Loading...

PEMANFAATAN SISA BIOGAS

PEMANFAATAN SISA BIOGAS
Bahan keluaran dari sisa proses pembuatan biogas dapat dijadikan pupuk organic, walaupun bentuknya berupa lumpur (sludge). Pemanfaatan lumpur keluaran biogas ini sebagai pupuk dapat memberikan keuntungan yang hampir sama dengan penggunaan kompos. Sisa keluaran biogas ini berbentuk lumpur dan telah mengalami fermentasi anaerob sehingga bisa langsung digunakan untuk memupuk tanaman. Di Kawasan peternakan sapi perah, lumpur biogas dapat langsung dialirkan ke kebun rumput untuk doijadikan pupouk. Kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan kotoran sapi perah yang langsung dialirkan ke kebun rumput.Kualitas lumpur sisa proses pembuatan biogas lebih baik daripada kotoran ternak yang langsung dari kandang, karena proses fermentasi dalam digester (pengolah gas) telah terjadi perombakan anaerobic bahan organic menjadi biogas dan asam organic yang mempunyai berat molekul rendah (asam asetat, asam propionate dan asam laktat). Dengan demikian konsentrasi N, P, dan K akan meningkat. Dengan kedaan seperti ini sludge (lumpur biogas) sudah menjadi pupuk organic yang dapat dipisahkan menjadi pupuk organic padat dan pupuk organik cair.Pupuk organic adalah pupuk yang bahan dasarnya diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah paling baik dan alami disbandingkan dengan pupuk aorganik (pupuk kimia).Salah satu jenis pupuk organic padat yang paling popular adalah kompos. Kompos merupakan bahan organic yang telah mengalami dekomposisi atau fermentasi. Pengomposan merupakan proses perombakan (dekomposisi) dan stabilisasi bahan organic oleh mikroorganisme dalam keadaan lingkungan yang terkendali. Hasil akhir dari proses ini adalah humus yang cukup stabil untuk disimpan. Pengomposan dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme termasuk bakteri, jamur, protozoa, aktinomisetes, cacing tanah, dan serangga. Populasi dari semua mikroorganisme sangat berfluktuasi tergantung dari kondisi pengomposan.Proses pengomposan bertujuan untuk menstabilkan bahan organic, mengurangi bau, mempermudah penanganan, membunuh bibit gulma, membunuh organisme pathogen dan parasite, serta menghasilkan bahan yang seragam sebagai pupuk organic. Pupuk organic dibutuhkan petani karena pupuk kimia semakin mahal. Proses pengomposan secara konvensional membutuhkan waktu yang relative lama, yaitu 1,5 – 2 bulan. Namun dengan menggunakan activator berupa inokulan mikroorganisme komersial dipasaran, proses pengomposan dapat dipercepat sehingga hanaya butuh waktu 7 – 30 hari.Sedangkan pupuk organik cair adalah pupuk yang bahan dasarnya berasal dari hewan atau tumbuhan yang sudah mengalami fermentasi dan bentuk produknya berupa cairan. Kandungan bahan kimia di dalamnya maksimum 5%. Penggunaan pupuk organik cair memiliki berapa keuntungan sebagai berikut :Pengaplikasiannya lebih mudah jika dibandingkan dengan pengaplikasian pupuk organic padat;Unsur hara lebih mudah diserap tanaman;Mengandung mikroorganisme yang jarang terdapat dalam pupuk organik padat;Pencampuran pupuk organic cair dengan pupuk organic padat dapat mengaktifkan unsur hara yang ada dalam pupuk organic padat tersebut.Menurut Suzuki dan kawan-kawan dalam penelitiannya di Vietnam tahun 2001. Sludge yang berasal dari biogas sangat baik untuk dijadikan pupuk karena mengandung berbagai mineral yang dibutuhkan oleh tumbuhan seperti fospor (P), magnesium (Mg), Kalsium (Ca), kalium (K), tembaga (Cu) dan seng (Zn).Meskipun kandungan unsur hara dalam pupuk organic tidak terlalu tinggi, tetapi pupuk organic mempunyai keistimewaan lain yaitu dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Selain itu, pupuk organik memiliki fungsi untuk menggemburkan lapisan tanah permukaan (topsoil), meningkatkan jasad renik, serta meningkatkan daya serap dan daya simpan sehingga secara keseluruhan pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah.Edizal – Pusat Penyuluhan PertanianLiteratur : Simamora,S., Salundi, Sri,.W, dan Surajudin. “Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Kotoran Ternak”. Penerbit Agro Media Pustaka – Jakarta, 2008