PENDAHULUAN Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang kerap menimbulkan inflasi. Oleh karenanya, pemerintah memberikan khusus melalui berbagai program untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat sepanjang waktu agar tidak terjadi gejolak harga. Produksi bawang merah di Indonesia yang bersifat musiman menyebabkan kebutuhan bawang merah di luar musim panen tidak dapat dipenuhi sehingga untuk memenuhinya perlu dilakukan tindakan impor. Pemerintah melakukan impor bawang merah untuk menjaga ketersediaan bawang merah dalam negeri serta kestabilan harga pasar. Prospek perkembangan bawang merah Indonesia di kancah dunia cukup baik mengingat Indonesia merupakan salah satu negara eksportir bawang merah di dunia. Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2010-2014, Indonesia menempati urutan keempat setelah New Zealand, Perancis, dan Netherland, sementara di ASEAN Indonesia masuk di urutan pertama. Selama ini budidaya bawang merah diusahakan secara musiman (seasonal), yang pada umumnya dilakukan pada musim kemarau (April-Oktober), sehingga mengakibatkan produksi dan harganya berfluktuasi sepanjang tahun. Sayangnya, ketika petani ingin menanam bawang merah pada musim penghujan atau di luar musim memiliki berbagai hambatan. Misalnya, tingginya serangan penyakit serta drainase yang buruk. Untuk itu, diperlukan teknik budidaya tertentu agar dapat memperoleh hasil panen yang baik. Pada tulisan ini, akan dibahas upaya pengaturan produksi bawang merah dengan perlakuan kimia dan fisika. Pengaturan produksi bawang merah dengan perlakuan fisik Salah satu perlakuan fisik dalam budidaya bawang merah adalah dengan pemasangan mulsa. Penggunaan mulsa bertujuan untuk menekan pertumbuhan gulma, mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air dapat dikurangi sehingga temperatur dan kelembaban tanah relatif stabil. Penggunaan mulsa merupakan salah satu upaya memodifikasi kondisi lingkungan agar sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Sembiring, 2013). Hasil Penelitian Mahmudi dkk. (2017) menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak menghasilkan tanaman yang paling tinggi, jumlah daun dan jumlah umbi per rumpun yang paling banyak, serta berat segar umbi per rumpun dan berat umbi kering simpan per rumpun yang paling berat. Menurut Agoes (1994 dalam Mahmudi, 2017), penggunaan mulsa mampu mempertahankan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Sifat fisik tanah, yakni tetap gembur dan memiliki drainase yang baik. Secara kimia, unsur hara tanah tetap terjaga dari penguapan dan terjaga dari air hujan, serta secara biologi, mampu mempertahankan suhu tanah yang menyebabkan mikroorganisme tanah mampu beraktivitas mengurai unsur hara menjadi tersedia bagi tanaman. Mulsa plastik hitam perak membuat suhu tanah tetap hangat, sehingga pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran menjadi lebih optimum dan proses penguraian unsur hara oleh mikroorganisme juga menjadi lebih baik. Keadaan tersebut mendorong tanaman bawang merah membentuk sistem perakaran yang lebih baik, sehingga mampu menyerap unsur hara dan air dengan lebih optimum maka tanaman mampu melangsungkan proses fotosintesis secara optimum. Selanjutnya sebagian hasil fotosintesis digunakan untuk pembentukan daun. Hal ini sesuai yang dikemukakan Sembiring (2013) yaitu warna perak berfungsi untuk memantulkan cahaya matahari, sehingga cahaya yang diterima oleh daun lebih maksimal dan tanaman mampu