Loading...

PENGAIRAN BERSELANG TANAMAN PADI SAWAH

PENGAIRAN BERSELANG TANAMAN PADI SAWAH
Selama ini petani di Bali terutama di daerah Karangasem belum banyak yang menerapkan pengairan berselang. Petani menanam padi apabila jumlah air diperkirakan mencukupi untuk pengairan dalam satu musim tanam padi. Hal ini berakibat jumlah luas tanam padi tidak dapat bertambah karena biasanya petani akan mengairi secara penuh lahannya dari awal penanaman hingga menjelang panen. Jumlah air yang harusnya bisa digunakan untuk luasan yang lebih akan hanya cukup untuk mengairi kurang dari yang seharusnya. Hal ini berakibat dalam satu kelompok tani ( Subak ) yang menanam padi hanya sebagian walaupun sebenarnya debit air cukup untuk dapat menambah luas tanam padi. Petani beranggapan padi merupakan tanaman air yang perlu diari sepanjang waktu. Selain itu petani beranggapan dengan memberi air pada fase vegetative gulma akan dapat ditekan sehingga mengurangi tenaga kerja untuk mencabut gulma. Hal ini tentunya benar apabila dilihat dari sudut pandang biaya produksi. Tetapi bagi tanaman ini akan merugikan bagi tanaman karena tanaman tidak dapat memicu pertumbuhan anakan yang lebih banyak. Pengairan yang dilakukan terus-menerus akan membuat tanah menjadi masam sehingga penyerapan unsur hara dari tanah ke daun menjadi terganggu dan akar tidak dapat tumbuh ujungnya dan menjadi berwarna merah. Dengan metode pengairan berselang masalah tersebut dapat diatasi. Pengeringan dilahan dilakukan pada saat tanaman berumur 10 hari, atau setelah dilakukan pemupukan pertama. Untuk mempermudah pengeringan dibuat parit disekeliling petakan sawah, pada petakan yang terlalu luas dibuat parit pada bagian tengah pada lahan. Pengeringan dilakukan dengan selang waktu 5-6 hari. Setelah tanah mengalami retak,diberikan air kembali dan setelah beberapa hari kemudian dikeringkan. Pola perlakuan basah kering ini dilakukan hingga tanaman memasuki fase pembungaan, pada saat fase tersebut tanaman diberikan air secara terus-menerus. Untuk memudahkan kondisi air tanah dapat digunakan alat AWD yang dibenamkan kedalam tanah. Oleh. Erick Wisnu Wardhana