Loading...

Penanganan Distribusi dan Pengolahan Buah Mangga

Penanganan Distribusi dan Pengolahan Buah Mangga
Buah mangga (Mangifera indica L) mempunyai daya simpan yang singkat. Penanganan pascapaen yang kurang hati-hati akan memperbesar jumlah kerusakan. Selain kerusakan mekanis dan mikrobiologis,kehilangan susutbobot selama dalam penanganan mulai dari panen sampai ke pemasaran cukup besar. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan distribusi dan pengolahan buah mangga. Penanganan distribusi dan pengolahan buah mangga memegang peranan penting karena selain dapat menekan kerusakan dan kerugian hasil, juga dapat meningkatkan nilai tambah (added value). Sumber Gambar: https://www.antarafoto.com/olahraga/v1255514189/panen-mangga Pengolahan mangga menjadi berbagai jenis olahan adalah salah satu cara untuk menyelamatkan hasil panen yang berlimpah pada saat panen raya, produk lebih awet, dan jangkauan pemasarannya menjadi lebih luas dengan risiko kerusakan yang lebih kecil Distribusi ManggaPendistribusian buah harus sesuai permintaan atau negosiasi awal agar konsumen yang membeli buah mangga dari produsen tidak merasa kecewa karena mutu dan kualitas serta quota/banyaknya buah yang telah disepakati terpenuhi. Transportasi hendaknya disesuaikan dengan jauh dekatnya lokasi pengiriman, karena akan mempengaruhi kualitas buah, serta ketepatan waktu pengirimannya. Aspek yang sangat menentukan dalam distribusi buah: tumpukan, bahan kemasan dan kelembaban. Tinggi maksimum tumpukan buah untuk transportasi disesuaikan dengan jenis kendaraan pengirim dan daya muat kendaraan (truk, minibus box berpendingin). Untuk pengepakan yang berbahan bambu maksimum 8 tumpukan (truk), untuk kemasan berbahan peti kayu maksimal 4 tumpukan (minibus) dan yang berbahan kardus maksimum 5-8 tumpukan (minibus). Tinggi tumpukan kemasan buah mangga, tergantung bahan dan kemasan itu sendiri. Ada tiga macam kemasan untuk siap kirim seperti keranjang bambu, peti kayu dan kardus. Untuk kepentingan pengiriman domestik/pasar tradisional biasanya kemasan terbuat dari keranjang bambu dengan bahan pelapis daun pisang kering dengan tinggi tumpukan maksimun 8 tumpuk. Peti kayu dengan ukuran 20-25 kg berventilasi dan diberi bahan pelapis dari potongan kertas , jerami, serutan kayu untuk keperluan pasar domestik/pasar swalayan, dengan tinggi susunan kemasan dari kayu maksimun 4 tumpukan. Kemasan dari bahan karton/kardus dengan sekat sebanyak 10-12 sekat, berventilasi dan diberi bahan pelapis dari potongan kertas, jerami, serutan kayu dengan ukuran 40 x 30 x 20 cm, dapat ditumpuk 5-8 tumpukan. Buah dalam kemasan sangat rentan dengan sinar matahari langsung, karena akan mempengaruhi kelembaban dan mutu buah. Untuk menghindarinya (perlindungan terhadap sinar matahari) perlu diperhatikan alat transportasi, terutama truk dengan terpal. Jika kendaraan tersebut berupa minibus tanpa pendingin dan berjarak jauh, upayakan kendaraan berventilasi agar buah mendapatkan udara segar dengan suhu ruang yang diinginkan. Pengolahan ManggaBuah mangga sangat potensial untuk pengembangan industri pengolahan, baik skala industri rumah tangga maupun industri besar (agroindustri). Beberapa produk olahan buah mangga yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi, diantaranya: 1. Jus atau Sari BuahProduk ini dibuat melalui proses penghancuran bahan (buah mangga) untuk memperoleh cairan (sari buah). Selanjutnya, sari buah disaring dan dipasteurisasi pada suhu 100 0 C selama 10-20 menit atau suhu 1210 C selama 4 detik. Jenis atau varietas mangga yang paling baik untuk dibuat jus adalah mangga kopyor karena sari buahnya banyak, rasa manis-asam, warna menarik dan aromanya baik. Sebagai pengawet dapat digunakan Natrium Benzoat dengan takaran 0,06 – 0,10 %. 2. Puree atau Bubur Buah Proses pembuatan puree atau bubur buah adalah dengan pengupasan mangga,, pencucian, dan pelumatan. Setelah diperoleh bentuk bubur, dilanjutkan pasteurisasi dan dimasukkan ke dalam kaleng besar atau drum plastik. Untuk memperpanjang masa simpannya, puree dapat dibekukn. Produk puree dapat diolah lebih lanjut menjadi juice, squash, selai, dodol, dan lain-lain. 3. Squash Bahan dasar squash adalah bubur buah. Proses pembuatan squash adalah mula-mula bubur buah dicampur sirup agar kekentalannya 40 - 50 % Brix, kemudian ditambahkan asam sitrat untuk mendapatkan kadar asam cairan squash 0,8 – 1,0 %. Keenceran squash disesuaikan dengan selera konsumen, yaitu dengan penambahan air. Pada umumnya setiap 100 kg bubur buah ditambahkan 68 – 158 liter air. Bahab pengawet Kalium metabisulfit 0,3 – 0,4 % dapat digunakan. 4. Bar Buah Bar buah dibuat dari bahan dasar puree dicampur gula sampai 25 %. Apabila puree atau jenis mangga kurang asam, dapat ditambahkan asam sitrat 0,4 %. Puree dituangkan ke dalam loyang setebal 1,25 – 1,50 cm, lalu dikeringkan dengan cabinet dryer pada suhu 60 70 0 C selama 20 – 24 jam. Puree kering diangkat dari loyang untuk diiris-iris atau dipotong-potong ukuran setebal 25 cm2. Puree digulung dan dibungkus dengan kertas minyak. Penyimpanan puree kering atau bar buah pada kelembaban nisbi 50 – 60 % dapat tahan sampai setengah tahun. 5. Konsentrat Produk konsentarat pada dasarnya adalah jus yang disiapkan menjadi jus yang lebih kental. Jus mangga mengandung gula cukup tinggi dan zat yang peka terhadap pemanasan pada suhu tinggi, sehingga proses pembuatan konsentrat harus dilakukan dengan evaporator vakum. Konsentrat dicampur air akan menjadi jus yang rasanya seperti jus asli. 6. Dodol Dodol mangga dibuat dari bahan baku campuran puree dengan tepung ketan, santan, dan gula. Campuran bahan direbus dan diaduk-aduk sampai menjadi kental. Adonan yang sudah masuk dan tidak lengket segera dibungkus dengan kertas minyak dan dikenal dengan dodol mangga. Susi Deliana Siregar Daftar Pustaka: Pedoman Penerapan Jaminan Mutu Terpadu Mangga, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura Bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Buah-Buahan Tropika IPB, 2002;Teknologi Penanganan Pasca Panen Buah, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2010