Padi lahan kering atau padi gogo dapat dibudidayakan di dataran rendah sampai dataran tinggi. Selain itu Padi lahan kering dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, sehingga jenis tanah tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi lahan kering. Sedangkan yang lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil adalah sifat fisik, kimia dan biologi tanah atau dengan kata lain kesuburannya. Untuk pertumbuhan tanaman yang baik diperlukan keseimbangan perbandingan penyusun tanah yaitu 45% bagian mineral, 5% bahan organik, 25% bagian air, dan 25% bagian udara, pada lapisan tanah setebal 0 – 30 cm.Yang harus diperhatikan dalam budidaya padi lahan kering melalui pengelolaan tanaman terpadu adalah:1) Penggunaan benih. Pemilihan benih merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya padi lahan kering, sebab benih yang baik akan mempengaruhi produktivitas tanaman. Syarat benih yang baik adalah (a) tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah, dan hama gudang; (b) warna gabah sesuai aslinya dan cerah; (c) bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya dan (d) Daya perkecambahan mencapai 80 %. Varietas benih unggul untuk padi lahan kering diantaranya adalah: Batu Tegi, Limboto, Situ Patenggang, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 7, Inpago 8, Inpago 9. Untuk dataran tinggi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian telah mengembangkan varietas unggul baru padi lahan kering yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi hingga ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut, yaitu varietas Luhur 1 dan Luhur 22) Persiapan lahan. Pengolahan lahan untuk pertanaman padi lahan kering dimulai sebelum atau menjelang musim penghujan. Pengolahan lahan dilakukan sesuai kondisi lahan, untuk mempercepat pengolahan lahan dapat menggunakan traktor roda-2. Pada prinsipnya pengolahan tanah dilakukan untuk menciptakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman, yaitu menciptakan keseimbangan antara padatan, aerasi dan kelembaban tanah. Ada lahan yang perlu pengolahan tanah sedikit (minimum tillage) atau bahkan tidak perlu pengolahan tanah (zerro tillage) seperti tanah podzolik merah Kuning di Sumatra yang memiliki tingkat kemiringan >10%. Dalam budidaya tanpa olah tanah untuk mengendalikan gulma digunakan herbisida. 3) Waktu Tanam. Penaman yang baik dilakukan setelah terdapat 1 – 2 kali hujan, awal musim penghujan (Oktober – Nopember). Bahkan ada petani yang telah menebar benih pagi lahan kering sebelum hujan turun atau yang lebih dikenal dengan sistem Sawur tinggal. Sistem tanam sawur tinggal dapat dianjurkan pada daerah-daerah yang memiliki curah hujan sedikit (bulan basah antara 3 – 4 bulan) per tahun dan sulit mendapatkan tenaga kerja.4) Penanaman. Penanaman padi gogo pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga macam cara yaitu cara tanam sebar, tanam alur dan tanam tugal.(a) Tanam Sebar dengan cara menyebar benih padi rata di atas permukaan tanah atau lahan yang telah dipersiapkan dengan kebutuhan benih berkisar 60 – 70 kg/ha. Cara tanam ini mempunyai keuntungan tenaga kerja tanam yang dibutuhkan sedikit, namun kelemahannya adalah memerlukan benih lebih banyak, resiko benih dimakan hama lebih tinggi dan lebih sulit dalam perawatan, termasuk pengendalian gulma dan hama. Guna mengendalikan gulma sebaiknya mengaplikasikan herbisida pra tumbuh sebelum sebar benih serta penggunaan seed treatment untuk menanggulangi hama.(b) Tanam Alur. Lahan yang telah dipersiapkan dibuat alur-alur sedalam 3 – 4 cm, dengan jarak antar alur 20 – 25 cm. Kemudian dalam alur tersebut disebarkan benih padi secara iciran, setelah itu benih dalam alur ditutup kembali dengan tanah. Kebutuhan benih cara tanam alur ini berkisar antara 40 – 50 kg/ha. pada tanam alur juga dapat menggunakan sistem tanam Legowo. Benih ditanam dengan alat drum seeder padi lahan kering Legowo 2:1 (25 cm x 12,5 cm) x 50 cm; jumlah benih berkisar 40 kg/ha(c) Tanam Tugal. Pada umumnya untuk pertanaman padi gogo menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm. Setelah lubang bekas tugal terbentuk kemudian 2 – 3 butir benih dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan selanjutnya ditutup kembali dengan tanah. Sebaiknya sebelum ditanam benih direndam sekitar 6 – 12 jam, kemudian dikeringanginkan sekitar 6 – 12 jam. Pada cara tanam dengan tugal ini kebutuhan benihnya ± 30 kg/ha. Jarak tanam atau jarak antar larik dan jumlah benih/lubang/ha sangat tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan kualitas benih yang ditanam. Semakin subur tanah, jarak tanam dapat semakin rapat. Demikian pula, semakin baik kualitas benih, maka semakin sedikit jumlah benih yang diperlukan. Jarak tanam, jumlah benih dan cara tanam dapat berpengaruh terhadap hasil padi gogo di lahan kering5) Pemeliharaan. Dilakukan secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu tanaman berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai. Penyiangan pada padi lahan kering sistem barisan/legowo dilakukan antar barisan 15-20 HST secara manual atau menggunakan gasrok atau power weeder jika tersedia, atau menggunakan herbisida selektif pascatumbuh, bispyribac sodium, diaplikasikan sekitar 14 hari setelah tanaman tumbuh dengan takaran sesuai anjuran. 6) Pemupukan. Pupuk yang digunakan sebaiknya dikombinasikan antara pupuk organik dan pupuk anorganik. Dosis pupuk pada pertanaman padi lahan kering harus disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanahnya. Jenis pupuk anorganik yang diberikan berupa 150-200 kg/ha Urea, 75 kg/ha SP36 dan 50 kg/ha KCl. Pupuk SP36 dan KCl diberikan saat tanam dan urea pada 3-4 minggu dan 8 minggu setelah tanam. Pupuk urea, SP36 maupun KCl sebaiknya diberikan dalam alur atau ditugal kemudian ditutup kembali dengan tanah untuk mencegah kehilangan unsurnya.7) Pengendalian Hama/Penyakit. Penyakit utama pada padi lahan kering adalah blas daun dan blas leher. Pemupukan nitrogen dalam takaran tinggi dan cuaca lembap, terutama musim hujan, menguntungkan bagi terjadinya infeksi. Untuk pengendalian secara kimiawi, gunakan fungisida (bila diperlukan) yang berbahan aktif metil triofanat atau fosfiden dan kasugamisin.8) Panen. Panen dilakukan saat 80-90% gabah telah masak atau telah bewarna kuning keemasan, bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau dan kadar air gabah 21-26 %. Panen dapat menggunakan power threaser atau mini-combine harvester. Pengeringan dapat menggunakan lantai jemur atau di atas terpal/plastic atau menggunakan mesin pengering jika tersedia. Pengeringan padi sampai batas kadar air aman untuk digiling, yaitu 14%, sedangkan untuk disimpan/benih penyimpanan dilakukan dengan kadar air 12%. Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan)Sumber:Ditjen Tanaman Pangan. 2018. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Budidaya Padi 2018. Jakarta.BB Padi, Kementerian Pertanian. 2018. Padi Lahan Kering Dataran Tinggi. Jakarta.Perdana,A.S. Budidaya Padi Gogo. http ://sawitwatch. or.id/ download /manual %20 dan % 20 modul /148_budi % 20 daya % 20 padi % 20 gogo % 201.pdf.