Loading...

PANEN DAN PENANGANAN PASCAPANEN JAGUNG

PANEN DAN PENANGANAN PASCAPANEN JAGUNG
Kegiatan penanganan pasca panen merupakan salah satu kegiatan penting dalam usahatani jagung. Setidaknya ada lima teknologi penanganan pascapanen jagung, yang dibagi dalam lima kelompok kegiatan yaitu pemanenan, pengangkutan, pengeringan, pemipilan dan penyimpanan. Penanganan pascapanen ini bertujuan untuk mendapatkan butiran jagung dengan kualitas yang baik. Untuk memperoleh kualitas jagung yang baik, perlu memperhatikan umur panen yang tepat, mengurangi susut panen dan perontokan, cepat melakukan penjemuran biji dan penyimpanan pada kadar air dan wadah yang tepat, sehingga mendapatkan harga jual yang tinggi. Panen Waktu panen Waktu panen salah satunya ditentukan oleh tujuan penggunaan produk (jagung). Jika akan dimanfaatkan untuk sayur, jagung dipanen pada saat kondisi tongkol masih sangat muda dan lunak. Jika untuk dikonsumsi sebagai jagung bakar dan rebus, jagung dipanen dalam bentuk tongkol berkelobot, kemudian dikupas untuk menghilangkan klobotnya. Namun jika yang akan dihasilkan berupa jagung pipilan, maka pemanenan dilakuka pada kondisi optimum. Pemanenan yang terlalu awal dapat menyebabkan rendahnya kualitas biji, hal ini disebabkan karena masih banyaknya butir muda yang terpanen, akibatnya biji yang dihasilkan tidak tahan simpan. Pemanenan terlambat, dapat menurunkan kualitas dan meningkatkan kehilangan hasil. Karena memungkinkan tumbuhnya jamur dan cendawan dengan tanda-tanda klobot dan atau biji jagung berwarna kehitam-hitaman, kehijauan dan putih Waktu yang paling tepat pada saat kondisi optimum, diantaranya dicirikan dengan mulai menguningnya daun dan batang tanaman, lalu berwarna kecoklatan atau pada kadar air biji sekitar 35-40%. Biji jagung yang dihasilkan pada kondisi optimum sesuai untuk konsumsi sebagai pangan, pakan dan industri. Tahapan Pemanenan • Pada lahan tadah hujan dan kering tanaman jagung umumnya ditanam pada musim hujan.,Pemanenan umumnya dilakukan dalam bentuk tongkol berklobot dan masih cukup basah. Pada kondisi tersebut kadar air berkisar antara 35-40%. • Pada lahan sawah irigasi pemanenan dalam bentuk klobot biasanya pada kadar air yang lebih rendah yaitu berkisar antara 25-30%, karena tanaman jagung yang dipanen pada lahan sawah irigasi umumnya ditaman pada musim kering, sehingga dipanen pada bulan kering. • Ada dua cara panen yang umum dilakukan dalam pemanenan jagung. - Pertama: Tongkol langsung dipanen, kemudian diangkut ke tempat pengumpulan, lalu diangin-anginkan beberapa saat lalu dikupas. Setelah dikupas, jagung bertongkol dikeringkan lanjutan sampai siap dipipil. - Kedua: Panen dengan batang jagung, dilakukan dengan cara memotong batang pada bagian atas tongkol. Pemotongan sebaiknya dilakukan pada kadar air sekitar 30-40%. Kemudian dibiarkan dan dijemur di lapangan sampai pada kadar air sekitar 17-20%, setelah itu dipanen. Penanganan Pascapanen Pengeringan Agar aman disimpan, biji jagung perlu dikeringkan terlebih dahulu. Tujuannya untuk menurunkan kadar air biji jagung. Adapun tahapan beberapa pengeringan dapat dibedakan berdasarkan cara panen yang dilakukan. • Jagung tongkol di pertanaman. Pada cara ini, tongkol dibiarkan kering di tanaman. Caranya dengan membuka kelobot jagung dan dibiarkan dalam beberapa hari (seperti pada cara panen kedua). • jagung tongkol, caranya tongkol yang telah dipanen, dibuka kelobotnya, lalu dijemur/ dikeringkan. Proses pengeringan jagung tongkol dilakukan hingga kadar air sekitar 17-18%, sehingga memudahkan untuk pemipilan. • Jagung pipilan, caranya dengan menjemur jagung yang telah dipipi. Pada cara ini dianjurkan untuk menggunakan alas dari lembaran plastik yang kedap udara, untuk mencegah kontaminasi benda asing dan melindungi kondisi cuaca yang tidak menentu (hujan sewaktu-waktu). Pengeringan dilakukan sampai kadar air kurang dari 14%. Pada kadar ini jagung pipil tidak mudah mengalami kerusakan dan turun kualitasnya di dalam penyimpanan. Dalam proses pengeringan perlu dilakukan pembalikan dari waktu ke waktu, antara lain setiap jam atau sesuai waktu yang diperlukan. Selain dengan menjemur, pengeringan jagung juga dapat dilakukan dengan alat pengering. Hal ini dilakukan dalam kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk mengeringkan, misalnya kondisi cuaca hujan terus menerus atau cuaca berawan. Banyak alat pengering yang dapat digunakan baik secara individu maupun secara berkelompok oleh petani. Contoh alat pengering Lister dryer 300 dan Surya Pala 500 serta pengering sederhana dengan kompor petromaks tipe IRRI dan Tipe Suryapala. Pemipilan Pemilikan merupakan kegiatan melepaskan biji jagung dari tongkolnya. Pemipilan jagung dilakukan setelah jagung dihilangkan klobot dan sudah kering, kadar air jagung tongkol, sekitar 18-19%. Dalam kondisi kadar air tongkol jagung tersebut dapat dipipil tangan dengan mudah. Pemipilan jagung dapat dilakukan dengan tenaga manusia maupun tenaga mekanis. Jenis pemipil secara tradional adalah dengan tongkat pemukul, pemipil dari kayu, pemipil besi diputar, pemipil besi bergigi, grosokan, ban sepeda dan lain-lain. Jika menggunakan mesin pemipil, yang perlu diperhatikan adalah mesin pemipil jagung dengan konstruksi gigi-gigi yang spesifik, sehingga dapat digunakan untuk pemipilan jagung pada kadar air rendah maupun tinggi, yaitu masing-masing kadar air sekitar 19% dan lebih dari 30%. Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. emai: ume_humaedah@yahoo.com