Budidaya pohon pisang tidak rumit, sehingga membuat orang tertarik untuk menanamnya. Pisang bisa tumbuh di seluruh wilayah Indonesia, pohonnya bisa tumbuh dimana saja, di samping jalan, di pinggir sungai, di halaman rumah, di kebun, hingga di semak belukar hutan pun bisa tumbuh. Dalam memilih jenis/varietas pisang yang akan dikembangkan berdasarkan permintaan pasar, sehingga produk yang dihasilkan sudah memiliki jaminan pasar dan disesuaikan dengan kondisi agroklimat setempat. Untuk jenis pisang yang memiliki varietas yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian, sebaiknya menggunakan varietas tersebut. Varietas pisang yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia sampai saat ini adalah varietas Raja Nangka dan varietas Ameh Pasaman. Untuk mendapatkan benih pisang yang baik, dapat berasal dari anakan, bonggol ataupun kultur jaringan. Berikut cara untuk mendapat benih yang baik :1. AnakanAnakan diambil berasal dari rumpun/pohon yang sudah dewasa, dengan persyaratan rumpun tampak baik, unggul, sehat dan tidak terinfeksi hama penyakit. Anakan diperoleh dari tunas (sucker) yang tumbuh pada bongolnya berupa :1) Benih rebung berupa tunas yang belum berdaun sehingga menyerupai rebung, tinggi antara 20 – 30 cm;2) Benih anakan berupa tunas yang daunnya telah keluar antara 3 – 5 helai perpohon dengan diameter 10 – 15 cm.2. Bonggol Bonggol atau rebung dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan dengan cara sebagai berikut :1) Bonggol dari tanaman yang baru dipanen/dibongkar dan dipilih dari tanaman dewasa, sehat dan bebas dari hama/penyakit;2) Bonggol dibersihkan dan akarna dibuang dengan tidak merusak mata tunas. Bonggol dibelah menurut ukuran mata tunas dengan ukuran 10x10x10 cm dengan berat lebih kurang 150 gr/benih, sehingga dihasilkan 4- 8 belahan bonggol. Bonggol yang sehat bila dibelah berwarna putih;3) Benih didesinfektan dengan formalin selama 20 menit atau dengan air hangat dengan suhu 550C selama 10-15 menit. Cara ini efektif untuk mengendalikan nematoda (cacing renik);4) Cara lain dapat menggunakan pestisida nabati yang berasal dari hasil ekstrak daun sirih 50 gram dan lengkuas 50gram yang dilarutkan (evavporasi) dengan menggunakan 1 liter mathanol. Kemudian pada aplikasi 1 liter ekstrak daun sirih dan lengkuas ini ditambah 9 liter air;5) Benih kemudian dicelupkan ke dalam larutan fungisida sitemik dengan dosis 2 – 5%. Cara ini mengurangi serangan penyakit pada bongol;6) Potongan bonggol ditanam di media tumbuh campuran tanah dan pupuk kandang (1:1) di dalam polybag berukuran 30x30 cm atau bedengan, dengan posisi tegak. Media yang digunakan sebaiknya disucihamakan/disterilkan dulu dengan cara mengukus selama 2 jam sejak air mendidih;7) Persemaian sebaiknya terletak di tempat yang ternaungi. Pemeliharaan terpenting pada persemaian adalah menjaga kelembaban dengan cara disiram secara teratur. Bibit siap tanam setelah berumur 3-4 bulan.3. Kultur JaringanKeuntungan menggunakan bibit secara kultur jaringan adalah bibit bebas penyakit dan dapat dihasilkan dalam jumlah besarserta seragam sehingga waktu panen dapat diatur. Secara umum bibit pisang asal kultur jaringan yang sudah siap tanam antara lain adalah tinggi 30-40cm, dengan diameter batang 3-4 cm serta telah memiliki daun 3-5helai.Tahapan penting yang harus diperhatikan bila menggunakan benih yang berasal dari kultur jaringan adalah aklimatisasi yaitu :1) Planlet ditanam diareal aklimatisasi di bawah sungkup plastik tertutup dengan jarak tanam 2,5x3 cm atau 1.250 tanaman per satu meter persegi;2) Media yang digunakan adalah campuran kompos: tanah pasir (2:1) yang telah disucihamakan/steril dan ditambah pupuk NPK untuk daun;3) Kondisi media harus lembab dengan melakukan penyiraman sevara berkala;4) Planlet diperlihara di bawah sungkup plastik selama 2 minggu, dimana 1 minggu pertama plastik ditutup rapat agar diperoleh kelembaban 95% dan pada satu minggu selanjutnya plastik dibuka;5) Penyiraman dan penyemprotan dilakukan paling sedikit 2 kali sehari agar kelembaban terjaga. Pada uumnya planlet telah memperlihatkan vigor tanaman yang baik;6) Areal aklimatisasi dilindungi dengan paranet yang mempunyai intensitas naungan 65-80%.( Edizal Pusat Penyuluhan Pertanian)Bahan Bacaan : Profil Pisang Profil Sentra Produksi, Ditjen Hortikultura - Kementan