Loading...

PANEN PERDANA SRI MERTASINGA

PANEN PERDANA SRI MERTASINGA
Penerapan pola tanam dengan System Rice of Intensification (SRI) pada hamparan sawah seluas 20 hektar di Desa Mertasinga Kecamatan Cilacap Utara, Senin 24 Maret 2014 dilakukan panen perdana, dengan rata-rata hasil yang cukup menggembirakan. Panen perdana yang dilaksanakan secara simbolis oleh para pejabat/yang mewakili Dinas Teknis bersama penyuluh dan petani tersebut, dari hasil panen ubinan setelah ditimbang mencapai 6,5 kilogram atau setara dengan 10,4 ton Gabang Kering Panen (GKP)/hektar. Ketua Kelompoktani Lestari Desa Mertasinga Kecamatan Cilacap Utara, Juhri mengaku puas melihat hasil panen rata-rata yang dikatakannya “mandan mending”. Menurutnya, penerapan pola tanam SRI, dengan varietas Ciherang, kebutuhan benih 10 kg/hektar, jarak tanam 25 x 25 cm, umur bibit 15 hari dan satu lubang dua bibit ini, relatif cukup aman dari serangan hama dan penyakit.” Nggih, menawi keong nggih wonten, pas mulai tandur, la nek tikus biasane nyerang pas tanduran mulai ijo-ijo”, aku Juhri dengan polosnya. Namun dengan penanganan dengan pemberian insektisida 2 kali semprot dan gropyokan, kondisi tanaman relatif aman dari serangan. Sementara itu Ketua Gapoktan Tri Lestari Kecamatan Cilacap Utara, Sakir menyatakan, meskipun rata-rata hasil cukup menggembirakan, namun umur panen varietas Ciherang relatif panjang yaitu 116 sampai dengan 125 hari, sehingga relatif kurang diminati petani. Umur panen yang panjang dikhawatirkan dapat berakibat gagal panen, mengingat adanya anomali cuaca yang tidak menentu dan munculnya endmik serangan hama penyakit. Diakui, tingkat serangan hama wereng pada lahan padi sawah di Desa Mertasinga relatif kecil, kecuali keong pada awal tanam dan tikus pada masa pertumbuhan yang terkadang cukup merepotkan, namun dengan pencermatan yang seksama akhirnya dapat diatasi. Koordinator Penyuluh Balai penyuluhan Cilacap, Subardi SP didampingi penyuluh pendamping SRI, Nuraini SP mengakui, pendekatan penyuluhan melalui metode SRI pada satu sisi mampu mendekatkan petani kepada akses teknologi tepat guna dan akses pengembangan SDM petani pada sisi yang lain. Diharapkan, pada musim tanam selanjutnya, para petani bersedia dan melaksanakan teknologi yang diterapkan pada kegiatan SRI, yang pada gilirannya mampu meningkatkan produksi persatuan luas masing-masing. Hal senada diakui, Kepala UPT Dinas Pertanian dan Peternakan Jeruklegi, Dahsih, SP, MP yang menyatakan, penerapan teknologi melalui pola tanam SRI memang “rebyek”, namun terbukti telah memberikan hasil yang lebih baik. SRI sering dipanjangkan dengan Sisten Radha Irit, karena memang pada prinsipnya lebih irit benih dan irit air. Hanya saja pada metode SRI ini dilakukan pemupukan organik secara efektif yaitu mencapai 2 ton per hektar. Penggunaan pupuk organik tidak saja menyuburkan tanaman, namun juga menggemburkan tanah sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman. Panen perdana Penerapan Metode SRI di Desa Mertasinga diakhiri dengan tanya jawab, seputar permasalahan anomali cuaca, serangan hama penyakit dan permasalahan sistem pengairan, serta berbagai langkah dan upaya penyelesaiannya.(ap)