Artikel PEMANFAATAN JERAMI PADI Jerami padi di Indonesia belum dinilai sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis karena petani membiarkan siapa saja untuk mengambil jerami dari lahannya. Di beberapa daerah, petani bahkan senang bila sawahnya bebas dari jerami. Sistem usahatani yang intensif, jerami sering dianggap sebagai sisa tanaman yang mengganggu pengolahan tanah dan penanaman padi. Oleh karena itu, 70 - 80 % petani membakar jerami di tempat setelah beberapa hari padi dipanen dan sebagian petani memotong jerami dan menimbunnya di pinggir petakan sawah lalu membakarnya. Tanpa disadari petani, tujuan membakar jerami di tempat adalah untuk mengembalikan hara dari jerami ke dalam tanah, mematikan hama yang tertinggal pada jerami, mematikan patogen penyakit dan memusnahkan gulma. Namun tujuan utama petani membakar jerami adalah menyingkirkan jerami dari petakan sawah dengan cara yang praktis dan belum mempertimbangkan untung rugi atas tindakan pembakaran jerami. Tidak semua hama tanaman akan mati pada saat jerami dibakar karena hama dewasa dapat berpindah tempat. Tikus akan masuk ke liang dan beberapa jenis gulma seperti rumput teki (Cyperus rotendus), tidak mati pada saat jerami dibakar. Sebaliknya, parasit dan predator yang berfungsi sebagai musuh alami hama dan penyakit justru mati pada saat jerami terbakar sehingga berpengaruh negatif terhadap keseimbangan hayati. Demikian juga mikroba yang berguna dalam proses biologis, seperti perombak bahan organik, pengikat nitrogen dan mikroba yang memiliki fungsi biologis lain akan ikut mati dan sukar tergantikan keberadaannya. Pada umumnya petani belum memperlakukan jerami sebagai bagian integral dari usahatani padi. Hak kepemilikan jerami di sawah tidak jelas, kecuali pada kasus tertentu dan mereka menyatakan jerami padinya akan digunakan sendiri. Oleh karena itu para pencari jerami memanfaatkan potensi ini dan jerami yang mereka dapatkan dengan gratis dijual kepada pihak yang memerlukan. Selain jerami juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri kertas, bahan substrat jamur atau sebagai bahan pembakar bata. Pengangkutan jerami keluar petakan berarti kehilangan hara secara permanen dari lahan yang bersangkutan yang pada prakteknya menguruskan tanah dan memiskinkan kandungan bahan organik tanah. Dengan diperkenalkannya berbagai konsep pertanian ramah lingkungan seperti pertanian organik SRI (system rice intensification), PTT (pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu) dan agroekoteknologi, sudah selayaknya jerami didaur ulang di tempat asalnya (in situ), sehingga terjadi sistem pertanian padi nirlimbah (zero waste rice production system). Manfaat jerami perlu digali dan dikembangkan menjadi barang berharga mengingat potensinya yang sangat besar dan tidak akan habis-habisnya. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka berbagai alternatif dapat dipilih dalam pengelolaan dan pemanfaatan jerami padi. Pemanfaatan Jerami Secara Konvensional . Jerami padi umumnya tidak digunakan oleh pemilik jerami dan apabila digunakan oleh bukan pemilik tidak ada perhitungan ekonomi antara pemilik dengan pengguna jerami. Secara tradisional pemanfaatan jerami sangat terbatas untuk keperluan rumah tangga dan kegiatan usahatani. Beberapa daerah yang petaninya mengintegrasikan usahatani padi dengan ternak memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak terutama pada waktu pakan hijauan sukar diperoleh, namun masih banyak petani yang membakar jeraminya di sawah. Beberapa pemanfaatan jerami secara konvensional adalah sebagai berikut : 1. Jerami sebagai Alas Lantai Kandang Ternak (Bedding) Secara tradisional petani/peternak menghamparkan jerami kering setebal 5-10 cm di kandang sapi atau kandang kerbau yang lantainya berupa tanah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan bagi ternak dalam kandang, di sisi lain campuran jerami, kotoran dan urine ternak setelah difermentasikan akan menghasilkan kompos yang cukup baik.Jerami sebagai alas lantai kandang perlu diganti apabila fungsinya sebagai alas tidur ternak sudah tidak memadai seperti becek, kotoran ternak sudah lebih banyak dibanding dengan jerami atau kandang sudah berbau kotoran ternak. Untuk mengurangi bau yang tidak sedap dapat dilakukan penyemprotan mikroba pengompos (microbial decomposer) seperti EM4 dan starbio. Penambahan mikroba pengompos dianjurkan untuk timbunan campuran jerami dan kotoran ternak yang telah dikeluarkan dari kandang agar pengomposan lebih cepat. Penggunaan jerami sebagai alas kandang mempersyaratkan kandang diberi atap dan diberi dinding penghalang, sehingga ternak tetap tinggal dalam kandang kecuali pada waktu ternak sengaja dikeluarkan dari kandang. 2. Jerami sebagai Pakan Ternak . Pada musim kemarau, saat hijauan pakan dan rumput tidak tersedia, jerami kering dapat dijadikan pakan ternak sapi dan kerbau. Sebagian petani menyimpan jerami kering di para-para yang ditempatkan di bawah atap kandang atau ditumpuk di sekeliling tiang sehingga membentuk tumpukan jerami berbentuk silinder. Tumpukan jerami dipadatkan, apabila terjadi hujan air tidak masuk ke dalam tumpukan hanya mengalir di bagian bawah tumpukan agar tumpukan jerami menurun. Jerami kering untuk pakan ternak sering dicampur dengan larutan garam dapur, larutan urea atau dibasahi dengan larutan formulasi mikroba yang bermanfaat. 3. Jerami sebagai bahan bakar . Sebagai bahan bakar jerami padi menghasilkan kalori (panas) yang relatif rendah dan banyak membentuk asap dan abu. Jerami dapat digunakan sebagai bahan bakar tambahan dalam industri genteng, bata dan gerabah. Keluarga petani yang kurang mampu menggunakan jerami sebagai bahan bakar untuk memasak, namun jerami memiliki kelemahan seperti cepat habis terbakar, berasap, sisa pembakaran mudah terbang dan memerlukan penjagaan secara kontinyu. Resiko terjadinya kebakaran sangat besar apabila tidak dijaga secara terus menerus. Penggunaan jerami sabagai bahan bakar di dapur hanya dimungkinkan di pedesaan, di rumah-rumah yang terpisah antara yang satu dengan lainnya dengan jarak antar rumah lebih dari 40 m. Pemanfaatan jerami sebagai bahan bakar di rumah tangga pada 20 tahun terakhir justru ditinggalkan karena minyak dan gas bumi relatif murah. Dengan harga bahan bakar melonjak mahal kemungkinan masyarakat pedesaan akan kembali memanfaatkan jerami padi sebagai bahan bakar seperti di Cina, India dan Bangladesh. Penulis : Eko Budi Santoso