Loading...

PENGELOLAAN LAHAN KERING MASAM UNTUK BUDIDAYA KEDELAI

PENGELOLAAN LAHAN KERING MASAM UNTUK BUDIDAYA KEDELAI
Tanaman kedelai idealnya akan tumbuh optimal pada lahan subur, kaya bahan organic, memiliki derajat keasaman antara 6-7 serta cukup tersedia air. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah semakin berkurangnya lahan potensi pangan akibat alih fungsi lahan baik untuk komoditas non pangan maupun untuk pemukiman ataupun bangunan. Upaya peningkatan produksi kedelai, dilakukan salah satunya adalah melalui peningkatan luas tanam dan luas panen dengan memanfaatkan lahan tegalan yang cenderung mempunyai sifat kering dan masam. Kendala pengembangan kedelai di lahan kering masam pada umumnya adalah derajat keasaman tanah (pH) rendah, keracunan Al, Mn, kekurangan hara N, P, K, Ca, Mg serta miskin mikro organism menguntungkan seperti rhizobium dan mikoriza (BPTP Lampung, 2016). Kecamatan Rimbo Bujang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Tebo, yang secara umum memiliki lahan dengan karateristik kering dan masam, namun demikian memiliki potensi untuk pengembangan kedelai, baik di lahan replanting karet maupun lahan-lahan yang diusahakan khusus tanaman pangan oleh petani. Untuk itu dalam pengelolaannya perlu penanganan khusus rekayasa lahan agar sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan optimal tanaman kedelai. Upaya rekayasa lahan yang dilakukan salah satu petani kedelai di Rimbo bujang dalam kegiatan penyiapan lahan kedelai sebagai berikut :1. Pembersihan lahan? Bersihkan lahan dari sisa tanaman / kayu? Pada lahan semak, semprot denganherbisida. 2. Pengolahan tanah (olah tanah sempurna)? Dilakukan 2 kali pembajakan / pencangkulan? Pembajakan pertama berupa bajak singkal, dimana tanah masih berupa bongkahan-bongkahan besar, biarkan terangin-angin selama 5-7 hari? Pembajakan kedua, bajak rotary, yaitu memperkecil/ memperhalus ukuran dan meratakan tanah.? Buat saluran drainase setiap 4 meter sedalam 20-25 cm sepanjang petakkan dengan lebar satu cangkulan untuk penanaman di musim hujan dengan curah hujan tinggi.? Saluran drainase dibuat setelah pengapuran dan pemupukan dasar pupuk kandang di aplikasikan. 3. Pengapuran tanah? Bertujuan menurunkan derajat keasaman tanah, dimana untuk wilayah Rimbo Bujang secara umum (pH) tanah berkisar kurang dari atau sama dengan 5 (Programa BPP Rimbo Bujang, 2017), sehingga dengan pengapuran diharapkan angka pH mendekati netral (6-7).? Kapur yang digunakan adalah dolomite, diberikan sebanyak 1 ton / ha.? Dolomite disebar rata bersamaan dengan pengolahan tanah kedua atau paling lambat 2-7 hari sebelum tanam. 4. Pemupukan dasaR.? Pupuk organik (pupuk kandang) : bersamaan dengan pengolahan tanah kedua.Dosis : 1.5 ton / ha, disebar merata ke lahan lalu diratakan Rotari / garu.? Pupuk An Organik ( NPK Phonska) : sehari sebelum tanam.Dosis : 200 kg / ha, disebar merata di lahan.5. Lahan siap di Tanami. Dari hasil pengamatan setelah penanaman, proses penyiapan / pengolahan lahan memberi dampak pada pertumbuhan tanaman , terlihat dari pertumbuhan yang seragam dan sehat. Kondisi tersebut dikarenakan pada fase tumbuh benih lahan cukup unsur hara, tekstur lebih gembur dan keasaman tanah relative stabil /netral. ( Ditulis oleh : Sudarsih, S.Pt / THL – TBPP Kabupaten Tebo )