Salah satu kunci utama keberhasilan peningkatan produktivitas jagung adalah pengaplikasian pupuk berimbang ke dalam tanah. Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil yang maksimal, jika unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat meningkatkan hasil panen secara kuantitatif maupun kualitatif. Pemupukan akan meningkatkan ketersediaan hara, kesehatan tanaman, dan menekan perkembangan penyakit yang menular. Aplikasi pemupukan ke dalam tanah perlu mempertimbangkan jenis pupuk serta dosis/takaran pada jenis tanah dan lingkungan tertentu. Pemupukan perlu memperhatikan kadar unsur hara tanah, jenis pupuk yang sesuai. Selain itu juga kondisi lingkungan fisik di areal penanaman khususnya pedo-agroklimat, merupakan faktor penting perlu diperhatikan dalam mencapai produktivitas optimal tanaman. Pemberian pupuk nitrogen akan meningkatkan produksi, dan untuk memberikan hasil lebih baik, pemberian pupuk nitrogen dibarengi dengan pemberian pupuk phosfat dan kalium. Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen akan tampak kerdil, warna daun hijau muda kekuning-kuningan, buah terbentuk sebelum waktunya dan tidak sempurna. Ketersediaan unsur N di dalam tanah dalam jumlah yang beraneka ragam. Lahan pertanian umumnya mengandung unsur N dalam jumlah yang tidak mencukupi, terkecuali pada tanah baru hasil pembukaan lahan vegetasi hutan. Pada lahan latosol, podsolik, vulkanik dan mediteran, pemberian pupuk Urea dengan dosis 200 - 400 kg/ha memberikan efisinsi pemupukan (setiap kg hasil panen diperoleh dari setiap kg pupuk urea yang diberikan) 6.0–7.5. Berbeda dengan pupuk N, pemberian pupuk K perlu diperhatikan karena tidak semua tanah memerlukan tambahan pupuk P. Tanah vulkanis di lahan kering, tanaman jagung kurang tanggap terhadap pemupukan P. Berbeda halnya pada tanah berkapur, pemberian pupuk P dosis 100–200 kg/ha menunjukkan efisiensi pemupukan yang cukup baik. Pengaruh yang cukup signifikan terlihat jelas pada tanah Podsolik dimana ketersediaan P merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman, dikarenakan kandungannya yang sangat rendah dan unsur P sangat kuat terikat di dalam tanah ini sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Sama seperti pupuk P, pengaplikasin pupuk K ke dalam tanah perlu diperhatikan karena pemupukan K umumnya kurang memberikan tanggapan.Dosis pemupukan untuk budidaya tanaman jagung yang umumnya dianjurkan yaitu pupuk Urea 450 kg/ha; pupuk SP-36 100 kg/ha; dan KCl 100 kg/ha. Pupuk Urea diaplikasikan sebanyak 3 kali masing-masing 150 kg/ha yaitu pada saat tanam, 3 Minggu Setelah Tanam (MST) dan 6 MST. Sementara itu, pupuk SP-36 dan KCl diberikan ke dalam tanah saat tanam. Alternatif lain dosis pemupukan untuk jagung, apabila menggunakan pupuk majemuk yaitu pemberian pupuk NPK Phonska (15-15-15) 400 kg/ha dan Urea 200 kg/ha. Pupuk NPK Phonska diaplikasikan 2 kali yaitu saat tanam (250 kg) dan saat 3 MST (150 kg). Sama halnya dengan NPK Phonska, pupuk Urea juga diaplikasikan 2X yaitu 100 kg saat tanaman berumur 3 MST dan 100 kg saat 6 MST. Pemberian pupuk ke dalam tanah dilakukan dengan cara ditugal dengan jarak 7-10 cm di samping lubang tanaman dan ditutup dengan tanah. Selain pupuk anorganik, pupuk organik (pupuk kandang/kompos) perlu diberikan