Loading...

Pembibitan Kakao

Pembibitan Kakao
Pembibitan kakao dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif.Secara Generatif: Gunakan benih bersertifikat ±1900 butir untuk tanah datar, dan ±1800 butir utuk tanah miring. Pesemaian dilakukan di tempat datar, aman, mudah diawasi deket sumber air, dekat tempat pembibitan, dan drainase baik. Bedengan dibuat pada tanah gembur, dicangkul sedalam 20 cm, lebar 1 m, diatasnya diberi lapisan pasir halus setebal 15 cm. Bedengan diberi atap dari daun tebu/kelapa, menghadap ke timur. Sebelum benih kakao disemaikan, media disiram air sampai jenuh dan diratakan. Benih kakao ditanam dengan jarak 2,5 cm x 5 cm. Pembibitan secara vegetatif dapat dilakukan secara konvensional atau dengan Somatic Embriogenesis (SE). Secara Konvensional, pembibitan kakao dilakukan dengan sambung pucuk dan okulasi .Sambung Pucuk (grafting): a) Dilakukan terhadap bibit batang bawah umur 4-5 bulan; b) Entres diambil dari sumber entres yang sudah dimurnikan dan dilegalkan seperti Suk 1, Sul 2, ICCRI, ICCRI 4, berupa cabang plagiotrop yang sehat berwarna hijau kecoklatan diameter ± 1 cm; Batang bawah dipotong datar disisakan 4-6 helai daun. Bagian tengah potongan tersebut disayat vertikal panjang 3-5 cm; c) Entres dipotong-potong, setiap sambungan 3 mata tunas, pangkal entres disayat miring pada kedua sisinya sehingga runcing; d) Pangkal entres disisipkan pada belahan batang bawah, salah satu sisi entres menyatu dengan sisi batang bawah. Pertautan diikat erat dengan tali dan entres ditutup kantong plastik. Sungkup dilepas jika panjang tunas1 -2 cm, namun tali tetap dipertahankan; e) Lakukan pemupukan, pengendalian hama penyakit serta penjarangan atap 1-2 bulan sebelum bibit dipindah ke kebun; f) Bibit sambungan dipindah ke kebun kira-kira 4-6 bulan sejak penyambungan, dimana panjang tunas 15-20 cm, jumlah daun minimum 12 helai, diameter tunas 1 cm; g) Penanaman dilakukan pada awal musim penghujan Okulasi (Budding): a) Dilakukan pada bibit umur 3-4 bulan; b) Entres dari klon unggul misal Sul 1, Sul 2, ICCRI3, ICRRI 4, berupa cabang plagiotrop yang sehat, warna hijau kecoklatan, diameter 1 cm; c) Letak tempelan mata tunas sedapat mungkin di bagian hipokotil; d) Jendela okulasi dibuat dengan menorah kulit vertikal sejajar sepanjang 3 cm, jarak antar torehan 0,8 cm. Ujung bawah torehan di potong horizontal sehingga terbentuk lidah kulit, ukuran mata tunas sama dengan jendela. Diupayakan agar mata tunas tidak tertinggal pada kayu entres; e) Mata tunas disisipkan ke dalam jendela dari bawah, lidah kulit ditutupkan dan diikat dengan tali, dari bawah ke atas; f) Umur 3-4 minggu tali dibuka, lidah kulit dipotong; g) Pada okulasi yang jadi, batang bawah dilengkungkan untuk memacu pertumbuhan tunas baru. Batang bawah dipotong setelah tunas baru memiliki 6 helai daun dewasa; h) Dilakukan penyiraman, pemupukan, pengendalian hama penyakit; i) Bibit siap dipindah ke kebun pada umur 8-9 bulan, diameter > 0,7 cm, panjang tunas > 50 cm , jumlah daun > 12 helai. Pembibitan dengan Somatic Embriogenesis (SE): a) Bibit SE diperoleh dengan teknik kultur jaringan dengan eksplan bunga dan teknologi Nestle Perancis; b) Lokasi pembesaran diusahakan dekat sumber air, datar, terlindung angin kencang, sinar matahari langsung serta hewan pengganggu; c) Penaung dengan daun kelapa (dapat meneruskan cahaya 10-15 %); d) Media pembibitan harus subur, cukup halus dan difumigasi; e) Ukuran polybag minimal 12 cm x 20 cm, tebal 0,5 mm; f) Proses penanaman planet: lakukan penyiraman media di dalam polybag, buat lobang tanam dengan tugal atau jari, bibit ditanam satu persatu, lakukan penyiraman dan penyemprotan fungisida, lakukan penyungkupan dan penyegelan, diberi atap sementara; g) Mulai hari ke 3 setelah penanaman, dilakukan penyiraman, pengendalian hama dan penyakit, serta gulma, hardening, pemupukan dan seleksi; h) Bibit SE siap ditanam pada umur 4 bulan, jumlah daun ± 8 helai, tinggi mi nimal 20 cm dan tidak bertunas.(Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber: PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA KAKAO YANG BAIK (Good Agricukture Practices / GAP on Cocoa). Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta, 2014