Dunia pertanian memang mempunyai magnet tersendiri dalam mengikat hati setiap insan yang dalam jiwanya telah tertanam benih kearifan. Seperti yang dilakukan oleh petani yang tergabung dalam Kelompok Tani “Tani Luhur†di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus- Jawa Tengah. Di bawah kepemimpinan Bapak Rofi`i, petani-petani itu mengkawinkan budaya lokal dengan teknologi pertanian modern. Meskipun tidak bisa dikatakan sempurna seratus persen tetapi setidaknya sudah ada awalan yang bagus dalam melihat pertanian sebagai modal masa depan dan warisan buat cucu-cucu beberapa generasi. Kegiatan pada tanggal 3 Juli 2013 itu, diawali dengan mengirimkan do`a kepada arwah para pendahulu pertanian di wilayah itu dan dilanjutkan dengan ramah tamah. Tak kurang dari 40 an petani hadir dalam kegiatan tersebut. Keinginan untuk mengurangi pupuk-pupuk kimia sintetis serta pestisida sintetis merupakan niatan awal yang bagus dalam mengelola lahan pertanian ke depan. Kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan ubinan untuk varietas inpari 18, inpari 19 dan inpari 20 yang didampingi langsung oleh kru dari BPTP Jawa Tengah. Sementara di lokasi yang lain dilaksanakan pelatihan membuat MOL (Mikro Organisme Lokal) yang diperoleh dari buah-buahan yang dipandu oleh Tim Penyuluh Pertanian Kecamatan Mejobo. Kegiatan itu dibuka langsung oleh PPL Desa Setempat, Bapak Indri Subekti P, SP yang sebelumnya sudah melakukan koordinasi dengan Ketua Kelompok Tani “Tani Luhurâ€. Dalam pembukaannya Bapak Indri menyampaikan akan pentingnya sumber-sumber alam di sekitar lokasi dalam pemanfaatannya terhadap sawah yang dikelola oleh petani. Salah satunya adalah pencarian mikro organisme lokal yang bisa didapatkan dari buah-buahan yang ada di sekitar kita, yaitu buah nanas dan pisang klutuk yang banyak tersedia di lokasi. Sementara itu Ketua Kelompok Tani, Bapak Rofi`i juga mengharapkan para petani untuk bisa dekat dengan kelompok, dekat dengan petugas sehingga kalau ada masalah maupun keluhan terkait dengan bidang usahanya bisa segera dicarikan pemecahan masalah secara bersama-sama, mengingat tujuan pendirian kelompok tani salah satunya adalah sebagai media belajar dan bekerjasama. Beberapa bahan yang disiapkan pada pembuatan MOL adalah buah pisang klutuk dan nanas yang sudah matang, gula merah tumbu dan air kelapa. Sementara alat yang disiapkan adalah galon 19 lt, botol mineral, aerator, selang akuarium dan beberapa Knee, alu/ blender, PK, glasswool. Adapun cara membuatnya adalah sebagai berikut. Semua bahan di alu atau dihaluskan atau diblender dan dimasukkan pada galon yang sudah diberi air ¼ galon. Kemudian ditutup dengan diberi saluran selang sedemikian rupa sehingga terhubung dengan sumber udara (aerator), cairan PK, penyaring glasswool dan air pembuangan. Setelah semua kondisi baik semua alat dan bahan berfungsi dengan baik dengan adanya indikasi adanya gelembung udara pada semua galon dan botol pada saat aerator terhubung dengan sumber listrik. Keadaan ini dijaga sampai dengan minimal 1 minggu. Setelah 1 minggu cairan MOL sudah bisa diaplikasikan ke lahan dengan konsentrasi 1 gelas air mineral dicampur dengan air sehingga 17 Lt atau ukuran tangki petani. Pada kesempatan tersebut Kepala Desa Mejobo Bapak H. Suhardi, SPd berkesempatan untuk hadir serta memberikan sambutannya agar petani terbuka dengan inovasi atau penemuan-penemuan baru dari Dinas Pertanian. Karena penemuan-penemuan baru pertanian tidak akan menjerumuskan petani ke keadaan yang lebih buruk, tetapi penemuan baru tersebut untuk kemajuan petani. Seperti pembuatan MOL yang baru saja dilakukan oleh petugas bersama-sama dengan petani dari segi biaya lebih bisa dijangkau oleh petani, dari segi sosial pun bisa diterima masyarakat dan semua pihak, sementara dari sisi teknisnya pun sangat mudah dilakukan oleh petani. (oleh : Indri Subekti Priyandani, SP-Penyuluh Pertanian Kab. Kudus)