Loading...

PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN

PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN
Bahan pakan biasanya dibedakan untuk ternak ruminansia dan non ruminansia, karena adanya perbedaan dalam system pencernaan kedua jenis ternak tersebut. Berbeda halnya dengan ternak ruminansia, ternak non ruminansia mempunyai kemampuan yang sangat terbatas dalam mencerna bahan pakan berserat kasar tinggi. Oleh karena itu, tidak semua produk samping industri sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ternak non ruminansia. Hasil samping industri sawit, yang dapat digunakan sebagai pakan untuk ternak non ruminansia adalah bungkil inti sawit dan lumpur sawit atau solid decanter. Bungkil inti sawit (BIS) merupakan sisa padatan setelah pemerasan inti sawit untuk menghasilkan minyak inti sawit. BIS sudah umum diperdagangkan dan digunakan sebagai pakan, terutama untuk ternak ruminansia di Negara maju. Sampai saat ini, kebanyakan (sekitar 90%) dari BIS yang diproduksi di dalam negeri diekspor ke luar negeri, sehingga hanya sekitar 10% yang digunakan di dalam negeri.Lumpur sawit merupakan limbah dari proses pemerasan buah sawit untuk menghasilkan minyak sawit kasar atau crude palm oil (CPO) yang diperoleh dengan cara mensentrifusi limbah cairan dengan menggunakan alat yang disebut decanter. Pada saat ini tidak semua pabrik penghasil CPO di Indonesia menghasilkan lumpur sawit, tergantung dari peralatan yang digunakan. Saat ini, sebagian besar lumpur sawit yang dihasilkan masih belum digunakan sebagai pakan, tetapi disebarkan di kebun sebagai pupuk. BIS dan lumpur sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan unggas maupun babi, karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh ternak meskipun sampai saat ini belum lazim dipakai.Banyak hasil samping kelapa sawit yang bermanfaat sebagai pakan ternak meliputi bungkil inti sawit, lumpur sawit, pelepah, daun, serat perasan buah dan batang kelapasawit. Berdasarkan kandungan energi dan protein-nya hasil samping tersebut dapatdikelompokkan sebagai pakan suplemen (bungkil inti sawit dan lumpur sawit) sedangkanyang lainnya sebagai pakan dasar. Pakan dasar yang meliputi pelepah, daun, serat perasan buah dan batang kelapa sawit memiliki kandungan energi yang cukup tingginamun memiliki tingkat kecernaan yang rendah. Pada prinsifnya, susunan ransum terdiri dari pemanfaatan bahan berserat tinggi sebagai pakan dasar (pelepah, daun, serat perasan buah dan batang kelapa sawit) dan bahan mengandung protein dan energi tinggi (bungkil inti sawit dan lumpur sawit) sebagai pakan suplemen. Hal inimenjadikan perkebunan kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai pemasok pakan bagi pengembangan ternak khususnya ternak ruminansia.Sistem usaha produksi ternak ditopang oleh pilar utama yaitu bibit, pakan dan kesehatan hewan. Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya produksi ternak yang dikelola secara intensif, sehingga tingkat efisiensi penggunaan pakan akan berpengaruh langsung terhadap efisiensi usaha secara keseluruhan. Oleh karena itu, ketersediaan bahan baku pakan dengan harga kompetitif serta berkelanjutanmerupakan faktor penting yang perlu diupayakan dalam pengembangan peternakan. Pengadaan bahan pakan bagi ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba)sebaiknya terfokus kepada kelompok bahan pakan yang tidak bersaing dengan ternak. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP) Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan : 1. Ibrahim dan Gufroni. 2004. Teknologi Pemanfaatan Hasil Samping Sait Untuk Pakan Ternak. BPTP Kalimantan Barat.2. Sinurat, A.P. I.W. Mathius, T. Purwadaria. 2012. Pengolahan dan Pemanfaatan Hasil Samping Industri Sawit Sebagai Bahan Pakan. IAARD Press. Jakarta3. Sumber gambar berasal dari google.