Loading...

Penentuan Umur Ternak Berdasarkan Rumusan Susunan Gigi

Penentuan Umur Ternak Berdasarkan Rumusan Susunan Gigi
Umumnya metode ini sudah dikenal pada masyarakat peternak di Indonesia. Istilah yang biasa digunakan adalah “poel”. Istilah ‘Poel” ini menunjukkan adanya pergantian gigi ternak, sehingga seberapa banyak tingkat pergantian gigi bisa menjadi dasar menduga umur ternak. Semakin banyak gigi yang “poel” maka umur ternak juga semakin tua. Gigi ternak mengalami erupsi dan keterasahan secara kontinyu. Pola erupsi gigi pada ternak memiliki karakteristik tertentu sehingga dapat digunakan untuk menduga umur ternak. Gerakan mengunyah makanan yang dilakukan ternak mengakibatkan terasahnya gigi (Heath dan Olusanya, 1988) Fase pertumbuhan gigi Pertumbuhan gigi ternak dibagi menjadi 3 fase yaitu : fase tumbuh gigi (gigi susu), fase pergantian gigi dan fase keausan gigi. a) Fase gigi susu :Terjadi pada ternak mulai lahir sampai dengan gigi seri bertukar dengan yang baru. b) Pergantian gigi : masa awal dari pergantian gigi sampai dengan selesai c) Keausan gigi : gigi sudah tidak berganti-ganti lagi, melainkan sedikit demi sedikit aus Masyarakat mengenal tiga macam gigi: gigi seri/incisors (S) atau gigi depan, gigi taring/canine (T) dan gigi geraham yang terbagi atas geraham berganti/premolar (GB) dan geraham tetap/premolar (GT). Sejalan dengan pertambahan umur sebagian dari gigi itu kemudian berganti dengan gigi lain yang sejenis. Oleh karena itu gigi dapat juga dibagi atas gigi yang berganti (gigi susu) dan gigi tetap (permanen/ titdak berganti lagi). Struktur gigi Dentine (tulang gigi) kondisinya lebih keras dan merupakan bagian yang terbesar dari keseluruhan gigi Glazuur (email) menutup dentine yang warnanya putih kehitaman sering juga kekuningan Cement (semen) merupakan penutup bagian garis gigi seri atau lapisan tipis pada permukaan gigi, pada hewan memamah biak dan anjing hanya terdapat pada akar gigi Pulpa merupakan bagian inti berwarna kemerahan penuh dengan darah dan urat syaraf Yang penting untuk diperhatikan dalam menentukan umur ternak adalah gigi serinya. Pada umumnya gigi itu terdiri atas: Akar gigi, yaitu bagian yang terletak di dalam lubang yang ada pada rahang atas dan rahang bawah Tajuk gigi, yaitu bagian gigi yang tersembul dari lubang ke luar dalam rongga mulut Leher gigi, batas antara tajuk dan akar gigi. Ada beberapa perbedaan antara gigi seri pemamah biak dan gigi seri kuda. Karakter gigi seri pemamah biak antara lain: Gigi seri yang baru tumbuh mula-mula hanya mempunyai dua bidang permukaan, yaitu bidang bibir (permukaan gigi yang menghadap ke bibir) dan bidang lidah (permukaan gigi yang menghadap ke lidah). Kedua bagian itu bertemu satu sama lain pada sebuah pinggir yang tajam seperti halnya pada gigi seri manusia. Sejalan dengan pertambahan umur, pinggiran yang tajam akan berubah menjadi sebuah bidang baru yaitu bidang perasahan, karena bergeser secara terus menerus dengan pinggir rahang yang tumpul (tidak ada gigi serinya) pada waktu memamah biak. Tajuk gigi, baik pada gigi susu maupun gigi tetap rupanya seperti pacul dan batas antara akar gigi dengan puncak gigi sangat jelas Gigi susu umumnya jauh lebih kecil dari gigi tetap. Karena gigi tetap besar dan lebar, maka gigi seri tetap itu kebanyakan lebih dikenal dengan sebutan gigi lebar. Jumlah gigi pada jenis ternak berbeda-beda. Untuk memudahkan dalam mengingatnya disusunlah “rumus gigi” untuk masing-masing jenis ternak yang hanya disusun setengah bagian saja, karena bagian kiri dan kanan adalah sama. Berdasarkan susunannya, maka gigi tersusun atas beberapa bagian seperti pada gambar. Penulis: Yusran A. Yahya (Penyuluh Pertanian Disnak, BPP Patimpeng) Sumber: Heath, E. dan S. Olusanya. 1988. Anatomi and Physiology of Tropical Livestock, Longmann Singapore Publishers Pte. Ltd. Singapore. http://www.suluhtani.com/2019/03/mengetahui-umur-bibit-pada-ternak-sapi.html di unduh 13 Juni 2019 https://www.ilmuternak.com/2015/02/cara-metode-menentukan-umur-pada-ternak.html di unduh 13 Juni 2019 Pradana, W.dkk, 2014. “Hubungan Umur, Bobot dan Karkas Sapi Bali Betina yang Dipotong Di Rumah Potong Hewan Temesi”. Indonesia Medicus Veterinus. Vol. 3 (1) : 37-42 Undang Santosa. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta