Loading...

PENCEGAHAN EROSI PADA LAHAN PERTANAMAN KOPI

PENCEGAHAN EROSI PADA LAHAN PERTANAMAN KOPI
Erosi ditengarai sebagai penyebab utama deradasi lahan di perkebunan kopi di Indonesia terutama di daerah dengan tingkat kemiringan tinggi. Daerah yang kemiringan lahannya tinggi jika curah hujan tinggi akan terjadi aliran permukaan yang menyebabkan terjadinya erosi., sehingga perlu diupayakan pencegahannya dengan cara membuat teras atau rorak. Teras Pada lahan pertanaman kopi dengan kemiringan kurang dari 8% tidak perlu dibuat teras bangku atau teras sabuk gunung dan rorak. Jika kemiringan lahan lebh dari 45% sebaiknya tidak dipakai untuk pertanaman kopi tapi ditanami tanaman kayu-kayuan atau sebagai hutan cadangan /hutan lindung. Ada beberapa jenis teras yaitu teras individu, teras bangku dan teras sabuk gunung. Teras Individu, dibuat untuk lahan didaerah pertanaman kopi yang curam (kemiringan lebih dari 45%). Teras individu dibuat dengan cara meratakan tanah di sekitar tanaman yang dibuat dengan garis tengah 1,0-1,5 meter. Teras bangku, dibuat dengan cara memotong lereng dan meratakan tanah di bagian bawah sehingga berbentuk susunan tangga. Teras bangku tidak untuk tanah yang mudah longsor dan jeluknya (soil depth) dangkal. Dalam pembuatan teras bangku harus mempertimbangkan aspek-aspek kesuburan tanah. Teras sabuk gunung, dibuat dengan langkah sebagai berikut: a) dibuat garis kontur yang ditandai dengan ajir; b) jarak antara kaki alat bantu pembuatan kontur disamakan dengan jarak tanam; c) perataan tanah dimulai dari ajir terasan yang paling atas; d) mencangkul tanah 1 meter di depan garis kontur (batas ajir) kemudian di tarik ke belakang sebagai bantalan teras; e) selanjutnya tanah hasil galian diinjak supaya padat dan tidak mudah terbawa air hujan. Rorak Rorak dibuat untuk konservasi air dan memelihara kesuburan tanah. Dibauat setelah benih ditanam di kebun dan pada saat tanaman produktif dibuat secara rutin setiap tahun dengan kuran rorak 120 cm x 40 cm x 40 cm. Rorak dibuat dengan jarak 40-60 cm dari batang pokok dan disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Pada lahan miring, rorak dibuat memotong lereng atausearah dengan terasan (sejajar garis kontur). Ke dalam rorak diisikan bahan organic (seresah, hasil penyiangan gulma, kompos dan pupuk kandang) Dalam kurun waktu satu tahun, rorak biasanya sudah penuh dengan bahan organik dan rata dengan permukaan tanah. Untuk melindungi tanaman kopi sekaligus mencegah terjadinya erosi pada areal pertanaman kopi dapat dilakukari dengan menanam pohon penaung. Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pohon penaung kopi sebagai berikut: Syarat-syarat pohon penaung, Pohon penaung harus memenuhi syarat sebagai berikut: a) memiliki perakaran yang dalam dan percabangan yanug mudah diatur; b) ukuran daun relative kecil dan tidak mudah rontok serta memberikan cahaya yang menyebar; c) termasuk leguminosa dan berumur panjang; d) menghasilkan banayk bahan organic; e) dapat adimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak; dan f) tidakmenjadi inang hama dan penyakit kopi. Penaung sementara Penaung sementara diperlukan untuk; a) melindungi lahan pertanaman kopi dari erosi; b) meningkatkan kesuburan tanah melalui tambahan organic asal tanaman penutup tanah sementara; c) menekan pertumbuhan gulma; d) tanaman penaung sementara yang dapat digunakan antara lain Crotalaria sp.dan Tephrosia sp; e) naungan sementara ditanam dalam barisan dengan jarak 2-4 m atau mengikuti kontur; dan f) tanaman penaung sementara ditanam minimal satu tahun sebelum penanaman kopi. Penaung tetap Penaung tetap mutlak diperlukan dalam budidaya kopi berkelanjuta, karena bila tanpa pohon penanung tetap akan menyebabkan percepatan degradasi lahan pertanaman. Umumnya pohon penaung yang digunakan adalah lamtoro (Leucaena sp) kelapa, dadap (Erythrina sp. dan sengon (Paraserianhes fakcataria). Di daerah dataran tinggi dapat ditanam jeruk. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Pedoman Teknis Budidaya Kopi Yang Baik (GAP on Coffee), Dihimpun dari beberapa sumber