Loading...

Pemupukan Pada Lahan Gambut Untuk Tanaman Pangan

Pemupukan Pada Lahan Gambut Untuk Tanaman Pangan
Lahan gambut berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai areal pertanian yang produktif. Komoditas yang dapat dikembangkan antara lain tanaman pangan seperti: padi, palawija; tanaman hortikultura seperti jeruk, lidah buaya, dan berbagai sayuran; dan tanaman perkebunan seperti karet, kelapa, kopi, dan kelapa sawit. Pengembangan lahan gambut harus memperhatikan aspek biofisik lahan, sosial ekonomi dan lingkungan. Keterpaduan antara ketiga aspek tersebut diharapkan dapat berdampak terhadap keberlanjutan sistem pertanian di lahan gambut. Beberapa daerah gambut telah menunjukkan keberhasilan yang menggembirakan seiring dengan waktu berkembang hingga menjadi sentra-sentra produksi pertanian setelah mengalami masa-masa "sulit". Misalnya Desa Kalampangan, Kecamatan Kereng Bengkel, Kalimantan Tengah yang dibuka tahun 1982, sekarang menjadi daerah sentra produksi jagung manis dan sayuran; Desa Sungai Slamet dan Desa Rasau, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat merupakan sentra hortikultura (sayuran dan lidah buaya), daerah Kertak Anyar dan Gambut, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan sebagai sentra padi serta beberapa daerah lainnya di Sumatera seperti daerah Telang I, Kecamatan Telang, Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan menjadi daerah sentra padi. Produktivitas Lahan Gambut Dari beberapa hasil pemantauan dan penelitian ditunjukkan bahwa produktivitas tanaman pangan di lahan gambut secara umum relatif rendah dan sangat bervariasi, tergantung pada kondisi tanah dan pengelolaan lahannya. Produktivitas padi lokal, misalnya hanya mencapai antara 2,0-2,8 ton gabah kering giling (GKG)/ha, padi sawah unggul antara 3,4-5,5 ton GKG/ha, kedelai antara 0,6-1,7 ton biji kering/ha, dan jagung antara 0,5-2,0 ton pililan kering/ha. Peningkatan pemberian input pada lahan gambut dapat meningkatkan produktivitas tanaman, seperti padi dapat mencapai 5,0-7,0 ton GKG/ha/musim, jagung 2,0-2,5 ton pipilan kering/ha, dan kedelai 2,0-2,3 ton biji kering/ha. Teknologi Inovatif Pengelolaan Lahan Pemanfaatan lahan gambut dapat berhasil jika pengelolaan lahan mengikuti konsep dan teknologi yang tepat, yaitu sesuai dengan karakterisitik lahan dan lingkungannya. Pengelolaan lahan gambut sejatinya secara terpadu dan holistik yang meliputi penyiapan lahan, pengelolaan air, perbaikan atau ameliorasi tanah dan pemupukanPeningkatan produktivitas lahan gambut seringkali terkendala dengan kekahatan hara, kemasaman tanah tinggi, daya menahan beban tanah yang rendah dan kekeringan pada musim kemarau dan kebanjiran pada musim hujan. Komponen inovasi teknologi pengelolaan tanaman terkait dengan sumber daya lahan antara lain: penyiapan lahan, penanaman, pengelolaan air atau drainase, pemberian amelioran/ameliorasi, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman.Pemupukan Kesuburan lahan gambut secara umum rendah karena kahat hara baik makro (N, P. K, Ca dan Mg) maupun mikro (Cu, Zn, B, Mo). Pemupukan di lahan gambut diperlukan karena beberapa penelitian menunjukkan respon tanaman yang baik. Pupuk dapat berupa pupuk organik, pupuk hayati, maupun pupuk anorganik. Kahat hara mikro di lahan gambut terjadi karena adanya khelat (ikatan) oleh bahan organik (Rachim, 1995). Oleh karena itu, diperlukan pemupukan unsur mikro tersebut antara lain terusi (Cu), seng sulfat (ZnSO4) masing-masing 15 kg/ha/tahun, mangan sulfat (MnSO4) 7 kg/ha, sodium molibdat (Na2MoO4.2H20) dan borax (B) masing-masing 0,5 kg/ha/tahun. Pupuk mikro biasanya diberikan dalam bentuk cair atau dilarutkan terlebih dulu. Kekurangan unsur mikro dapat menyebabkan bunga jantan steril sehingga terjadi kehampaan pada tanaman padi, tongkol kosong pada jagung atau polong hampa pada kacang tanah. Pugam (sejenis amelioran dan pupuk) mengandung unsur mikro yang diperlukan tanaman, sehingga pemupukan unsur mikro tambahan tidak diperlukan lagi. Pemupukan harus dilakukan secara bertahap karena daya pegang (sorption power) hara tanah gambut tergolong rendah sehingga pupuk mudah tercuci. Penggunaan pupuk lepas lambat (slow release) seperti fosfat alam dan pugam lebih baik dibandingkan dengan SP-36, karena akan lebih efisien dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa ci al., 1991). Pugam mempunyai kandungan hara utamanya P, tergolong pupuk bereaksi lambat dan mampu meningkatkan serapan hara, mengurangi pencucian hara P. dan meningkatkan pertumbuhan tanaman sangat signifikan dibandingkan SP-36. Pemupukan fosfat alam yang mempunyai reaktivitas tinggi dan mengandung Cu dan Zn lebih tinggi berpotensi untuk digunakan pada tanah gambut. Pemberian fosfat alam Ciamis dengan takaran 50% serapan P cenderung meningkatkan bobot kering dan serapan P tanaman padi berturut-turut sebesar 82% dan 106% dibandinkan kontrol (Hartatik, 2003). Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa berbentuk padat maupun cair dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Permentan No 70 tahun 2011). Kriteria suatu bahan dapat dijadikan pupuk organik apabila mempunyai kandungan hara makro (N + P205 + K20) minimal 4%. Pupuk hayati adalah produk biologi aktif terdiri atas mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan dan kesehatan tanah misalnya EM-4, Biotara, Bio Sure. Biotara dan Biosure adalah sejenis pupuk hayati untuk lahan rawa atau gambut (Balittra, 2013). Pemberian pupuk kandang dan pemupukan NPK + Cu dan Zn mampu meningkatkan hasil tanaman pangan yang ditanam pada lorong tanaman kelapa sawit muda. Pupuk kandang dapat berperan dalam meningkatkan ketersediaan dan serapan hara, aktivitas mikroba serta menambah kadar abu/minineral pada gambut. Pemberian pupuk N, P, K, dengan takaran 90; 60; 60 (kg/ha), serta Cu dan Zn takaran 5,0 kg/ha masing-masing pada lahan gambut pada pertanaman padi dapat meningkatkan hasil padi. Sebagai acuan, dapat digunakan takaran untuk tanaman jagung adalah 200-250 kg Urea/ha, 125-150 kg SP-36/ha, dan KCI 100-125 kg/ha. Kacang tanah dengan takaran 75 kg Urea/ha, 100-125 kg SP-36/ha, dan 100-125 kg KCI/ha. Urea dan KCI diberikan dua kali, yaitu ½ bagian pada saat tanam dan sisanya pada umur 3-4 minggu atau bersamaan dengan penyiangan. Pupuk SP-36 diberikan pada saat tanam. Untuk lahan gambut sedang (tebal 1-2 m) sebaiknya diberi pula pupuk mikro berupa terusi masing-masing sebanyak 2,5-10 kg Cu/ha dan 2,5-10 kg Zn/ha. Semakin tebal gambut, semakin banyak membutuhkan pupuk tersebut. Pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai, benih kedelai yang ditanam sebaiknya dicampur dengan rhizobium (legin) sebanyak 10-15 g/ kg benih. Hasil penelitian Noor et al. (2005), kandungan unsur mikro Cu dan Zn di lahan gambut Desa Kanamit, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah masing-masing adalah 4.95 ppm dan 11.85 ppm tergolong sangat rendah. Pemberian Cu lebih efekiif melalui daun karena sifat Cu yang diikat kuat oleh asam-asam organik dalam gambut dan kurang mobil dalam tanaman. Peniberian Biotara (sejenis pupuk hayati) mampu meningkatkan efisiensi pemupukan anorganik sampai 30% pada pertanaman padi dan meningkatkan hasil padi sampai 20% (Balittra, 2010). Penulis: Marwati (PP, Pusat Penyuluhan Pertanian-Badan PPSDMP)Sumber: Litbang Pertanian