Program pembangunan pertanian periode 2005-2009 peningkatan ketahanan pangan, pengembangan sistem dan usaha agribisnis, dan pemberdayaan masyarkat pertani. Salah satu sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatan produksi tanama pangan, hortikultura, berkebunan, dan perternakan (depertemen pertanian2004). dalam upaya meningkatankan produksi pertanian, teradapat beberapa kendala yang dihadapi, di antaranya serangan organismi pengganggu tanaman (OPT) termasuk nematoda parasit. Dalam penanggulanagan serangan OPT, seperti sebutkan dalam UU No. 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman, pp No. 887 tahun 1997 tentang perlindungan tanaman dilakasakan dengan menerapan sistem pengedalian hama terpadu (PHT), yaitu suatu cara pengendalian yang memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. dalam sistem PHT, pengendalian OPT dilakasakan dengan memadukan satu atau lebih teknik pengendalian yang kembangkan satu kesatuan. Mulai PHT bergai cara pengendalian yang kompatibel di lakasanakan dengan pertimbangan secara teknis dapat dilaksanakan.,secara ekonomi menguntungkan, secara sosial budaya diterima masyarakat, dan secara ekologi dapat dipertangunggu jawabkan. Nematoda merupakan salah satu jenis OPT penting menyerang berbagai jenis tanam pertanian utama di indonesia dan negara-negara tropis lainnya. Nematode adalah cacing halus yang hidup sebagai sapforit di dalam air dan tanah atau sebagai parasit pada tanaman dan hewan.nematoda yang hidup sebagai parasit pada tanaman memiliki stelet yang berfungsi mengisap sel-sel tanamn sehingga fungsi fisiologi tanaman terganggu . saat ini, nematoda parasit dilaporkan telah merusak berbagai tanaman pertanian siluruh dunia, baik di daerah tropis maupun subtropis. Kehilangan hasil akibat serangan nematoda diseluruh dunia mencapai US$80 miliar/tahun price2000). Meskipun demikian, di indonesia, kerusakan tanaman karena nematoda parasit kurang di sadari baik oleh petani maupun petugas yang berkerjadi bidang pertanian. Hal ini mungkin disebabkan gejala serangan nematoda sulit dimati secara visual karena ukurannya sangat kecil. Selain itu, sangat lambat dan tidak spesifik, mirip atau bercampur dengan gejala kekurangan hara dan air atau kerusakan akar dan pembuluh batang . gejala serangan hama atau penyakit lain yang lebih spesifik dan mudah dibedakan. Di indonesia, nematoda parasit diloporkan terdapat pada berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan hortikultura maupun perkebunan (puskara1994,2000). Selama kurun waktu 50 tahun terakhir, pengedalian nematoda dengan menggunakan nematisida kimia (sintetis)masih memegang peran yang sangat penting. Hal ini karena cara-cara pengendalian lain belum mampu membersikan hasil yang memuaskan. Namun, cara pengendalian nematoda dengan menggunakan nematisida kimiawi dapat menimbulkan dampak negatif karena beracun bagi manusia dan hewan peliharaan, mencemari air dan tanah, serta membunuh organisme bukan sasaran, termasuk musuh alami nematoda serti jamur dan bakteri. Sebagai bagian yang cukup penting dalam pengembangan PHT., pengendalian nematoda harus dilaksanakan berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, startegi pengendalian nematoda harus didasarkan pada konsep pengendalian yang tepat perdasakan pertimbangan kelayakan teknologi, ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Dalam tulisan ini, diuraikan masalah nematoda parasit pada beberapa tanaman pertnian di indonesia setatus pengendaliansaat ini, serta konsep startegi pengandaliannya di masa Peran nematoda parasit tanaman penurunan produkisi pertanian di indonesia masih belum disadari, baik oleh para pembuatan kebijakan maupan petani, padahal, serangan nematoda dapat menyebabkan kehilangan hasil yang cukup berati, secara umum, serangan nematoda menyebabkan kerusakan pada akar karena nematoda mengisap sel-sel akar. Akibatnya, pembuluh jaringan terganggu sehingga translokal air dan hara terhambat serangan nematoda juga dapat memengaruhi proses fotositensis dan transpirasi (Evans 