Loading...

PENANAMAN PADI GOGO RANCAH DI WILAYAH KERJA PENYULUH BERSAMA MAHASISWA

PENANAMAN PADI GOGO RANCAH DI WILAYAH KERJA PENYULUH BERSAMA MAHASISWA
Penyuluhan Pertanian (BPP) Buloh Blang Ara melakukan penanaman padi gogo di Gampong Pulo Iboh bersama Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh (Unimal), Babinsa, dan kelompok tani yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2019 di Pulo Iboih Kecamatan Kuta Menanam Makmur kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh. Gogo rancah yang biasanya disebut Pade Gle dalam bahasa Aceh sangat cocok dibudididayakan di lahan tadah hujan yang mengandalkan air hujan. Berbeda dengan padi sawah yang memerlukan air sejak mulai tanam, padi gogo pada masa tanam tidak memerlukan air yang cukup banyak, namun memasuki fase pemupukan, padi ini membutuhkan air seperti padi sawah. Tanaman padi sistem gogo rancah umumnya dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan dan lahan sawah berpengairan yang sering terlambat mendapat air pengairan. Pada sistem budidaya padi gogo rancah seolah-olah kita anggap tanaman padi seperti tanaman palawija. Sehingga kebutuhan air dalam sistem ini sangatlah minim. Sistem budidaya padi gora biasanya dilakukan pada tanah-tanah yang kering atau tanah tadah hujan. Kelebihan sistem tanam gora dibanding sistem sawah diantaranya adalah penghematan tenaga kerja tanam, penghematan tenaga kerja pemeliharaan dan tentunya lebih menghemat waktu. Adapun kendala budidaya padi gora adalah ketersediaan air karena intensitas curah hujan yang tak menentu. Persiapan lahan Tanah diolah pada kondisi kering sebelum musim hujan, untuk peningkatan produktivitas tanah perlu diberi bahan organik sebanyak 5-10 t/ha, pengolahan tanah dilakukan pembajakan 2 x dan diberikan pengapuran untuk meningkatkatkan kadar keasaman tanah sebanyak 5 Ton. Penanaman Penanaman waktu tanam secara tepat dengan memperhitungkan hujan karena akan menentukan keberhasilan padi gogo, penanaman dilakukan dengan cara tugal (4-5 biji/lubang), benih yang dibutuhkan adalah 40 - 60 kg/ha untuk monokultur, Jarak tanam 20 x 20 cm atau 25 x 25 cm pada lokasi baru yang banyak terdapat ulat grayak, uret, dan lalat bibit, benih perlu dicampur dengan insektisida. Pemupukan Penggunaan pupuk merupakan salah satu program intensifikasi pertanian. Beberapa teknlogi pemupukan dilakukan sebagai usaha peningkatan produksi baik melalui pupuk anorganik maupun pupuk organik seperti pupuk kandang. Di sisi lain, penggunaan pupuk N yang berlebihan dapat menimbulkan cemaran nitrat dalam di kawasan pertaian yang berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Pada area ini (Paya Ie Duek) sebutan masyarakat Pulo Iboih tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali berladang (palawija) dengan ketergantungan pada curah hujan. Curah hujan per tahun berada pada level yang rendah. Area ini memiliki banyak sumber air dalam, dimana sampai saat ini masih belum bisa dimanfaatkan. Urea, SP36, dan KCL diberikan diberikan sebanyak Urea diberikan ½ bagian pada saat tanaman berumur 14 Hst bersama dengan keseluruhan SP36 dan KCL dan sisa Urea diberikan saat tanaman berumur 40 hst. Seluruh pupuk diisikan dalam larikan yang dibuat sepanjang baris tanaman pada saat tanah dalam kondisi lembab, kemudian tutupkembali dengan tanah atau dengan cara tugal pada jarak + 5 cm dari lubang Tanam sedalam 7 cm. Pengendalian OPT Tanda- tanda serangan organisme pengganggu sama dengan tanda- tanda serangan pada padi sawah. Demikian pula cara- cara pengendaliannya mengikuti anjuran setempat. Panen Dilakukan sebaiknya pada fase masak panen dengan ciri bila 90% gabah sudah menguning, panen pada fase masak lewat panen, yaitu saat jerami mulai mengering, pangkal malai mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah rontok saat panen, sebaiknya panen dilakukan dengan sabit bergerigi dan perontokan dengan pedal tresher.