ke dalam tanah untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Pupuk kandang diperoleh dari kotoran sapi, kambing, atau kerbau. Kotoran hewan peliharaan seperti ayam , burung serta kelinci bisa digunakan untuk pembuatan pupuk kandang. Prosesnya sama seperti pembuatan pupuk kompos. Dikubur dahulu agar tidak berbau, biarkan mikroorganisme yang mengurainya. Sisa-sisa makanan yang dikeluarkan oleh binatang pemakan rumput jauh lebih baik, jauh lebih baik digunakan untuk pupuk. Penggunaan pupuk kandang, setelah pupuk kandang mengalami pemasakan, melalui penyimpanan di udara terbuka selama 6 bulan atau mempercepat proses dekomposisi menggunakan bahan Efektif Mikroorganisme (EM), mempercepat penguapan gas-gas beracun, penguraian bahan organik, sehingga bahan organik lebih tersedia bagi tanaman. Bahan yang dikandung kotoran sapi yaitu Nitrogen 0,53%, P2O5 sebanyak 0,29%, K2O sebanyak 0,48%, Ca sebanyak 0,29%, Mg sebanyak 0,11%, SO sebanyak 0,36%, bahan organik sebanyak 16,47%, abu sebanyak 2,06% dan beberapa unsur mikro seperti B, Cl, Cu, Mn, Zn dalam jumlah sedikit.Kotoran yang dihasilkan ternak sapi ada dua macam yaitu berupa kotoran padat dan kotoran cair. Limbah sapi cair memiliki kandungan P lebih banyak dibandingkan kotoran padat. Sebaliknya pada limbah sapi yang berbentuk padat, kandungan K-nya lebih banyak. Karena limbah sapi tergolong kategori pupuk dingin, penggunaan kotoran sapi sebaliknya dilakukan pada tanah atau tanaman 3 – 4 minggu setelah masa pembuatan pupuk. Dengan menggunakan pupuk buatan sendiri, hasil yang didapat jauh lebih sehat, karena pupuk yang digunakan adalah alami tanpa bahan buatan. Tanaman jagung membutuhkan pipik kadang untuk setiap hektar lahan sekitar 20 ton. Pemberian pupuk buatan untuk tanman jagung seperti urea, TSP dan KCL atau pupuk lengkap dapat membantu kebutuhan tanaman jagung akan nutrisi. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk organik dapat dilakukan dengan menggunakan ekstrak organik atau bioaktivator. Ektrak organik merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik yaitu limbah pertanian, peternakan dan perikanan. Bahan ini mengandung berbagai macam asam amino, fitohormon, mikroba menguntungkan, berbagai vitamin dan nutrisi esensial yang berperan dalam mengaktifkan dan menstimulasi pertumbuhan mikroba di rizosfir maupun filosfir tanman. Efisiensi pemupukan, jenis dan dosis pupuk yang diaplikasikan sebaiknya didasarkan pada hasil analisis/uji tanah (Soil Testing). Akan tetapi pendekatan tersebut dihadapkan pada keterbatasan areal yang tanahnya telah dianalisis, adanya perubahan status hara tanah seiring dengan lamanya pemanfaatan dan pengelolaan hara serta sulitnya petani mengakses fasilitas uji/analisis tanah tersebut karena masih kurangnya perangkat uji tanah (Soil Test Kit) yang beredar di kalangan kelompok petani dan belum intensifnya penyuluhan pertanian terkait analisis tanah dari petugas penyuluh lapang Dinas Pertanian di daerah-daerah. Ir. Amirudin Aiding, Beng,MM. Sumber : 1. Prahasta, Arief. 2009. Budidaya Usaha Pengolahan Agribisnis Jagung. Bandung : Pustaka Grafika2. Tim Karya Mandiri. 2010. Pedoman Bertaman Jagung. Bandung : Nuansa Aulia.3. Pioneer (Dupont).Pemupukan dan Pengairan. https://www.pioneer.com, diakses 12 Agustus 2015)