Loading...

PENGAWALAN PENYULUH PENGIRIMAN BANTUAN BENIH PADI TAHAP PERTAMA AKIBAT PERUBAHAN IKLIM

PENGAWALAN PENYULUH PENGIRIMAN BANTUAN BENIH PADI TAHAP PERTAMA AKIBAT PERUBAHAN IKLIM
Berdasarkan data BMKG, pada periode awal musim hujan musim tanam pertama di akhir tahun 2020 diikuti dengan adanya fenomena La Nina yang mengakibatkan peningkatan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Wilayah-wilayah yang terdampak fenomena La Nina antara lain wilayah Jawa, salah satunya Kabupaten Kudus. Bertanam pada musim hujan walaupun kebutuhan air tercukupi namun petani akan banyak menemui kendala dan tantangan. Hal ini dikarenakan padi memang merupakan tanaman yang memerlukan air, tetapi bukan tanaman air. Sehingga air bagi pertanian harus dapat dikelola sesuai dengan tahap pertumbuhan tanaman. Di sisi lain, musim hujan juga seringkali menyusahkan para petani karena secara umum perkembangan OPT di musim hujan berlangsung lebih pesat dan mengakibatkan kerusakan tanaman lebih parah apalagi bila intensitas serangan dan populasi OPT di musim sebelumnya tinggi yang disebabkan salah satunya oleh anomali iklim. Efek atau fenomena La Nina diprediksi akan memberikan pengaruh lebih dibandingkan kondisi musim hujan yang biasanya. Dampak Perubahan Iklim (DPI) yang ekstrim dan curah hujan yang tinggi dalam kurun waktu beberapa hari terakhir mengakibatkan genangan air di areal persawahan dengan ketinggian air berkisar antara 50-100 cm di Kecamatan Undaan, seluas 1300 Ha tersebar di beberapa desa yang terdampak antara lain Desa Wonosoco, Berugenjang, Lambangan, Undaan Tengah, Undaan Lor, Larikrejo, Karangrowo, Ngemplak, dan Wates dengan kebutuhan benih sebanyak 32.500 kg. Genangan air yang cukup lama belum surut mengakibatkan banyak petani mengalami kerugian bahkan bisa terancam puso. Untuk potensi kerugiannya disesuaikan dengan usia tanaman, karena usia kurang dari 60 hari kerugian per hektarnya ditaksir mencapai Rp. 7.500.000,00 per hektar, sedangkan usia tanaman lebih dari 60 hari potensi kerugiannya bisa mencapai Rp 18.000.000,00 per hektar . Mendukung program Kementerian Pertanian untuk ansipasi dampak perubahan iklim akibat fenomena La Nina, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus yang dipimpin oleh Catur Sulistiyanto S.Sos, MM, berupaya meringankan para petani yang lahan pertaniannya terendam banjir dampak perubahan iklim (DPI). Setelah menyalurkan bantuan beras untuk keperluan pangan jangka pendek, kini melakukan pengiriman bantuan benih padi varietas inpari 32 dengan pengawalan oleh masing-masing PPL desa setempat agar menyakinkan bantuan tepat pada sasaran. Penyaluran bantuan benih padi ini dimulai tanggal 15 Februari 2021 pada wilayah Kudus bagian selatan. Diharapkan bisa digunakan pembibitan awal musim tanam kedua bulan Maret mendatang. Desa yang sudah diserahkan yakni Desa Wonosoco untuk seluas 216 hektar sebanyak 5.400 kg, Desa Lambangan diperuntukkan 82 hektar sebanyak 2.050 kg, Desa Berugenjang 35 hektar sebanyak 875 kilogram dan Desa Undaan Lor 100 hektar sebanyak 2.500 kg. Di sela-sela pengawalan pengiriman bantuan benih penyuluh pertanian menghimbau agar kelompok tani penerima melakukan koordinasi dengan pengurus untuk mendistribusikan benih kepada petani yang sawahnya terdampak banjir dan mendaftarkan diri sebagai peserta asuransi usaha tani padi (AUTP). Pentingnya asuransi pertanian berguna bagi perlindungan petani dalam usahatani padi apabila mengalami gagal panen seperti dampak perubahan iklim (banjir dan kekeringan) dan serangan organisme pengganggu tanaman (hama tikus, wereng, penggerek batang, dan penyakit blast). Apabila petani sudah terdaftar maka, dia akan merasa tenang dalam melakukan usahatani karena sudah terlindungi dengan asuransi pertanian. Penyuluh pertanian juga menghimbau agar petani melakukan proses perlakuan benih dengan benar sesuai anjuran dari petugas yaitu perlakuan benih dibuka pembungkusnya kemudian disuling dengan larutan air garam, benih yang terapung dibiarkan saja sebaiknya tidak digunakan. Tindakan ini diharapkan dapat menghasilkan benih padi yang bernas dan bermutu sehingga pertumbuhan padi diperoleh seragam. Kebiasaan petani dilapang biasanya pembungkus benih tidak dibuka hanya ditusuk dengan jarum sehingga hasil dilapang diperoleh pertumbuhan tanaman tidak seragam. Selain itu, label pada benih padi sebaiknya bisa disimpan jika nanti diperlukan untuk komplain karena daya tumbuh benih yang tidak sesuai pada label. (Ok Setyanto Setyawan) OK SETYANTO SETYAWAN, S.P. Penyuluh Pertanian Pertama BPP Kecamatan Undaan