Sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang dapat digunakan sebagai makanan pokok yang potensial, dan dapat pula dijadikan bahan baku agroindustri, misalnya sebagai bahan baku penyedap makanan (monosodium glutamate), asam laktat (bahan baku plastik yang dapat terurai ), gula cair (high fructose syrup) dan bahan baku energi terbarukan. Pengembangan kebun sagu akan diarahkan ke tingkat petani, dengan tujuan untuk menjaga kontinuitas sumber genetik, pelestarian komoditas unggul serta meningkatkan kesejahteraan petani di sentra-sentra produksi. Selain itu pengembangan sagu dapat dilakukan dengan menata hutan sagu menjadi kebun sagu yang dikelola dan dilakukan pemeliharaan tanaman dengan baik. Pemeliharaan tanaman sagu dilakukan untuk memperoleh pati yang optimal, meliputi penyulaman, penjarangan anakan atau pemangkasan, pengendalian gulma dan pengendalian hama penyakit. PenyulamanPenyulaman adalah kegiatan penanaman kembali bagian-bagian yang kosong bekas tanaman mati atau rusak sehingga terpenuhi jumlah tanaman normal dalam satu kesatuan luas tertentu sesuai jarak tanamnya. Penyulaman dilakukan menggunakan benih tanaman yang baik yang sama umurnya, sehingga umur tanaman dapat seragam.Penjarangan anakan atau pemangkasanPenjarangan adalah suatu tindakan pengurangan banyaknya tanaman untuk memberi ruang tumbuh bagi tanaman yang tersisa. Penjarangan pohon sagu idealnya dilakukan sekali dalam setahun. Dalam satu rumpun maksimal 10 tanaman dengan berbagai tingkat umur. Dalam 1-2 tahun hanya boleh tumbuh satu tanaman sagu, sehingga dalam 1-2 tahun akan panen 1-2 pohon sagu. Pengendalian GulmaPengendalian gulma berguna untuk memperkecil kompetisi hara dan juga untuk menghilangkan inang bagi Organisme Pengganggu Tanaman. Pengendalian gulma dilakukan sesuai dengan pengamatan di lapangan, sebaiknya dilakukan secara rutin 3-4 kali setahun. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dan kimiawi. Secara mekanis dengan menebang pohon dengan cara pembabatan atau secara kimiawi menggunakan herbisida. Pengendalian dilakukan di sekitar piringan tanaman sagu dan pada lorong. Pengendalian hama Hama utama tanaman sagu adalah Oryctes rhinoceros, L, Rhinchophorus ferrugineus Oliver, Sexava spp, Artona spp, babi hutan dan kera. Pengendalian hama dilakukan secara mekanis, kimiawi dan biologis. Secara mekanis dengan menebang pohon dan dibakar, secara kimiawi dengan insektisida seperti Heptachlor10 gr, Diazine 10 gr, BHC dan lain-lain. Penyemprotan pestisida hanya dilakukan jika ada serangan yang telah melewati ambang batas.Hama kumbang Oryctes. Pengendalian hama kumbang Oryctes dilakukan secara terpadu melalui tindakan sanitasi, pemanfaatan musuh alami seperti Baculovirus oryctes dan Metarhizium anisopliae, penggunaan feromon, kapur barus dan serbuk mimba.Pengendalian dengan sanitasi dilakukan dengan menebang tanaman yang sudah mati. Pengendalian dengan musuh alami, untuk mengendalikan populasi hama Oryctes, dalam 1 ha cukup dilepas 5-10 ekor kumbang oryctes yang terinfeksi Baculovirus. Hama sexavaPengendalian hama sexava dapat dilakukan dengan: (1) pelepasan parasitoid telur Leefmansia bicolor; (2) penggunaan bioinsektisida Metabron dengan bahan aktif cendawan Metarihizium anisopliae var anisopliae; (3) Penggunaan lem serangga yang dipasang pada batang sagu; dan (4) Perangkap Sexava tipe BALIT PALMA MLA, yang rata-rata dapat menangkap 3,04 nimfa/pohon/hari atau 0,04 imago/pohon/hari. Hama Arthona catoxanthaHama ini dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman sagu. Pengendalian hayati dengan parasitoid Apanteles artonae dan Bessa remota. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida sistemik apabila terdapat lebih dari 3 butir telur dan larva muda per anak daun yang diamati. Kumbang Sagu Rynchophorus ferrugineusKumbang dewasa berukuran 3-4 cm, berwarna merah berkarat, mulut seperti belalai. Serangan kumbang sagu sering merupakan kelanjutan dari serangan O. rhinoceros, oleh karena itu serangan O.rhinoceros harus dihindari. Bila serangan terjadi pada titik tumbuh, dapat menyebabkan kematian pohon.Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara membersihkan kebun dan memusnahkan pohon yang mati agar tidak menjadi sumber infeksi. Pengendalian hama dapat juga dengan menggunakan musuh alami Parasitoid larva (Scolia erratica), nematode entemopatogen pada stadia larva dan imago (Heterorhabditis indicus, Steinernema riobrave dan S. carpocapsae).Pengendalian penyakitPenyakit yang biasanya ada pada tanaman sagu adalah penyakit bercak kuning. Penyakit bercak kuning disebabkan oleh cendawan Cercospora. Gejala tanaman yang terserang penyakit bercak kuning yaitu daun berbecak becak coklat dan dapat mengakibatkan seluruh daun berbercak-bercak kering atau berlobang-lobang. Jika terjadi serangan yang cukup hebat, maka canopy tanaman sagu akan tampak meranggas. Pengendalian penyakit ini hanya dengan pemakaian fungisida dan sanitasi lingkungan. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber: 1. Pedoman Budidaya Sagu (Metroxylon spp) yang baik. Direktorat Jenderal Perkabunan. Kementerian Pertanian. 2014.2. disbun.inhilkab.go.id3. http://id.m.wikipedia .org