Loading...

Pengambilan Sampel Darah Ternak (Ayam & Itik) Di Kelompok Taruna Tani Muda Karya Kota Sungai Penuh

Pengambilan Sampel Darah Ternak (Ayam & Itik) Di Kelompok Taruna Tani Muda Karya Kota Sungai Penuh
Penyakit Avian Iinfluenza (AI) pada unggas yang disebabkan oleh virus AI H5N1 clade 2.1.3. telah berlangsung di Indonesia selama lebih dari 10 tahun. Pemerintah belum mampu membebaskan penyakit tersebut, walaupun kejadiannya terus menurun secara signifikan. Pada akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 wabah AI yang biasanya menyerang ayam, mulai menyebabkan banyak kematian pada itik. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya virus AI H5N1 clade 2.3.2. yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Memasuki pertengahan sampai menjelang akhir tahun 2013, kejadian penyakit AI terus menurun secara signifikan, namun meningkat kembali pada akhir tahun 2013 sampai Februari tahun 2014. Badan Litbang Pertanian telah melakukan serangkaian kegiatan penelitian AI pada unggas khususnya itik. Kegiatan ini dilakukan baik di laboratorium dan di lapang yang merepresentasikan wilayah wabah. Hasil terkini yang diperoleh adalah sebagai berikut : 1.Hasil kajian lapang : a.Kematian tertinggi terjadi pada itik muda (< 2 bulan) mencapai 90-100%, utamanya pada usaha itik pedaging (sistem intensif); b.Kematian itik dewasa relatif lebih rendah, namun produksi telur turun sampai 50%; c.Prevalensi AI berdasarkan uji serologi terjadi paling tinggi pada itik umur < 6 bulan (58%), terutama pada musim penghujan; d.Indeks biosekuriti pada umumnya sangat rendah, dan belum ada pembinaan dari Dinas terkait tentang hal ini sehingga sangat sulit dalam pengawasan serta pengendalian penyakit hewan; e.Peternak cenderung menjual itik yang sudah terinfeksi penyakit AI untuk meminimalkan kerugian; dan f.Faktor risiko yang dominan terhadap penyebaran wabah AI berturut-turut adalah: (i) adanya penjualan unggas hidup melalui pasar atau langsung antar peternak; (ii) adanya desa tetangga terkena wabah; dan (iii) pemasukan berbagai unggas pada waktu yang berbeda-beda. 2.Hasil kajian laboratorium : a.Vaksin isolat lokal komersial (virus AI H5N1 clade 2.1.3) kurang efektif dalam mengatasi infeksi AI H5N1 clade 2.3.2 pada itik. Vaksin ini dapat mencegah kematian, tetapi pelepasan (shedding) virus masih terdeteksi sampai dengan hari ke-7. FOHI (2004) mensyaratkan vaksin yang baik dapat memberikan proteksi minimal 90% dan shedding virus kurang dari 8 hari; b.Virus AI H5N1 clade 2.3.2 isolat Sukoharjo yang telah dikembangkan BBLitvet sebagai vaksin, dapat mencegah kematian itik dari infeksi virus AI H5N1 clade 2.3.2. dan shedding virus sudah tidak terdeteksi sejak hari ke-3 pasca infeksi; c.Virus AI H5N1 clade 2.1.3 tidak menyebabkan kematian pada itik. Namun, vaksinasi dengan AI H5N1 clade 2.3.2 dapat mencegah terjadinya shedding virus; d.Program vaksinasi itik yang dilakukan pada umur 7 hari dan diulang pada umur 21 hari dengan menggunakan vaksin AI H5N1 clade 2.3.2. dapat memberikan perlindungan 100% terhadap infeksi virus homolog; dan e.BBLitvet telah memperoleh isolat virus AI H5N1 clade 2.3.2. yang telah dikarakterisasi dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai seed vaksin. Saat ini sedang dilakukan tahap uji laboratorium vaksin bivalen menggunakan ayam spesific patogenic free (SPF) di kandang BSL3. 3.Dinamika virus AI H5N1 menunjukkan telah terjadi perubahan molekuler sebagian virus-virus tersebut di lapang, sehingga perangkat diagnosis menggunakan primer saat ini tidak dapat mendeteksi keberadaan virus tersebut. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan diagnosis karena dianggap tidak ditemukan virus AI H5N1. Berdasarkan hasil kajian tersebut diatas, beberapa opsi/alternatif rekomendasi pengendalian penyakit AI pada itik yang efektif meliputi : a.Program vaksinasi pada itik menggunakan vaksin homolog AI H5N1 clade 2.3.2; b.Mengingat kedua clade (2.1.3. dan 2.3.2.) sudah terdapat di Indonesia, maka perlu dikembangkan vaksin bivalen yang mengandung virus AI H5N1 dari kedua clade 2.1.3 dan 2.3.2.; c.Perlu adanya pengembangan primer baru yang sesuai dengan perubahan virus AI H5N1 yang bersirkulasi saat ini untuk memperoleh ketepatan diagnosis; d.Kebijakan dana kompensasi guna mengatasi penjualan itik yang terinfeksi AI H5N1; dan e.Pengawasan lalu lintas unggas hidup. (Petugas BVET BUKIT TINGGI Drh. Nirma Cahyanti, Syofina Latif, Amiruddin & Erizal serta didampingi oleh Petugas dari Dinas Peternakan Kota Sungai Penuh.) Sumber : http://bbalitvet.litbang.deptan.go.id Editing : Admin