Loading...

PEMUPUKAN BERIMBANG TANAMAN PADI (Oryza Sativa)

PEMUPUKAN BERIMBANG TANAMAN PADI (Oryza Sativa)
Pemupukan ialah pemberian bahan bagi tanaman yang bertujuan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Agar tercapai tujuan dalam pemupukan, maka pupuk harus diaplikasikan secara tepat. Misalkan dalam pemupukan petani dapat ditebarkan langsung ke permukaan tanah, cara pemupukan seperti ini bias dibilang yang paling sering dilakukan oleh para petani. Umumnya, pemupukan dengan cara ditebarkan langsung ke permukaan tanah bisa diterapkan pada tanaman dengan jarak tanam rapat, pupuk dasar di perkebunan, atau di tanah bedengan. Bisa juga pemupukan dilakukan pada tanaman yang sudah tumbuh (side dress) atau langsung ditebarkan ke tanaman (top dress). Biasanya, pemupukan dilakukan pada tanaman muda. Agar pupuk tidak terbuang percuma, sebaiknya tanah diolah terlebih dahulu sebelum dilakukan pemupukan. Terutama untuk jenis pupuk yang bersifat higroskopis seperti urea, ZA, KCI, dan NPK. Karena itu, pemberian pupuk pada tanaman yang sudah tumbuh dilakukan pada saat penyiangan gulma. Hal ini berguna agar pupuk tertimbun di dalam tanah. Meskipun demikian, pemupukan dengan cara ini juga memiliki kelemahan, yakni penggunaan pupuk lebih boros. Selain itu, pupuk juga sulit mencapai daerah perakaran tanaman karena hanya bisa mencapai permukaannya saja. Aplikasi pemupukan ini ditulis Redaksi AgroMedia dalam buku Petunjuk Pemupukan. Dalam buku tersebut, Redaksi AgroMedia juga memaparkan manfaat penggunaan pupuk organik dan anorganik secara tepat, faktor-faktor penunjang kesuburan tanah, jenis-jenis pupuk dan kegunaannya, serta aplikasi pemupukan yang tepat di lapangan. Salah satu contoh dosis, jenis pupuk dan waktu pemupukan yang tepat pada tanaman padi adalah sebagai berikut: Pemupukan susulan pertama dilakukan saat padi berumur 7-10 HST. Pupuk yang digunakan adalah Urea 75 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCL 50 kg/ha. Pemupukan susulan kedua diberikan saat tanaman padi berumur 21 HST menggunakan pupuk Urea sebanyak 150 kg/ha. Pemupukan susulan ketiga pada saat umur padi 42 HST menggunakan 75 kg/ha Urea dan 50 kg/ha KCl. Dari tiga kali pemupukan tersebut, dalam satu musim tanam padi pada luasan 1 hektar membutuhkan pupuk Urea (Nitogen) 300 kg, SP36/TSP (Phospor) 100 kg, dan KCl (Kalium) 100 kg. Tanaman padi memerlukan banyak hara N dibanding hara P ataupun K. Pupuk Urea perlu diberikan sebanyak 3 kali, agar pemberian pupuk N menjadi lebih efisien terserap oleh tanaman padi. Sedangkan pemberian pupuk KCl dilakukan 2 kali, agar proses pengisian gabah menjadi lebih baik. Untuk memantau kecukupan pupuk Urea (Nitrogen) pada tanaman padi bisa menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Pada alat ini terdapat empat kotak skala warna, mulai warna hijau muda hingga hijau tua, yang menggambarkan tingkat kehijauan daun tanaman padi. Sebagai contoh, jika daun tanaman berwarna hijau muda berarti tanaman kekurangan hara N sehingga perlu dipupuk. Sebaliknya, jika daun berwarna hijau tua atau tingkat kehijauan daun sama dengan warna dikotak skala 4 pada BWD berarti tanaman sudah memiliki hara N yang cukup sehingga tidak perlu lagi dipupuk. Monitoring pemberian pupuk dengan alat BWD dilakukan sejak 14 HST sampai fase berbunga (63 HST) setiap 7 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan, pemakaian BWD dalam kegiatan pemupukan N dapat menghemat penggunaan pupuk urea sebanyak 15-20 % dari takaran yang umum digunakan petani padi tanpa menurunkan hasil. ( Eka Hardiyanti_THL-TBPPD Kabupaten Kuningan Jawa Barat ) .