Loading...

Pengelolaan Limbah Peternakan Untuk Tanaman Pangan

Pengelolaan Limbah Peternakan Untuk Tanaman Pangan
Pesatnya pembangunan pertanian dalam rangka pengembangan agribisnis dan agroindustri yang berkesinambungan telah mendorong pertumbuhan sektor pertanian tetap terjadi peningkatan. Begitu pula halnya yang terjadi pada subsektor peternakan, peternakan Indonesia masih tetap eksis bahkan menunjukkan peningkatan.Peningkatan produksi yang didorong untuk memenuhi permintaan dalam maupun luar negeri memang memberikan keuntungan dan sangat diharapkan. Namun disisi lain, peningkatan produksi ternak secara tidak langsung tersebut juga menimbulkan ekses (dampak) negatif. Diantaranya adalah limbah yang dihasilkan dari ternak itu sendiri. Disadari atau tidak, limbah peternakan ini selain mengganggu lingkungan sekitar, juga dapat menimbulkan bibit penyakit bagi manusia. Saat ini masyarakat masih kurang menyadari akan pentingnya upaya pengelolaan limbah peternakan yang dihasilkan sehingga terkesan tidak mau tahu. Kalaupun ada pihak yang berupaya menanganinya akan menjadi kurang efektif karena tidak mendapat dukungan dari pihak lain. Melihat kenyataan seperti itu timbullah suatu pertanyaan, bagaimana caranya mengelola limbah ternak agar selain tidak merusak lingkungan juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor lain.. Limbah peternakan yang dihasilkan ada yang berupa kotoran (pupuk kandang) ada pula yang berupa sisa-sisa makanan. Setiap usaha peternakan baik itu berupa sapi, itik, ayam, kambing, kuda, maupun babi akan menghasilkan kotoran. Namun jangan salah, kotoran yang dihasilkan ternak tersebut ternyata memiliki kandungan unsur hara yang tinggi sehingga tidak salah bila para petani menggunakannya sebagai pupuk dasar.Kotoran yang dihasilkan ternak itu ada dua macam yaitu pupuk kandang segar dan pupuk kandang yang telah membusuk. Pupuk kandang segar merupakan kotoran yang dikeluarkan hewan ternak sebagai sisa proses makanan yang disertai urine dan sisa-sisa makanan lainnya. Sedangkan pupuk kandang yang telah membusuk adalah pupuk kandang yang telah disimpan lama sehingga telah mengalami proses pembusukan atau penguraian oleh jasad renik (mikroorganisme) yang ada dalam permukaan tanah. Usaha peternakan terintegrasi dengan usaha pertanian seperti tanaman pangan, akan lebih menguntungkan, karena pemakaian pupuk organik akan menaikkan kesuburan tanah dan mengurangi pemakaian pupuk anorganik sehingga dapat menekan biaya produksi, menaikkan produksi tanaman. Beberapa penelitian pemanfaatan pupuk organik dari limbah kandang ternak untuk meningkatkan produksi tanaman di lahan pasir pantai telah menunjukkan adanya peningkatan produktivitas lahan dan perbaikan lingkungan. Usaha pemanfaatan limbah kandang ternak untuk tanaman dan pemanfaatan sisa tanaman untuk pakan tersebut merupakan rangkaian daur ulang dalam sistem usahatani terpadu yang dapat menerapkan metode low external input sustainable agriculture (LEISA) untuk meminimalkan biaya produksi.Keberadaan ternak dinilai cukup strategis dan masih perlu mendapat perhatian dalam mendukung pengembangan usahatani Tanaman Pangan. Pengelolaan usahatani terpadu antara usahatani tanaman Pangan dengan ternak perlu diawali dengan menekan semaksimal mungkin output dari luar, dalam upaya efisiensi usahatani. Pemanfaatan limbah kandang ternak untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman pangan diharapkan mampu meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan produksi tanaman baik secara kuantitas maupun kualitas.Jangan sampai penggunaan limbah kandang ternak dengan cara yang salah, dapat mengganggu lingkungan seperti meningkatnya populasi lalat dan bau kotoran ternak yang menyengat. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan. Teknologi pengomposan nampaknya merupakan alternatif yang tepat untuk mengatasi kendala ini, sehingga bisa penggunaan probiotik dalam pengolahan limbah kandang ternak sebelum digunakan sebagai pupuk organik. pengomposan pada hakekatnya adalah menumpukkan bahan-bahan organik dan membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah sebelum digunakan sebagai pupuk. Keuntungan yang diperoleh dari cara ini yaitu a. mengurangi resiko pencemaran lingkungan karena dengan pengomposan dapat menghilangkan atau meminimasi bau yang ditimbulkan oleh limbah organik, b. pengurangan dalam penggunaan pupuk kimia, c. mempertahankan kesuburan tanah secara alami dan berkelanjutan. selama proses pengomposan berjalan suhunya akan lebih dari 70oC. Pada temperatur ini akan dapat membunuh mikrobia-mikrobia patogen, penyakit cacing dan telurnya serta menghilangkan bau busuk dari kompos tersebut. d. Kompos merupakan bahan yang kaya dengan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman antara lain nitrogen, pospor, kalium dan mengandung mineral lain yang dibutuhkan oleh tanaman (trace element). Kompos sangat baik dipergunakan pada daerah tropis, karena tanah tropis pada umumnya rusak oleh sinar matahari yang kuat. Dengan penambahan kompos akan dapat menahan sinar matahari tersebut, menyebabkan tanah tetap lembab, tahan terhadap air (erosi) dan menutup akar tanaman. Apabila kompos dimanfaatkan sebagai pupuk, maka akan menguntungkan dan meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman Pangan.Penelitian yang telah dilaksanakan untuk mempelajari manfaat pengomposan limbah kandang ternak (itik, ayam potong, dan sapi), menunjukkan bahwa apabila limbah kandang dikomposkan dengan bantuan probiotik akan memperoleh pupuk organik yang berkualitas baik, dan tidak berbau. Pengomposan dengan metode tersebut bahkan mampu menekan populasi lalat dan mematikan mikrobia pathogen. Pengolahan limbah kandang itik dilakukan dengan bantuan dekomposer bahan organik pRiMaDec C-15? sesuai metode Musofie (2004). Setiap 1000 kg limbah kandang itik difermentasikan dengan pRiMaDec C-15? dan urea, masing-masing dengan takaran: 2 - 4 kg. Fermentasi dilaksanakan selama empat minggu, setiap minggu diaduk untuk mengatur sirkulasi udara dan kadar air tumpukan. Parameter yang diamati selama proses dekomposisi meliputi temperatur dalam tumpukan dan kualitas kompos/pupuk organik yang dihasilkan.Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber:1. Musofie, A. 2004. Pembuatan Pupuk Organik dengan Limbah Kandang Ternak. Dinas Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.2. Musofie, A., N. K. Wardhani, dan E. Winarti. 2005. Pemanfaatan limbah kandang itik sebagai pupuk tanaman cabe merah di lahan pantai. Proc. Lokakarya Unggas Air II. Puslitbang Peternakan. Bogor.3. Beberapa sumber