Loading...

PENANAMAN PADI

PENANAMAN PADI
Pengaturan sistem tanam yang baik diharapkan dapat menciptakan lingkungan tumbuh yang baik bagi tanaman, sehingga dapat memunculkan potensi genetiknya secara maksimal. Faktor lingkungan yang paling penting dalam pertumbuhan tanaman menurut Sri Setyati (1979) adalah, (1) tanah memberikan hara dan kelembaban disamping sebagai pendukung mekanik, (2) energi penyinaran dalam bentuk panas dan cahaya, dan (3) udara yang memberikan karbondioksida dan oksigen. Dengan pengaturan bentuk pertanaman dan jarak tanam yang tepat diharapkan dapat mengurangi persaingan antara tanaman dalam memperoleh faktor-faktor pendukung pertumbuhan tersebut dari lingkungan tumbuhnya. A.PENANAMAN PADA SAWAH IRIGASI Penanaman padi pada lahan sawah beririgasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu tanam pindah dan tanam benih langsung. 1.Tanam pindah Tanam pindah adalah cara tanam padi yang telah dilakukan sejak jaman dahulu dan sampai saat ini merupakan cara tanam yang paling banyak dilakukan oleh petani. Bibit yang ditanam berjumlah 1 - 3 bibit per rumpun dengan menggunakan bibit muda berumur antara 10 - 15 hari. Penggunaan bibit muda dapat menekan stres bibit pada saat dipindah dan dapat menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak sehingga penggunaan benih dapat dihemat. Pengaturan tanaman dilahan pertanaman dapat dilakukan dengan berjajar atau segi empat yang selanjutnya dikenal dengan istilah legowo dan tegel. 2.Tanam Benih Langsung (Tabela) Penanaman padi secara langsung (Tabela) membutuhkan benih sekitar satu setengah kali lebih banyak dibandingkan dengan cara tanam pindah, kebutuhan benih mencapai 30-40 kg/ha. Oleh karenanya, benih yang akan ditanam harus bermutu baik. Sebelum benih disebar terlebih dahulu direndam air selama + 12 jam dan dianginkan selama + 12 jam. Kemudian benih dapat disebar di petak sawah dengan menggunakan Atabela (Alat tanam benih langsung). Jarak diantara barisan 25 cm. B.PENANAMAN PADA LAHAN RAWA PASANG SURUT Untuk keberhasilan usahatani padi di lahan pasang surut, dianjurkan menggunakan varietas-varietas yang sesuai ditanam menurut berbagai tipe lahan dan musim di lahan pasang surut yang bertipe luapan A dan B, padi sawah dapat diusahakan dua kali setahun. C.PENANAMAN PADI GOGO Waktu tanam padi gogo sangat ditentukan curah hujan dan distribusi hujan harian. Waktu tanam yang baik ialah bila curah hujan sudah mencapai 200 mm/bulan atau sekitar 60 mm/dekade dengan 2 - 3 hari hujan. Di daerah yang curah hujannya dapat diramalkan tetap, maka pertanaman padi gogo dapat dilakukan dengan baik. Penentuan waktu tanam dapat juga didasarkan pada kedalaman basah tanah, yaitu bila tanah telah basah pada kedalaman 10 -20 cm dari permukaan tanah, maka sudah dapat dilakukan tanam padi gogo. Tanam padi gogo dapat dilakukan dalam larikan, terutama untuk daerah yang datar. Cara tanam larikan adalah 20 X 30 X 20 cm. Kedalaman larikan hendaknya 3 - 5 cm, bila hujannya tetap dan hari hujan merata, maka benih yang ditanamkan akan cepat tumbuh. Pada daerah berlereng, cara tanam padi gogo yang aman adalah dengan sistem tugal, karena benih dapat berada di kedalaman 4 - 5 cm dengan kelembaban tanah yang cukup setelah itu lubang tugalan di timbun. Tanam tugal dapat mengantisipasi hilangnya benih akibat run off saat ada hujan. Ditulis kembali oleh Lidya Febrina, S. Pt (PPL Desa Pasar Terusan Kec. Muara Bulian)