Loading...

PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG PUTIH UNTUK PERTUMBUHAN MAKSIMAL

PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG PUTIH UNTUK PERTUMBUHAN MAKSIMAL
Pemeliharaan tanaman merupakan salah satu hal penting untuk mencapai keberhasilan budidaya tanaman bawang putih. Pemeliharaan tanaman bawang putih perlu dilakukan dengan baik agar tanaman tumbuh normal dan produksi maksimal. Pada dasarnya pemeliharaan bawang putih hampir sama dengan pemeliharaan tanaman lainya. Pemeliharaan tersebut, meliputi: pengairan, roguing, penyulaman, penyiangan dan pembumbunan. Pengairan Tanaman bawang putih membutuhkan air yang cukup sejak pertumbuhan awal hingga menjelang panen pada umur 80 – 90 hari, maka diperlukan pengairan. Pengairan merupakan pemberian air pada tanaman bawang putih untuk pertumbuhan dan membantu penyerapan unsur hara oleh tanaman. Namun air yang diberikan pada tanaman bawang putih harus segera meresap ke dalam tanah, karena air yang menggenang dapat menyebabkan tanaman menjadi busuk dan sebagai sumber penyakit. Selain itu, tanaman bawang putih membentuk umbi di dalam tanah sehingga air yang terlalu banyak akan membuat umbi menjadi busuk. Oleh karena itu, pada areal tanaman bawang putih perlu dibuat bedengan. Pada masa awal penanaman pengairan perlu diberikan setiap hari pada pagi atau sore, kemudian setelah tanaman tumbuh dengan baik pengairan perlu dijarangkan menjadi 2-3 hari sekali atau tergantung kelembaban tanah. Selanjutnya pada saat menjelang panen, yaitu kira-kira berumur tiga bulan, pemberian air sebaiknya dihentikan karena bawang putih telah mengakhiri siklus hidupnya. Selain itu juga untuk mencegah terjadinya pembusukan pada umbi bawang putih. Pada musim hujan, pengairan tanaman bawang putih cukup tiga hari sekali atau melihat kondisi kelembaban tanah dan kondisi tanaman. Setelah turun hujan, sebaiknya tanaman bawang putih disirami dengan air bersih dengan tujuan menghilangkan percikan tanah yang menempel di daun yang kemungkinan membawa inokulum penyakit. Sedangkan pada musim kemarau, pengairan dapat diberikan setiap hari sejak awal tanam hingga tanaman membentuk umbi dan dikurangi setelah umbi terbentuk. Walaupun musim kemarau, bila selang dua hari setelah diberi pengairan kondisi tanah masih basah, maka tanaman bawang putih tidak perlu diairi. Oleh karena itu, dituntut kepekaan petani dalam mengamati kebutuhan air bagi tanaman bawang putihnya. Pengairan tanaman bawang putih dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara leb dan cara siram. Pengairan cara leb, yaitu penggenangan lahan bawang putih selama setengah hari untuk 1 hektar lahan, bila sudah selesai air harus segera dibuang. Pengairan cara leb ini sebaiknya dilakukan pada kondisi tanah yang porous, sehingga air yang tergenang cepat habis. Sedangkan pengairan cara siram, caranya parit-parit dialirkan air dari saluran irigasi ke hingga penuh. Lalu bedengan disiram dengan menggunakan piring seng atau alat lainnya sampai basah secara rutin 3 hari sekali atau sesuai kebutuhan. Pengairan cara siram membutuhkan tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama. Waktu penyiraman pada pagi hari sebelum terik matahari. Roguing Roguing merupakan seleksi pada tanaman bawang putih yang akan digunakan khusus untuk benih saja, agar terjaga kemurnian umbinya yang harus sesuai dengan varietas induk. Roguing dilakukan melalui seleksi negatif dan seleksi positif. Seleksi negatif, yaitu kegiatan menandai tanaman bawang putih yang menyimpang dari varietas induk dan hasil umbinya untuk konsumsi atau tidak untuk benih. Sedangkan seleksi positif, yaitu kegiatan mengamati tanaman yang sesuai deskripsi varietas induk untuk dijadikan sumber benih. Sebelum pertanaman bawang putih diperiksa oleh BPSB, dilakukan pencabutan tanaman yg tidak dikehendaki. Lalu diidentifikasi tanaman bawang putih yang tidak cocok dengan deskripsi varietas aslinya. Jika ada tanaman yang tidak sesuai deskripsi harus ditandai dan pada saat panen harus dipisahkan dan tidak untuk benih. Pengamatan dilakukan dengan sampel yang dapat mewakili. Penyulaman Penyulaman harus dilakukan pada tanaman bawang putih, yaitu kegiatan mengganti tanaman bawang putih yang tidak mau tumbuh, atau mati, atau tumbuhnya tidak normal. Penyulaman dapat dilakukan seminggu setelah bawang putih ditanam, dimana umbi yang ditanam sudah dapat diamati pertumbuhanya. Biasanya untuk kebutuhan penyulaman sudah disiapkan benih cadangan yang ditanam disekitar bibit pokok, yaitu di pinggir bedengan, atau disiapkan di tempat kusus. Penyiangan dan Pembumbunan Penyiangan merupakan perlakuan membersihkan bedengan dari gulma dan tumbuhan pengganggu lainnya serta tanaman bawang putih yang sakit. Penyingan bertujuan untuk menjaga kebersihan kebun dan kesehatan tanaman bawang putih. Penyiangan ini harus dilakukan, karena adanya gulma dapat menurunkan produksi sampai 80%, terutama bila pemberian mulsa kurang baik dapat berakibat pertumbuhan rumput menjadi subur. Cara penyiangan dapat dilakukan secara mekanis, yaitu dengan mencabut gulma dan tanaman penggangu lainnya, lalu dibenamkan diantara bedengan. Kemudian tanaman bawang putih yang sakit dicabut dan dibakar atau dibenamkan ditempat terpisah dengan lahan bawang putih. Cara penyiangan dapat juga dengan pemakaian herbisida TOK 50 WP dapat disarankan untuk pengendalian gulma terutama untuk skala penanaman yang sangat luas. Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu saat tanaman bawang putih berumur 25 – 30 hari setelah tanam (HST), 50 – 60 HST, dan 70 – 80 HST, atau tergantung kondisi kecepatan pertumbuhan gulma atau adanya tanaman yang sakit. Penyiangan sekaligus dilakukanya pendangiran untuk penggemburan tanah. Pada saat umbi mulai terbentuk, penyiangan dan penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar dan umbi baru. Saat penyiangan sekaligus dilakukan pembumbunan, karena pada bagian tepi bedengan sering mengalami longsor akibat dari penyiraman maupun hujan. Tujuan pembumbunan untuk memperkokoh tanaman,bawang putih agar tidak roboh dan menghasilkan umbi yang besar. Pembumbunan dilakukan dengan cara mengambil tanah pada bagian parit, kemudian ditaruh pada bedengan yang longsor dan menutup kembali umbi bawang yang perakaranya terlihat keluar. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah dari selokan/parit di sekeliling bedengan, agar bedengan menjadi lebih tinggi dan parit menjadi lebih dalam sehingga drainase menjadi normal kembali. (Penulis: Susilo Astuti H. – Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber Pustaka: Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Bawang Putih (Allium sativum L) Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. 2009. Profil Bawang Putih. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2010. Dari berbagai sumber.