Subak Babakan Delodbrawah memiliki luas baku 103 Ha. Dikarenakan lokasi subak yang berada di bagian selatan, maka subak biasanya turun tanam menunggu giliran air dari subak Tegalgintungan. Hal ini dikarenakan jalur pengairan yang sudah dibagi dengan tujuh subak lainnya. Meskipun subak sudah diberikan bantuan Dam parit, namun masih belum mampu melaksanakan turun tanam secara bersamaan dari 3 arahan / tempek yang ada di subak . Pada musim tanam 2 subak mendapat kegiatan Pelaksanaan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) dari BPTPH yang di damping oleh penyuluh dan POPT yang mewilayahi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi pengetahuan dan mengubah membiasakan petani yang seringkali menggunakan pestisida tidak sesuai aturan. Petani lebih sering mencampur tanpa menggunakan dosis. Hal ini berakibat padi yang seringkali keracunan. Karena kurangnya pengetahuan, petani mengganggap keracunan pada padi tersebut disebabkan oleh serangan OPT yang tidak bisa dikendalikan. Dengan kegiatan PPHT ini petani diharapkan belajar gelaja serangan dan cara penanganannya. Kegiatan ini berlangsung semalama 1 MT yang terpusat pada arahan Babakan dengan luas arahan 38 ha, namun luasan lahan yang dijadikan lahan belajar seluas 25 ha yang dibagi menjadi 5 kelompok petani pengamat. Petani diajak melakukan pengamatan rutin setiap minggunya, mulai dari persemaian, olah tanah, hingga panen dengan melakukan pengubinan untuk mengatahui perkiraan berat gabah saat panen. Selama kegiatan berlangsung petani belajar membedakan antara OPT dan musuh alami yang dapat membantu petani mengatasi serangan OPT dengan populasi tertentu. Kegiatan PPHT juga mengajak petani bijak menggunakan pestisida dan berlahan mengajak petani menggunakan pestida nabati. Pestisida nabati yang digunakan saat kegiatan berlangsung adalah ekstrak lengkuas yang bermanfaat untuk mengantisipasi meluasnya serangan blas / penyakit yang disebabkan oleh jamur. Pada saat belajar, diberikan pemahaman bahwa pestisida nabati bersifat mencegah dan kurang efektif untuk mengobati. Selain melakukan pengamatan, petani diajak menggambarkan apa yang dilihat saat pengamatan; baik itu tinggi tanaman, warna daun, kondisi air, cuaca, musuh alami, dan keadaan gulma. Setelah menggambar, petani akan bercerita tentang gambar yang dibuatnya. Saat berceritalah sering kali muncul beberapa pertanyaan yang membuat kami saling bertukar informasi sehingga semua mendapat pengetahuan baru. Baik itu petani, Penyuluh, bahkan POPT. Ketika melaksakan pengubinan, kami mengambil 2 sample yaitu lahan dengan penerapan PPHT dan yang tidak dengan varietas yang berbeda pula. Adapun hasil ubinan sebagai berikut: Sample Luas Lahan (Ha) Varietas Populasi Jumlah Anakan Berat Ubinan (Kg) Produktivitas (Kw/Ha) PPHT 0,50 Inpari 32 100 24,1 4,4 66,95 Tanpa PPHT 0,42 Inpari 42 99 16,2 3,4 51,98 Dengan hasil ubinan tersebut diharapkan petani mau mencoba menerapkan Pengendalian Hama Terpadu dengan melakukan pemupukan berimbang. Penulis: Dewi Wulan Gentari, S.P. Penyuluh Pertanian