Loading...

PEMANFAATAN MESIN TANAM PADI DENGAN SISTEM TANAM DAPOG DI KELOMPOK TANI LOHJINAWI I DS. POJOK KEC NGANTRU

PEMANFAATAN MESIN TANAM PADI DENGAN SISTEM TANAM DAPOG DI KELOMPOK TANI LOHJINAWI I DS. POJOK KEC NGANTRU
Pemerintah masih menginginkan Indonesia kembali ber-swasembada pangan mulai tahun 2015-2019 untuk tanaman padi, jagung dan kedele (pajale) sehingga untuk mendapatkan lahan yang siap diusahakan dipacu melalui program UPSUS Pajale. Salah satu kendala dalam kegiatan perluasan sawah adalah terbatasnya tenaga kerja, sejak persiapan lahan hingga tanam dan panen. Permasalahan tenaga kerja tersebut hampir dialami oleh petani pada semua agroekosistem. Setiap petani di wilayah irigasi umumnya kepemilikan lahan sawah berkisar 0.25-1,0 ha. Penduduk dengan usia produktif umumnya memilih menjadi tenaga kerja di sektor non pertanian, sehingga yang tersisa untuk sektor pertanian khususnya usahatani padi adalah penduduk dengan usia kurang produktif. Hal tersebut merupakan salah satu kendala yang membuat produktivitas pertanian padi sawah menjadi rendah. pemanfataan teknologi yang belum sepenuhnya diterapkan termasuk teknologi mekanisasi. Penggunaan alat dan mesin pertanian pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, produktivitas, kualitas hasil dan mengurangi beban kerja petani. Tanam padi adalah proses awal budidaya tanaman padi. Pada proses tanam padi umumnya menggunakan tenaga kerja konvensional yaitu sistem tandur.Pada kegiatan penanaman bibit padi, membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak dan waktu yang lama sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih banyak. Kegiatan tanam sistem tanam pindah (tapin) di lahan sawah memerlukan 29,4 HOK/ha Efisiensi usahatani menjadi salah satu aspek penting dalam budidaya padi. Mahalnya biaya tenaga kerja penggarap sebagai akibat langkanya tenaga kerja di pedesaan, membuat para petani lebih mengandalkan alat pertanian mekanis. Alat panen sabit juga sudah diganti dengan mesin panen modern yakni Combine harvester. Sementara untuk menanam padi para petani belum lama mengenal mesin tanam bibit padi atau Rice transplanter, baik sistem tegel maupun sistem jajar legowo (jarwo). Penggunaan mesin tanam bibit padi bermesin sistem tegel atau jarwo dimaksudkan untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja tanam, meningkatkan produksi hasil padi dan pendapatan petani. Pada tahun 2017 kelompok tani Loh Jinawi I mendapatkan bantuan mesin tanam dan combine harvester dari dinas pertanian tulungagung. Bantuan alat mekanisasi pertanian ini dimanfaatkan secara sebaik baiknya oleh kelompok tani lohjinawi I. pada awalnya tahun 2017 hanya anggota tetap kelompok tani yang memanfaatkan kedua mesin pertanian tersebut setelah berjalan pada tahun ke dua karena hasil yang memuaskan sekarang petani yang memanfaatkan mesin tanam ini dengan tanam secara dapog meluas sampai ke luar wilayah kelompok tani sampai menolak karena keterbatasan waktu dan lahan persemaian. Pengalaman para petani yang menggunakan teknologi ini menunjukkan efisiensi waktu tanam, sekaligus penghematan biaya tanam. Selain itu kualitas tanaman padi juga lebih baik terutama bila dilihat dari vegetatif awal. Mesin rice transplanter bekerja dengan cara menancapkan bibit padi ke dalam tanah sawah menggunakan garpu penanam (picker) secara teratur sesuai gerak jalan roda mesin, garpu penanam akan menancapkan pada setiap satu titik tanam dalam 4 baris. Mesin ini dijalankan hanya oleh seorang operator dan satu orang asisten sehingga sudah dapat mengganti 20 orang tenaga kerja Hal ini juga terjadi pada mesin panen. Sistem tanam jajar legowo merupakan cara tanam padi sawah dengan pola baris tanam 2 baris pinggir diselingi 40 cm kemudian diikuti 2 baris lanjutan dengan jarak tanam dalam baris 12/ 14/ 16 dan 18 cm. Indo jarwo transplanter (IJT) adalah mesin penanam padi yang digunakan untuk menanam bibit padi yang berumur muda. Bibit padi dihasilkan dari semaian sistem dapog dengan umur bibit sekitar 15 hari atau ketinggian tertentu, pada areal tanah sawah yang rata dan kondisi siap tanam. Produktivitas rata-rata yang dicapai dengan penerapan jajar legowo meningkat 20,57% dibanding dengan metode tanam tegel. Untuk menanam satu hektar bibit padi, satu unit mesin tanam Indo Jarwo Transplanter mempunyai kemampuan setara dengan 20 tenaga kerja tanam sehingga lebih efisien. Semaian yang diinginkan adalah sistem dapog, namun tempat semaian (tray) di tingkat petani tidak tersedia banyak hanya 1000 tray sehingga pembuatan semai di bagian samping pekarangan rumah yang dilapisi plastik ukuran 6 m x 2 m menggunakan tanah remah dengan campuran abu sekam dengan ketebalan tanah 2-2,5 cm. Bibit padi yang akan digunakan untuk mesin transplanter adalah yang tumbuh dari hasil semaian hingga umur 15-18 hari atau dengan tinggi bibit sekitar 15-20 cm. Agar bisa ditanam menggunakan mesin tanam rice transplanter, bibit hasil semaian dipotong- potong dengan ukuran 60 x 16 cm kemudian diletakkan di atas rak bibit eksisten pada mesin transplanter dan selanjutnya mesin siap beroperasi. Pengoperasian Indo Jarwo Transplanter (IJT) relatif mudah dan sederhana. Jumlah tenaga yang terlibat dalam operasional transplanter hanya 3 orang terdiri dari satu orang operator yang menjalankan mesin transplanter, satu orang penyedia/ pengangkut bibit dan satu orang sebagai penyulam lobang yang tidak tertanam. Penanaman bibit oleh garpu penanam yang diatur pada jarak tanam 20 x 16 cm, kedalaman tanam rata-rata 3,6 cm, jumlah bibit 2-3 tan/ lubang pada kondisi permukaan sawah yang rata. Pada satu kali perputaran roda menghasilkan jarak 2m dan fungsi dari garpu penanam berjalan normal, tapi ada titik penempatan bibit yang masih melangkah sehingga terdapat titik pertanaman yang kosong sebesar 1,92%. karena kondisi persemaian lebih baik dengan sebaran bibit merata dan tidak terlalu padat dan juga tidak renggang. Kekosongan titik penanaman disebabkan semaian bibit padi yang ada kurang padat dan juga karena perakaran dari bibit sudah menyatu (bersilangan) sehingga tarikan dari garpu penanam agak berat dan terlepas dari garpu penanamannya. Kecepatan maju hasil uji laboratorium antara 1,8-2,6 km/ jam setara 6-7 jam/ha. Hasil pengukuran di lapang ternyata dengan kecepatan maju mesin tanam 2,34 km/jam, kapasitas kerja 6,15 jam/ ha. Kapasitas kerja mesin tanam masih dipengaruhi oleh kondisi lahan, luas petakan sawah serta ketrampilan operator dalam menjalankan mesin. Ditinjau dari aspek tanaga kerja, produktivitas, kualitas tanam, kinerja rice transplanter lebih baik dibandingkan dengan cara tanam konvensional. Dalam usahatani padi di lahan sawah, kebutuhan tenaga kerja untuk tanaman secara manual 35 orang dengan waktu kerja 4 jam/HOK sehingga menghasilkan jumlah waktu kerja 140 jam. Sedangkan penanaman menggunakan mesin indo jarwo transplanter (termasuk penyedia bibit dan menyulam) sebanyak 3 orang dengan waktu kerja 6,15 jam/ha dan jumlah waktu keseluruhan adalah 18,45 jam. Jadi jam kerja (waktu) yang dibutuhkan menggunakan mesin transplanter jarwo hanya sekitar 13,18%. Dengan demikian penghematan jam kerja (efisiensi) waktu sebesar 86,82%. Penulis. Wirawan Rubi Permana,SP