Pengembangan peternakan sapi potong terus digalakkan dalam upaya swa-sembada daging nasional. Salah satu faktor yang menjadi kendala adalah kompleksitas penyediaan pakan yaitu dari segi biaya produksi, kualitas dan kuantitas, transportasi, dan ketersediaan yang berkelanjutan. Biaya produksi untuk pakan dalam usaha peternakan lebih besar jika dibandingkan dengan biaya lainnya. Pengurangan biaya produksi telah dilakukan dengan cara pemanfaatan bahan baku pakan lokal untuk dibuat formula suplemen pakan, konsentrat dan pakan komplit.Salah satu teknologi yang sekarang sangat berkembang dan berkelanjutan adalah penggunaan konsentrat pada sapi perah, penggemukan dan perbibitan. Hal ini terkait dengan informasi yang menyebutkan bahwa pada sapi perah laktasi setiap kenaikan 1 kg konsentrat yang dikonsumsi akan menaikkan 2 liter produksi susu. Umumnya sapi perah laktasi diberi konsentrat 8 kg/ekor/hari, yang berarti bahwa konsentrat merupakan komoditas yang sangat menarik bagi investor.Berdasarkan informasi di atas konsentrat juga ikut berperan dalam penurunan atau peningkatan bobot badan dan penurunan gas metana dalam cairan rumen. Beberapa peneliti telah banyak memperkenalkan dengan cara uji coba pada sapi potong, sapi perah dan kambing sebagai pakan penguat. Konsentrat merupakan bahan pakan penguat bagi ternak ruminansia karena tersedia sumber energi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Dalam pemberian konsentrat pada sapi umumnya dengan perbandingan 60:40 atau 70:30 (hijauan:konsentrat). Formulasi konsentrat telah banyak dilakukan dan diaplikasi pada sapi baik sapi potong maupun sapi perah. Bahan baku untuk pembuatan konsentrat sebagian besar dari bahan baku lokal dan kualitas rendah. Bahan baku yang digunakan untuk penyusunan konsentrat sangat berbeda. Hal ini disebabkan adanya perbedaan dalam budidaya tanaman pangan di setiap daerah, yang sangat tergantung pada kesukaan masyarakat. Budidaya yang hampir sama di banyak daerah adalah penanaman padi yang menghasilkan limbah berupa jerami padi, bekatul dan dedak. Namun demikian bahan ini belum memenuhi syarat untuk dijadikan konsentrat yang berkualitas. Tanaman jagung sebagai bahan baku lokal untuk suplemen, konsentrat dan pakan komplit akan menjadi berkualitas apabila di dalam komposisinya ditambahkan sumber protein sehingga akan memberikan harapan tersedianya pakan lokal yang berkualitas. Penelitian tentang pakan komplit telah banyak dilakukan mengingat perannya dapat berguna disaat musim kemarau, dimana ketersediaan hijauan terbatas karena tidak dapat tumbuh dengan subur sedangkan kebutuhan untuk ternak sangat banyak. Di daerah Gunungkidul, Wonosari Yogyakarta dan daerah sekitarnya, pada musim kemarau sekitar 100 truk membawa jerami setiap harinya untuk diberikan pada ternak. Pakan sapi potong umumnya berupa hijauan atau bahan pakan sumber serat. Hal ini karena dalam alat pencernaan ternak mengikutkan aktivitas mikroba yang terdapat di dalam rumen. Oleh karena itu pengolahan limbah pertanian dalam bentuk complete feed akan dapat membantu memenuhi kebutuhan ternak. Hal ini disebabkan complete feed merupakan pakan lengkap untuk ternak ruminansia yang memiliki kandungan zat-zat makanan yang disusun dan diformulasi secara lengkap dan seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak. Dengan demikian, teknologi pengolahan limbah pertanian perlu diupayakan agar dapat membantu peternak dalam menyediakan pakan sehingga usahanya dapat berkembang dengan baik. