Untuk meningkatkan mutu dan mencegah berlanjutnya penurunan hasil akibat hama atau penyakit jeruk, pengetahuan mengenai hama dan penyakit jeruk penting yang menyebar di wilayah Indonesia dan cara pengendaliannya perlu diketahui. Pengendalian hama dan penyakit yang direkomendasikan ini berdasarkan pada prinsip pengelolaan hama dan penyakit terpadu sehingga diharapkan produk yang dihasilkan aman bagi konsumen, produsen maupun lingkungan hidup. Jeruk merupakan salah satu jenis buah yang sangat populer sebagai sumber vitamin C, yang memiliki cita rasa, aroma dan kesegaran yang merupakan buah kegemaran keluarga. Jeruk dapat dikonsumsi dalam bentuk buah segar maupun olahan yang dibuat jus dan konsentrat. Umumnya di Indonesia, jeruk dikenal oleh masyarakat dalam kelompok Jeruk keprok, Jeruk Siem, Jeruk Manis, Jeruk Besar, dan Jeruk lainnya. Pada umumnya konsumsi buah jeruk per kapita per tahun yang masih rendah yaitu 1,2 kg/tahun (berdasarkaan data Susenas) maka kebutuhan jeruk masih perlu ditingkatkan. Peningkatan konsumsi jeruk oleh masyarakat ini, juga tergantung dari pasokan atau ketersediaan jeruk di masyarakat. Kerusakan yang ditimbulkan karena serangan Kutu loncat jeruk sangatlah merugikan petani jeruk, bahwa para petani jeruk banyak mengeluhkan kondisi jeruknya yangterserang berbagai hama dan penyakit. Gejala Serangan Kutu loncat jeruk menyerang kuncup, tunas, daun-daun muda dan tangkai daun. Serangannya menyebabkan tunas-tunas muda keriting dan pertumbuhannya terhambat. Pada kasus serangan parah, bagian tanaman terserang biasanya kering secara perlahan kemudian mati. Adanya kutu ini ditandai dengan benda berwarna putih transparan berbentuk spiral, menempel berserak di atas permukaan daun atau tunas. benda itu dikeluarkan oleh kutu loncat. Kutu loncat jeruk selama perkembangannya mempunyai tiga stadia hidup yaitu telur, nimfa dan dewasa. Siklus hidupnya mulai dari telur sampai dewasa antara 16-18 hari pada kondisi panas, sedang pada kondisi dingin kutu ini mampu bertahan hidup sampai 45 hari. Seekor dewasa betina mampu meletakkan telur sebanyak 500-800 butir selama masa hidupnya. Telur biasanya diletakkan secara tunggal atau berkelompok pada kuncup dan tunas-tunas muda. Serangga ini tidak mengalami diapause, sehingga dalam satu tahun mampu menghasilkan 9-10 generasi. Kutu loncat jeruk tertarik pada tunas-tunas muda sebagai tempat peletakan telur, sehingga pertunasan tanaman merupakan faktor penting dalam perkembangbiakannya. Pola pertunasan pada masing-masing daerah berbeda tergantung dari jumlah curah hujan dan pengairan. Periode pertunasan di Indonesia antara 2-5 kali dalam setahun. Penyebaran kutu loncat di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan. Pengendalian Serangga ini adalah hama dan penyebar (pembawa/vektor) penyakit CVPD. Perannya sebagai penyebar penyakit CVPD lebih penting dibanding sebagai hama. Kutu loncat dewasa muda yang hidup pada awal periode pertunasan sangat mudah menularkan bakteri penyebab CVPD pada tunas-tunas baru. Monitoring atau pengamatan diutamakan pada tunas-tunas muda. Bila terdapat populasi hama ini segera dikendalikan. Pengendalian sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Ambang kendali kutu loncat yang mengandung bakteri L. asiaticus 1 ekor. Berarti di daerah endemis CVPD, meskipun hanya ada 1 ekor kutu loncat harus sudah dikendalikan. Pengendalian secara kimiawi yang cukup berhasil untuk mengendalikan hama ini antara lain insektisida dengan bahan aktif Dimethoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin yang disemprotkan pada daun, Tiametoksam disiramkan melalui tanah dalam bentuk insektisida murni tanpa pengenceran dan Imidakloprid yang dioleskan (saput) pada batang. Saputan batang diaplikasikan pada ketinggian 10-20 cm di atas bidang sambungan/okulasi dengan lebar saputan kurang lebih sama dengan diameter batang. Pelaksanaan penyaputan batang harus diikuti dengan penyiraman dengan air untuk mempercepat distribusi insektisida ke seluruh jaringan tanaman. Pengendalian kutu loncat akan lebih tepat sasaran dan hemat insektisida, bila perilaku serangga pada tanaman dipahami dengan benar. Perkembangan serangga yang mengikuti pola pertunasan sangat dipengaruhi oleh lingkungan setempat dan perlu lebih dipahami berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan. Cara pengamatan dapat dilakukan melalui pencarian serangga secara langsung pada tunas muda (cara visual) atau dengan menggunakan alat perangkap kuning (yellow trapp) yang dipasang disekitar kebun jeruk. Untuk 1 ha kebun dipasang 10-14 buah perangkap dengan ketinggian ? tajuk tanaman. Pengendalian kutu loncat di wilayah pengembangan tanaman jeruk akan berhasil bila dilakukan secara serentak dan terus menerus oleh setiap anggota kelompok tani. Guna mencegah kemungkinan serangan hama dan penyakit maka perlu di lakukan penyemprotan 1 bulan sekali, ini semua tergantung pada serangan hama dan penyakit yang menyerangnya pada tanaman sirsak biasanya dengan menggunakan insektisida.Ditulis ulang oleh : Dalmadi BBP2TP BogorSumber : Balitbangtang dan Berbagai sumber media elektronik (Internet)Gambar : Balitbangtan Balitjestro