melangsungkan proses fotosintesis secara optimum. Selanjutnya sebagian hasil fotosintesis digunakan untuk pembentukan daun. Pengaturan Produksi Bawang Merang dengan Perlakuan Kimia Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman adalah dengan penggunaan pupuk majemuk baik terdiri atas gabungan beberapa unsur makro saja, kombinasi makro-mikro, multi mikro, hara mikro dan hormon, maupun zat pengatur tumbuh telah banyak diaplikasikan. Metode aplikasinya juga beragam termasuk yang diberikan melalui daun. Menurut Ramli (2005), selain mudah aplikasi, pemberian bahan aktif pupuk langsung pada sel atau jaringan target tanpa memerlukan waktu yang lama seperti pemupukan secara konvensional melalui akar. Dwidjoseputro (1983 dalam Irfan, 2013) mengatakan bahwa di dalam tanah yang mengandung unsur hara serba cukup kecuali unsur kalium, maka penambahan unsur kalium sedikit demi sedikit menghasilkan produksi. Tanaman yang meningkat sebanding dengan tambahnya unsur kalium tersebut. Akan tetapi jika persediaan kalium yang tersedia sudah agak leluasa, maka penambahan kalium tidak akan meningkatkan produksi yang sebanding dan jika penambahan unsur kalium diberikan terus, penambahan itu tidak berarti lagi bahkan membahayakan tanaman. Produktivitas maksimum dapat dicapai dengan tidak usah memberikan suatu unsur hara tertentu secara berlebihan, sebab akan sia-sia. Walaupun tanaman mudah memperoleh bahan-bahan mentah dalam jumlah yang cukup serta kondisi lingkungan menguntungkan, namun tanaman masih memerlukan suatu mekanisme untuk pengaturan tumbuhnya yang disebut hormon yang dibutuhkan dalam jumlah kecil. Hormon atau zat tumbuh adalah zat kimia yang dibuat di bagian tanaman tertentu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Darmawan dan Baharsjah, 2010). Penggunaan stimulant Atonik dan Metalik diperoleh peningkatan hasil 2 ton/ha, sedangkan pada bawang merah mampu meningkatkan hasil 4 ton/ha (Wibowo, 2007). Penelitian Asandhi et al. (2005) pada tanaman yang tidak diberi bahan organik, penggunaan pupuk NPK kadar 375 kg/ha sudah meningkatkan bobot basah dan bobot kering bawang merah secara nyata. Sementara itu, Irfan, 2013 mengatakan bahwa pemberian pupuk N dan K sampai tanaman bawang merah berumur 43 HST memberikan pertumbuhan tanaman menjadi vigor sampai pada awal pembentukan umbi. Pada masa ini, bawang merah sudah mulai masuk masa pembentukan umbi. Lebih lanjut, dikatakan bahwa fase pembentukan umbi bawang merah terjadi pada umur 36-50 HST dan pertumbuhan bawang merah akan menjadi optimum mulai umur 35 HST diberikan hormon sampai umur 55 HST. Pemberian pupuk kalium dosis 200-300 kg/ha nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi per rumpun, dan berat umbi per rumpun serta berat umbi per hektar (Mariawan dkk. 2015) Hasil Penelitian Adnyana dan Rahayu (2016) juga melaporkan bahwa pemberian biochar, Trichoderma dan penggunaan pupuk kimia sebesar 50% dari rekomendasi pada sistem budidaya bawang merah dalam keadaan optimum dapat memperbesar diameter umbi, panjang umbi, tinggi tanaman, serta berat basah tanaman. Penggunaan pupuk kimia ½ dosis (Pupuk Dasar = kompos 5 t/ha +SP 36 150 kg/ha dan Biochar 1 t/ha dan pupuk susulan = ZA 125 Kg +NPK 125 kg + Urea=50 kg /ha) mampu meningkatkan hasil dari 13,19 t/ha menjadi 19,56 t/ha pada kondisi umbi kering ikat (pengeringan 1 minggu). Peggunaan kompos Tricho juga menurunkan serangan penyakit layu Fusarium, sehingga tingkat serangan penyakit layu sangat rendah yaitu 