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan complete feed adalah kandungan dari bahan yang akan digunakan serta memiliki nilai ekonomis. Dengan memperhatikan hal tersebut maka peternak dapat menekan biaya pakan dan akan memperoleh keuntungan yang maksimal.Pakan komplit merupakan pakan yang terdiri dari bahan konsentrat, suplemen yang ditambahkan pakan pokok dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan ternak. Bahan yang digunakan diupayakan mudah didapat dan diolah sehingga menjadi pakan berkualitas dan teknologi tepat guna yang murah. Formula pakan komplit ada yang komposisinya dari konsentrat dan pakan pokok yang diberikan secara ad libitum (Bambang 2009). Formulasi lain yaitu dari berbagai bahan baku yang mengandung serat kasar tinggi, mineral, non-protein-nitrogen dan sumber protein (Windu Negara et al. 2012). Komposisi yang lain merupakan kombinasi dari jerami pakan siap saji, konsentrat komersial yang kualitas rendah, KonPlus dan suplemen pakan dan diberi pakan pokok rumput gajah dalam jumlah sedikit serta jerami padi ad libitum (Suharyono et al. 2012). Formula pakan komplit lainnya dari India dibuat seperti blok yang diberi nama complete feed block (AGH 2007). Bahan baku lokal untuk pembuatan pakan komplit sebagian berasal dari limbah atau hasil samping pertanian maupun industri pertanian yaitu dedak padi, bekatul, ketela pohon, kulit ketela pohon, gaplek, ampas tahu, tongkol jagung, jerami padi yang semua merupakan sumber serat kasar dan karbohidrat lainnya. Sumber protein pada umumnya berasal dari bungkil kelapa, bungkil biji kapuk, tepung daun lamtoro dan suplemen pakan. Dengan mengacu kepada kebutuhan nutrisi ternak, maka formulasi pakan yang biasa dibuat oleh peternak yang terdiri dari bahan baku lokal akan mampu meningkatkan bobot badan harian dan menekan biaya produksi. Penggunaan formulasi pakan dengan menggunakan bahan baku lokal tetapi dapat memenuhi kebutuhan ternak menghasilkan peningkatan pendapatan peternak dari penjualan sapinya. Keuntungan ini dapat ditingkatkan apabila peternak melakukan pengolahan limbah pakan dan kotoran. Hal ini akan berdampak pada penghematan penggunaan bahan bakar disamping mendapatkan nilai tambah dari penjualan kompos, pupuk cair, pupuk kascing, pupuk dari lumpur bios dan penjualan cacingnya. Formula pakan komplit diperlukan untuk peningkatan produksi ternak. Masing-masing memberikan respon positif terhadap peningkatan bobot badan harian sapi. Namun demikian, belum banyak yang mempelajari atau menentukan seberapa banyak produksi gas metana yang terbentuk dalam cairan rumen dan berapa yang dilepas di udara. Uji pakan konsentrat plus telah dikaji secara in vitro dan in vivo. Dimana untuk pengujian in vitro, formula konsentrat dari Meat Bussiness Centre (MBC) dibandingkan dengan KonPlus BATAN yang berbasis bahan lokal (Suharyono et al. 2012). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kecernakan bahan kering berbeda nyata (P Dengan diketahuinya kandungan nutrisi bahan penyusun pakan serta disesuaikannya kandungan protein dalam ransum dengan kebutuhan gizi, ternak dapat mampu meningkatkan produktivitas ternak, menghemat biaya produksi, meningkatkan pendapatan peternak dan menekan produksi gas metana dalam rumen. Perbaikan pakan ikut berperan dalam mengurangi pemanasan global, terutama apabila dilakukan pengolahan limbah pakan dan kotoran. Penurunkan gas metana bermanfaat dalam hal penghematan biaya energi, berkurangnya pencemaran udara dan peningkatan pendapatan peternak. Oleh karena itu, smart peternakan terpadu perlu digalakkan. (Suwarna – BPPSDMP) Sumber : Berbagai sumber