1982; melakebrahan et al. 1987) sehinga pertumbuhan tanaman terhambat, daun menguning seperti kekurangan hara, dan mudah layu. Karena pertumbuhan terhambat, produktivitas tanaman menurun. Hasil pendugaan arti ekonomi penyakit yang disebabkan oleh nematoda yang dilakukan oleh FAO memberikan gambaran umum mengenai kerugian ekonomi yang disebabkan oleh nemetoda. Menurut sansser (1989). Kerugian ekonomi akibat nematoda mencapai lebih dari US$77 miliar. Kerugian terbesar terjadi pada padi dan tebu yaitu masing-masing US$16 miliar, dan kerugian terkecil kepada pisang yaitu US$178 juta. Selanjutny price (200) mengemukakan bahwa kerugian akibat nematoda diseluruh dunia mencapai US$80 miliar kerugian ekonomi akibat serangan nematoda pada tanaman pertanian di indonesia belum dapat diperkirakan, meningkatan data kerusakan yang ada masih bersifat persial, hanya berdasarkan hasil penelitian di rumah kaca dan lapangan dalam luasan yang sangat terbatas. Masalah nematoda di indonesia baru mendapat perhatian setelah ditemukannya Globodera rostochiensis (golden cyst nematoda) atau namatoda sista kuning (NSK) di dusun sumber brantas. Desa Tulang Rejo, kecamatan bumi haji, kota batu, jawa timur pada bulan maret 2003. Sebenarnya, keperadaan nematoda tersebut telah dicurigai sejak tahun 1989. Pada waktu itu, dilaporkan adanya sesta nematoda pada bibit kentang berasal dari belanda. Namun, hasil identifikasi menujukkan bahwa sista yang ditemukan tersebut dalam kosong. Lavra yang berda di dalam sista telah mati sehingga sulit diindentifikasi. Karna itu, bebet kentang tersebut dinyatakan bebas NKS. Sekitar 14 tahun kemudian, yaitu tahun 2003 prahara itu pun terjadi. NKS sudah ditemukan menyebar di tiga provinsi (jawa barat, jawa timur , dan sumatra utara), dan menyebabakan kehilangan hasil kentang 32-71%(daryantio2003). Kehilanga hasil akibat serangan nematoda dapat terjadi dilapangan maupun di tempat penyimpanan sehingga mengurangi kualitas dan kuantitas produk. Hasoeganda (1991) melaporkan. Serangan nematoda dapat menurunkan produksi sayuran sebesar 27% pada buncis. Pada lada, serangan nematoda dapat menimbulkan kerusakan sekitar 32% (setepu dan mustika 2000). Pada nilam 45% (mustika dan nazarudin 1999). Dan pada jahe dapat menurunkan produksi65% (mustika 1995). Pada tanaman kopi, selama tahun 1981-1986. Serangan nematoda pratylenchus coffea menyebabakan kehilangan hasil rata-rata 56, 84% atau 150 ton kopi/tahun wiryadiputra 1992). Kerugian tersebut deperkirakan akan meningkat mengingat beberapa faktor, seperti iklimtropis yang basah dan panas, jenis tanah, frekuensi penanaman sepanjang tahun, dan budidaya tanaman yang kurang intensef. Selain menggurangi kuantitas, serangan nematoda juga dapat menurunkan kualitas produk. Sebagai contoh, pada tahun 1992 ekspor jahe segar indonesia ke jepang mengalami menolakan karena terkontaminasi nematoda Radophulus similis. Serangan nematoda tersebut menyebabakan rimpang busuk sehinga menimbulkan kerugian bagi petani maupun negara sekitar US$6.8 juta (puskara 1994). Selain itu, ditemukan NSK di indonesia pada tahun 2003 (daryanto 2003) tidak hanyan mengancam produksi kentang, tetapi juga menghambat ekspor kentang kenegara- negara bebas nematoda. Hal ini merupakan ancaman kerugian sangat mahal. Menurut rumusan sementara lokakarya NKS yang diselenggarakan diyogjakarta pada desember 2003, diperkirakan kerusakan tersebut secara ekonomi nilai tercapai Rp 2 trliun. Kerugian yang lain disebabkan oleh nematoda adalah tidak dapat dimamfaatkannya unsur hara yang diberikan kepada tanaman yang serang nematoda sistem perakarannya rusuk hingga tanaman tidak mampu menyerap hara dan air meskipun keduannya tersedai cukup di dalam tanah. Menurut wallace (1987). Kerusakan akar karena nematoda menyebabkan pasokan air ke daun perkurangnya sehingga stamota menutup selanjutnya laju fotosintensis menurun. (Ibrahim Saragih) Sumber :- Abdurachaman Adimihardja dkk, Pengembangan Inovasi Pertanian, 2010, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertania, Bogor