0,12% atau hanya ditemukan 36 rumpun per hektar. Tanaman yang terserang segera dicabut dan dibuang ditempat sampah (jauh dari pertanaman bawang merah). Biochar berperan sangat besar dalam memperbaiki sifat-sifat fisik dan kimia tanah, seperti meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air, meningkatkan karbon organik, mengurangi pelindihan nitrogen serta meningkatkan ketersediaan Ca dan Mg di dalam tanah (Kahru et al., 2011) Simpulan Budidaya bawang merah secara musiman pada musim kemarau (April-Oktober) kurang memberikan keuntungan maksimum pada petani. Namun, budidaya bawang merah off season dihadapkan pada berbagai kendala sehingga perlu pengaturan produksi khususnya teknis budidaya bawang merah dengan perlakuan fisika dan kimia. Perlakuan fisika yang dapat diterapkan pada bawang merah diantaranya adalah dengan pemasangan musla hitam perak, sedangkan perlakuan kimia dengan melakukan pemupukan dann pemberian hormon sesuai dengan kebutuhan tanaman bawang merah. Daftar Pustaka Adnyana IPCP dan Rahayu M.2016. Respon Bawang Merah (Allium cepa L) terhadap Biochar Sekam, Trichoderma Sp dan Aplikasi Pupuk Anorganik Dosis Rendah. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian. Banjarbaru, 20 Juli 2016. Asandhi, A. A., N. Nurtika, dan N. Sumarni. 2005. Optimasi Pupuk dalam Usaha Tani LEISA Bawang merah di Dataran Rendah. Jurnal Penelitian UNIB 15 (3):199 – 207. Darmawan, J. dan J.S. Baharsjah. 2010. Dasar-dasar Fisiologi Tanaman. SITC. Jakarta. Darwis V, Irawan B, Muslim C. 2004. Keragaan benih hortikultura di tingkat produsen dan konsumen (studi kasus: bawang merah, cabai merah, kubis, dan kentang). Socio-Economic of Agriculturre and Agribusiness 4(2): 1–18. Irfan,M. 2013. Respon Bawang Merah (Allium ascalonicum L) Terhadap Zat Pengatur Tumbuh Dan Unsur Hara. Jurnal Agroteknologi. 3(2):35-40. Kahru, K. T. Mattila, I. Bergstorm, K. Regina, 2011. Biochar addition to agricultural soil increase CH4 uptake and water holding capacity – result from a short time pilot fiels study. Agriculture, Ecosystem and Environment 140: 309-313. Mahmudi S, Rianto H, dan Historiawati. 2017. Pengaruh Mulsa Plastik Hitam Perak Dan Jarak Tanam Pada Hasil Bawang Merah (Allium cepa fa. ascalonicum, L.) Varietas Biru Lancor VIGOR: Jurnal Ilmu Pertanian Tropika dan Subtropika 2 (2) : 60 - 62 (2017) Mariawan IM, Madauna IS, dan Adrianton. 2015. Perbaikan Teknologi Produksi Benih Bawang Merah (Allium cepa L.) Melalui pengaturan jarak tanam dan Pemupukan kalium. e-J. Agrotekbis 3 (2) : 149 – 157. Mayrowani H dan Darwis V. 2010. Perspektif pemasaran bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di dalam: Suradisastra K, Simatupang P, Hutabarat B, editor. Prosiding Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing Agribisnis Berorientasi Kesejahteraan Petani; 2009 Okt 14; Bogor, Indonesia. Bogor: PSEKP. hlm 169-186. Ramli. 2005. Respon Fisiologis dan Agronomis Pupuk Cair pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill). J.Agroland 12 (4): 378–383. Sembiring, A. P. 2013. Pemanfaatan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dalam Budidaya Cabai (Capsicum annuL). http://www.scribd.com/ doc/82000378/Pemanfaatan-Mulsa-Plastik-Hitam-Perak-MPHP-Dalam-Budidaya-Cabai-Capsicum-annum-L. Diakses pada tanggal 14 juli 2014. Wibowo, S. 2007. Budidaya Bawang Merah, Bawang Merah dan Bawang Bombay. Seri Agribisnis. Penebar Swadaya, Jakarta. Rokhlani, S.P., M.P. Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal