sudah direndam dimasukkan ke dalam karung kemudian karung digoyang-goyang secara mendatar dengan cara memegang ujung karung. Penggosokan dilakukan secara perlahan agar tidak menimbulkan kerusakan kulit buah sawo. Penghilangan kelopak buah bekas pangkal tangkai buah. Penghilangan kelopak buah dilakukan dengan mencongkel sedikit dibekas tangkai buah dengan menggunakan pisau. Setelah itu buah sawo dibersihkan dengan air dan dikering anginkan. Penghilangan kelopak buah sawo juga dapat mempercepat pematangan buah sawo. Pemeraman buah sawo. Untuk mempercepat pematangan buah sawo dapat dilakukan pemeraman. Walupun buah sawo setelah dibersihkan ditaruh saja di wadah akan matang. Pemeraman bisa dilakukan dengan menyimpan sawo dalam wadah tertutup, seperti ember tertutup, karung, kardus, gerabah dan sebagainya. Pemeraman dimaksudkan agar sawo dalam kondisi suhu yang sesuai untuk pematangan buah sawo. Sawo dapat matang dalam 2-3 hari setelah dipetik dari pohonnya. Buah sawo yang sudah matang dapat dilihat dari warna kulit yang mulai gelap dan kalau dipegang ditekan tersa empuk. Buah sawo yang matang beraroma khas, manis, dan mengandung banyak air. Dengan penerapan pasca panen yang cukup sederhana dan mudah dilakukan, diharapkan mendapat nilai tambah bagi petani di Desa Mambang dalam pengelolaan tanaman sawo yang mudah dibudidayakan dan cukup menjanjikan ( Ni Made Nanik Suciati, SP. Penyuluh BPP Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan - Bali.)