Penyuluh WKPP Farida Adriani, SP bersama dengan Poktan Tunas Muda Desa Rantau Karau Tengah melaksanakan kegiatan Demonstrasi Cara Pembuatan pupuk organik hijau secara sederhana (kompos) pada hari Kamis tanggal 15 Oktober 2020. Sampah hijau adalah Bagian tumbuhan hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk jenis ini memiliki perimbangan C/N rendah sehingga dapat terurai dan tersedia bagi tanaman, sumber nitrogen yang baik dan penambah unsur mikro. Sampah hijau misalnya sayuran, sisa buah busuk, rumput (gulma) segar, kulit telur, pupuk kandang, Agar lebih mudah diingat, kira-kira sampah hijau adalah bahan yang masih mengandung banyak air. Supaya lebih mudah terurai, sebaiknya cincang terlebih dahulu sampah hijau sebelum dimasukkan ke komposter. Sampah coklat. Contoh sampah cokelat adalah daun atau rumput kering, serbuk gergaji, sekam padi, serutan kayu, tangkai daun, atau kulit jagung. Sampah cokelat pada umumnya memiliki sifat fisik kering, kasar, berserat, dan kebanyakan berwarna cokelat. Cara pembuatan Bahan sampah hijau dan sampah cokelat dengan perbandingan 1 : 2 + activator berupa EM4 Pertanian Sesudah aktivator ditambahkan, siramkan atau semprotkan air gula di atas campuran bahan. Ini akan menjadi makanan bagi mikroorganisme, yang akan mempercepat pertumbuhan mikroorganisme serta proses pengomposan. Perlu diingat, kelembaban yang direkomendasikan adalah 30 %. Mengetesnya dalam genggaman tangan, campuran bakal kompos kita idealnya terasa seperti spons yang sudah diperas. Setelah kelembaban dirasa sesuai, tutup komposter Anda. Aduk sampai rata, kemudian ditumpuk hingga ketinggian 15 – 20 cm dan ditutup rapat. Setelah 1 minggu, buka, lalu aduk bahan-bahan di dalamnya. Lalu tutup lagi, dan ulangi pengadukan setiap minggu. Pada minggu pertama dan kedua, mikroba mulai bekerja menguraikan sampah. Pada tahap ini, suhu sampah biasanya akan naik menjadi sekitar 40 derajat celsius. Ulangi terus pengadukan sampai jangka 4 minggu. Kompos dikatakan matang apabila warnanya kehitaman dan tidak tercium lagi bau tak sedap khas sampah. Aroma dan tekstur kompos terasa lebih seperti tanah. Penggunaan EM4. EM4 mengandung 90% bakteri Lactobacillus sp. (bakteri penghasil asam laktat) pelarut fosfat, bakteri fotosintetik, Streptomyces sp, dan jamur pengurai selulosa. EM4 merupakan suatu tambahan untuk mengoptimalkan pemanfaatan zat-zat makanan karena bakteri yang terdapat dalam EM4 dapat mencerna selulose, pati, gula, protein, lemak. Keunggulan penggunaan EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat. EM4 juga dapat menekan pertumbuhan patogen tanah, mempercepat fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan unsur hara pada tanaman, meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan, serta mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia Cairan. Selain itu, larutan gula berfungsi untuk memperoleh energi bagi perkembangbiakan jumlah EM4 yang diaktifkan selama proses pembuatan kompos. (Farida Adriani, SP)