Loading...

Pelatihan Budidaya Sayur Hidroponik DDS 2022, Desa Rantau Karau Tengah Kec. Sungai Pandan Kab. HSU

Pelatihan Budidaya Sayur Hidroponik DDS 2022, Desa Rantau Karau Tengah Kec. Sungai Pandan Kab. HSU
Pada hari Kamis tanggal 18 Agustus 2022 di laksanakan kegiatan “ Pelatihan Budidaya Sayur Hidroponik “ bersama dengan petani atau masyarakat desa Rantau Karau Tengah Kecamatan Sungai Pandan, dilaksanakan dengan menggunakan Dana Desa (DDS tahun 2022). Kegiatan di hadiri oleh Kepala Desa (Muhammad Saderi, S.Psi) dan Bendahara (Bahransyah, S.Pd) Desa Rantau Karau Tengah, Penyuluh WKPP (Farida Adriani, SP), Mantri Tani Kec. Sungai Pandan (Ni’matun Munatifah, SP., MP), POPT Kec. Sungai Pandan (Maulina Hasanah, SP), KJF Kecamatan (Widya Dewi, SP dan Nendy Saptahady, S.STP), Penyuluh Se Kecamatan Sungai Pandan dan seluruh peserta kegiatan sebanyak 24 peserta. Narasumber kegiatan ini adalah Syarif Fadillah, SP dari Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Amuntai Selatan, yang merupakan penyuluh dan berpengalaman dalam hal hidroponik. Banyaknya minat dan keinginan dari masyarakat untuk belajar budidaya dengan system hidroponik, sehingga kegiatan ini dilaksanakan di Desa Rantau Karau Tengah dengan melibatkan masyarakat terutama ibu-ibu. Pada kegiatan ini, peserta belajar dan mengetahui tentang perbedaan hidroponik dan konvensional, jenis-jenis tanaman sayur hidroponik, sayarat tumbuh hidroponik, cara menyemai biji dan mempraktekkan langsung bersama-sama, cara membuat larutan nutrsi stok AB Mix dan mengetahui kandungan unsur hara nutrisi AB Mix. Masing-masing peserta telah mendapatkan 1 paket materi pembelajaran lengkap dengan alat-alat dan bahan yang bisa dipraktekkan dirumah masing-masing. Hidroponik adalah sebuah upaya nyata untuk menanam tanaman sehat dan berkualitas. Tingkat perbedaan kualitas tanaman yang ditanam secara hidroponik lebih berkualitas dibanding ditanam secara konvensional, bisa mencapai 70%. System hidroponik sangat cocok diaplikasikan di lahan kecil dan sifatnya lebih ramah lingkungan, sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk bercocok tanam. Bahkan saat ini sudah muncul komunitas para penggemar teknis bertanam secara hidroponik, khususnya di media social internet. Dimanapun tumbuhnya, sebuah tanaman akan tetap dapat tumbuh dengan baik apabila ada nutrisi (unsur hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi. Dalam konteks ini fungsi dari tanah adalah sebagai penyangga tanaman dan air yang ada merupakan pelarut nutrisi, untuk kemusian bisa diserap tanaman. Pola pikir inilah yang melahirkan teknik bertanam dengan hidroponik, dimana yang ditekankan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi. Peserta juga belajar budidaya hidroponik dengan cara yang paling sederhana, yakni dengan Wick System atau dengan istilah Static culture, yakni teknis bertanam menggunakan air yag tidak bergerak atau mengalir. Salah satunya adalah system sumbu berupa kain flannel sebagai perantara agar perakaran tanaman dapat menyerap nutrisi. System ini dikatakan paling praktis dan mudah dan bisa dikerjakan oleh semua peserta dirumah masing-masing, karena wadah berisi tanaman cukup diletakkan diatas wadah berisi larutan nutrisi, bisa berupa botol air mineral, jerigen, ember atau wadah lainnya. Agar hasilnya lebih maksimal, jika wadah nutrisi yang digunakan berukuran besar, bisa dipasangi aerator yang bisa digunakan untuk suplai oksigen. Jika menggunakan wadah larutan yang berukuran besar, seperti ember, bisa menggunakan Styrofoam atau impraboard yang sudah dilubangi untuk menopang wadah tanaman. Harapannya adalah peserta bisa mempraktekkan di lingkungan masing-masing dan mendatangkan manfaat lebih, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga, sayur telah tercukupi dengan adanya sayuran hidroponik ini. selain itu, dengan membudidayakan sayuran dengan hidroponik, diharapkan minim dalam penggunaan pestisida (bahan kimia lain), lebih baik jika menggunakan pestisida nabati, dan secara teori, aplikasi system penanaman hidroponik juga mengurangi dampak pencemaran residu pestisida ke dalam tanah. Ini jelas berbeda dengan bertanam secara konvensional dimana pupuk atau pestisida kimia akan mengalir langsung masuk ke dalam tanah dan mencemarinya. (Farida Adriani, SP)